Beranda blog

Langkah Cepat Polda Jateng Ungkap Kasus Sabu, Kurir dan Rekan Ditangkap di Sejumlah Titik Karanganyar

0

Polda Jateng- Kota Semarang|Polda Jateng berhasil mengungkap tindak pidana peredaran narkotika jenis sabu dengan total berat bruto 10,84 gram di wilayah Kabupaten Karanganyar hingga Kota Surakarta. Pengungkapan kasus ini berawal dari informasi masyarakat terkait adanya aktivitas peredaran sabu di wilayah Kecamatan Jaten, Kabupaten Karanganyar.

Menindaklanjuti informasi tersebut, tim Ditresnarkoba melakukan serangkaian penyelidikan hingga berhasil mengidentifikasi ciri-ciri pelaku.

Direktur Reserse Narkoba Polda Jateng, Yos Guntur mengatakan bahwa, Pada Minggu, 19 April 2026 sekitar pukul 02.00 WIB, petugas berhasil mengamankan dua orang tersangka, yakni MIS (33), warga Kecamatan Karangmalang, Kabupaten Sragen, yang berperan sebagai kurir, serta ARS (25), warga Kecamatan Gondang, Kabupaten Sragen, yang turut serta dalam peredaran tersebut. Keduanya diamankan saat berada di depan sebuah toko kelontong di Jalan Solo–Tawangmangu, wilayah Dagen, Kecamatan Jaten, Kabupaten Karanganyar.

” Dari hasil penggeledahan awal, petugas menemukan 1 paket sabu di saku celana tersangka serta 7 paket lainnya di dalam tas selempang yang dibawa oleh tersangka MIS. Selanjutnya, berdasarkan keterangan tersangka, petugas melakukan pengembangan dan menemukan 7 paket sabu lainnya yang telah disimpan di beberapa titik berbeda ” ungkap Dir Narkoba, Minggu (19/4)

Dir Narkoba menjelaskan bahwa lokasi temuan tambahan tersebut antara lain di SPBU daerah Palur, sekitaran ATM, sekitaran warung, sekitaran Minimarket di daerah Pucangsawit Surakarta, serta area sekitar Palur Plaza. Modus ini digunakan untuk menghindari deteksi langsung saat transaksi berlangsung.

Dari tangan tersangka, petugas berhasil mengamankan barang bukti berupa 15 paket sabu dengan berat bruto total 10,84 gram, satu unit timbangan digital, plastik klip, sedotan, satu unit sepeda motor, serta handphone yang digunakan untuk komunikasi transaksi.

” Berdasarkan hasil interogasi, kedua tersangka mengaku memperoleh barang tersebut dari seseorang berinisial GRR (DPO), yang mengarahkan pengambilan dan pendistribusian sabu dengan sistem pecah paket ” tambah Dir Narkoba

Menurut pengakuan Para tersangka, baru dua kali menjalankan aktivitas tersebut dengan imbalan sebesar Rp.250.000 serta fasilitas penggunaan narkotika secara Gratis.

Selanjutnya, kedua tersangka beserta barang bukti diamankan di Mapolda Jawa Tengah guna proses penyidikan lebih lanjut serta pengembangan jaringan peredaran narkotika yang lebih luas dan terhadap kedua tersangka di jerat dengan Primer Pasal 114 ayat (2) Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 35 Tahun 2009 tentang Narkotika jo. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 1 Tahun 2023 tentang KUHP jo. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 1 Tahun 2026 tentang Penyesuaian Pidana Subsider Pasal 609 Ayat (2) huruf a Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 1 Tahun 2023 tentang KUHP jo. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 1 Tahun 2026 tentang Penyesuaian Pidana dengan ancaman Pidana mati atau penjara seumur hidup, atau penjara maksimal 20 tahun dengan denda maksimal ± Rp2,6 miliar.

Direktur Reserse Narkoba Polda Jateng, Yos Guntur, menegaskan bahwa pengungkapan ini merupakan bagian dari upaya berkelanjutan dalam memberantas peredaran narkotika di wilayah Jawa Tengah.

“Modus yang digunakan pelaku dengan sistem tempel di sejumlah lokasi, hal ini menunjukkan adanya pola jaringan yang terorganisir. Kami akan terus mengembangkan kasus ini untuk mengungkap pelaku utama yang saat ini masih dalam pencarian,” tegasnya.

Ia juga menekankan pentingnya peran aktif masyarakat dalam memberikan informasi guna memutus mata rantai peredaran narkotika.

“Kami mengajak seluruh elemen masyarakat untuk bersama-sama memerangi narkotika. Setiap informasi sekecil apapun sangat berarti dalam upaya menciptakan lingkungan yang aman dan bebas dari narkoba,” pungkasnya.

Red”

Hak Universal Warga Negara Mendapat Persamaan di Mata Hukum

0

Oleh : Dede Farhan Aulawi

Persamaan di mata hukum merupakan salah satu prinsip universal yang menjadi fondasi utama dalam kehidupan bernegara. Setiap warga negara, tanpa memandang latar belakang sosial, ekonomi, agama, suku, maupun jabatan, memiliki hak yang sama untuk memperoleh perlindungan hukum serta perlakuan yang adil dalam proses peradilan. Prinsip ini menegaskan bahwa hukum tidak boleh menjadi alat kekuasaan yang hanya melindungi kelompok tertentu, melainkan harus hadir sebagai instrumen keadilan bagi seluruh rakyat secara setara.

Dalam konsep negara hukum, setiap individu diposisikan sebagai subjek hukum yang memiliki martabat yang sama. Tidak boleh ada diskriminasi dalam penerapan aturan, karena hukum sejatinya dibangun untuk menjaga keseimbangan antara hak dan kewajiban setiap warga negara. Persamaan di mata hukum juga berarti bahwa seseorang yang memiliki kekuasaan atau kekayaan tidak boleh memperoleh keistimewaan dalam penyelesaian perkara, sementara masyarakat kecil tidak boleh diperlakukan sebagai pihak yang lemah. Ketika hukum dijalankan secara setara, maka kepercayaan masyarakat terhadap negara akan semakin kuat.

Hak atas persamaan di hadapan hukum juga berkaitan erat dengan perlindungan hak asasi manusia. Setiap orang berhak memperoleh pembelaan, akses terhadap bantuan hukum, serta kesempatan yang sama untuk menyampaikan kebenaran di depan lembaga peradilan. Dalam banyak kasus, ketimpangan ekonomi sering menyebabkan sebagian warga kesulitan mendapatkan keadilan karena keterbatasan biaya, pengetahuan, atau akses terhadap lembaga hukum. Oleh sebab itu, negara memiliki kewajiban untuk memastikan bahwa sistem hukum dapat dijangkau oleh seluruh lapisan masyarakat tanpa kecuali.

Namun dalam praktiknya, tantangan untuk mewujudkan persamaan di mata hukum masih sering muncul. Intervensi politik, penyalahgunaan kekuasaan, korupsi, dan lemahnya integritas oknum aparat penegak hukum dapat menciptakan ketidakadilan. Hukum terkadang tampak tajam kepada masyarakat kecil tetapi tumpul terhadap mereka yang memiliki pengaruh. Kondisi seperti ini dapat merusak rasa keadilan publik dan menimbulkan ketidakpercayaan terhadap institusi negara. Karena itu, reformasi hukum harus terus dilakukan agar prinsip kesetaraan tidak hanya menjadi slogan, tetapi benar-benar dirasakan oleh seluruh warga negara.

Mewujudkan persamaan di mata hukum bukan hanya tanggung jawab lembaga peradilan, tetapi juga tanggung jawab seluruh elemen bangsa. Pemerintah harus membangun sistem hukum yang transparan, aparat harus menjunjung integritas, dan masyarakat perlu meningkatkan kesadaran hukum agar mampu memperjuangkan haknya secara benar. Dengan adanya komitmen bersama, hukum dapat menjadi sarana perlindungan universal yang menjamin bahwa setiap warga negara berdiri pada posisi yang sama di hadapan keadilan.

Pada akhirnya, hak universal warga negara untuk memperoleh persamaan di mata hukum merupakan cerminan dari peradaban suatu bangsa. Negara yang mampu menegakkan hukum secara adil tanpa diskriminasi akan menciptakan masyarakat yang lebih damai, tertib, dan bermartabat. Persamaan di hadapan hukum bukan sekadar norma konstitusional, tetapi juga ukuran nyata dari keadilan sosial dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

Redaksi”

Masalah Fundamental Terkait Akses Masyarakat pada Keadilan* Oleh : Dede Farhan Aulawi

0

Oleh:Dede Farhan Aulawi

Akses masyarakat terhadap keadilan merupakan salah satu pilar utama dalam negara hukum. Dalam prinsip demokrasi modern, setiap warga negara memiliki hak yang sama untuk memperoleh perlindungan hukum tanpa memandang latar belakang ekonomi, sosial, maupun politik. Namun dalam praktiknya, masih terdapat berbagai persoalan mendasar yang menyebabkan akses terhadap keadilan belum dapat dirasakan secara merata oleh seluruh lapisan masyarakat.

Salah satu masalah fundamental adalah ketimpangan ekonomi. Proses hukum sering kali membutuhkan biaya yang tidak sedikit, mulai dari biaya konsultasi hukum, administrasi perkara, hingga biaya transportasi selama proses persidangan. Bagi masyarakat berpenghasilan rendah, kondisi ini menjadi hambatan serius. Akibatnya, banyak warga yang memilih untuk tidak menempuh jalur hukum meskipun hak-haknya dilanggar. Keadilan yang seharusnya menjadi hak universal akhirnya terkesan hanya dapat dijangkau oleh mereka yang memiliki kemampuan finansial.

Masalah berikutnya adalah rendahnya literasi hukum masyarakat. Banyak warga belum memahami hak-hak dasar yang dilindungi oleh hukum serta mekanisme untuk memperjuangkannya. Ketidaktahuan ini membuat masyarakat rentan menjadi korban penipuan, diskriminasi, atau penyalahgunaan kekuasaan. Di sisi lain, bahasa hukum yang rumit dan birokrasi yang kompleks semakin memperlebar jarak antara lembaga peradilan dengan masyarakat umum. Ketika hukum sulit dipahami, maka hukum kehilangan fungsi sosialnya sebagai pelindung rakyat.

Selain itu, ketimpangan geografis juga menjadi kendala nyata. Di daerah terpencil, akses terhadap pengadilan, kantor bantuan hukum, maupun aparat penegak hukum sering kali sangat terbatas. Jarak yang jauh dan minimnya sarana transportasi menyebabkan masyarakat di wilayah pinggiran sulit memperoleh pelayanan hukum yang layak. Kondisi ini menunjukkan bahwa keadilan belum sepenuhnya hadir secara merata di seluruh wilayah negara.

Persoalan lain yang tidak kalah penting adalah kurangnya kepercayaan publik terhadap lembaga penegak hukum. Praktik korupsi, suap, diskriminasi penanganan perkara, serta intervensi kekuasaan sering menimbulkan persepsi bahwa hukum dapat diperjualbelikan. Ketika masyarakat memandang sistem peradilan tidak netral, mereka menjadi enggan mencari keadilan melalui jalur resmi. Dalam jangka panjang, hal ini dapat melemahkan legitimasi negara hukum itu sendiri.

Di samping itu, keterbatasan bantuan hukum bagi masyarakat miskin masih menjadi tantangan besar. Meskipun secara normatif negara menyediakan bantuan hukum cuma-cuma, implementasinya belum maksimal. Jumlah advokat bantuan hukum masih terbatas, distribusinya tidak merata, dan sosialisasinya kurang efektif. Banyak warga yang sebenarnya berhak menerima bantuan hukum justru tidak mengetahui keberadaan layanan tersebut.

Untuk mengatasi masalah tersebut, diperlukan langkah yang menyeluruh. Negara perlu memperluas layanan bantuan hukum gratis, meningkatkan pendidikan hukum masyarakat, menyederhanakan prosedur peradilan, serta memperkuat integritas aparat penegak hukum. Teknologi digital juga dapat dimanfaatkan untuk memperluas akses layanan hukum hingga ke wilayah terpencil. Dengan demikian, keadilan tidak hanya menjadi konsep normatif dalam konstitusi, tetapi benar-benar hadir dalam kehidupan masyarakat.

Pada akhirnya, akses terhadap keadilan bukan sekadar soal keberadaan hukum, melainkan tentang sejauh mana hukum dapat dijangkau dan dirasakan manfaatnya oleh seluruh warga negara. Tanpa akses yang setara terhadap keadilan, maka prinsip persamaan di hadapan hukum hanya akan menjadi semboyan tanpa makna nyata.

Redaksi”

Perantau Urang Awak meresmikan Da’i Rantau Minang. PFI

0

Bekasi, Seputar Indonesia – Ratusan perantau “Urang Awak” menghadiri peresmian Sekretariat Da’i Rantau Minang (Daram) sebagai pusat informasi bidang keagamaan bagi masyarakat perantau, di Bekasi, Sabtu (18/4)

Acara Peresmian sebagai kantor Dewan Pimpinan Pusat DARAM yang dicanangkan sebagai Islamic Center Daram International (ICDI) yang berskala nasional, bahkan internasional, kata Buya Fikri Minggu (19/4)

Ketua Da’i Rantau Minang DKI Jakarta Buya H.Fikri Bareno, SE, Mag, mengungkapkan, Sekretariat DARAM yang diresmikan dibangun di atas lahan seluas 75 hektar
terletak di jalan raya Hankam RT 003 / RW 011 Jatiwarna kecamatan Pondok Melati, kota Bekasi Jawa Barat.

Ketua Da’i Rantau Minang yang aktif selaku pembina Majelis Ta’lim Kaum Ibu Mesjid Petamburan IV Jakarta Pusat, sangat puas wacana yang diidekan sejak 5 tahun, bahkan hampir 10 silam, menggerakkan DARAM Jakarta, kini terwujudlah sudah dibangunnya DPP DARAM di tanah air.

Peresmian Sekretariat DARAM dihadiri oleh Majelis Ulama Islam (MUI), para tokoh perantau urang awak dan organisasi Minang serta kalangan perantau yang bermukim di wilayah Jabodetabek.

Penanda tanganan plakat dilakukan oleh 3 Ulama Nasional yaitu, Buya Dr.Amirsyah Tambunan,MA (Sekjend MUI Pusat)
Buya Dr. Gusrizal Gazahar Dt.Palimo Basa Ketua MUI Sumbar, Ketua umum Da’i Rantau Minang( Daram ) Buya Dr.Elfa Hendri Muchlis, MA.

Acara yang berlangsung dalam suasana silaturahmi Akbar ini tampak dihadiri oleh berbagai tokoh dan ormas serta pejabat aktif diantaranya. tampak Brigjen Roedy Romin dari Wantanas dan Sekjend IKM Briditi Moulevey serta H.Fajar kepala Biro Dikmental Sekda, Pemda Provinsi DKI Jakarta.

Rangkaian

Ketua Umum DPP Daram Buya Elfa Hendri Muchlis menyampaikan rangkaian acara seperti : Peresmian Kantor DPP Daram, dengan pencanangan pendirian ICDI ( Islamic Centre Daram Internasional ) yang direncanakan dalam satu kawasan Islamy terpadu, katanya.

Lounching dan penyerahan resmi KTA DARAM yang sekaligus berfungsi sebagai E- money dari bank BSI. Penyerahan Plakat kepada para tokoh yang hadir, sekaligus acara Silaturrahmi yang berkaitan dengan Minal Aidzin, Wal Faidzin 1447 Hijriyah tahun 2026.

Peresmian Sekretariat Daram sebagai pertemuan Akbar, dan berkaitan dengan halal bi Halal bertemunya para tokoh” Urang Awak ” tingkat nasional, ormas perantau, dan juga para awak media serta Sponsor acara yang bergensi di tahun 2026, demikian. Buya Fikri. PFi

Tingkatkan Kepedulian Kesehatan, Why One Brilink dan dr. Alexander Simon Akhbar Gelar Aksi Sosial di Sidanegara

0

CILACAP 19/04/2026– Mengusung semangat kepedulian terhadap sesama, Why One Brilink menggelar aksi bakti sosial pemeriksaan kesehatan gratis bagi masyarakat Desa Sidanegara dan sekitarnya.

Kegiatan yang difokuskan pada deteksi dini penyakit tidak menular ini diselenggarakan di kompleks Gereja Kristen Jawa Sidareja Pepanthan Tambaksari Sidanegara, Jl. Mahoni RT.05 RW.06, Sidadadi, Kecamatan Kedungreja, Minggu (19/4).

Pemeriksaan kesehatan cuma-cuma ini meliputi tiga indikator utama yang sering menjadi keluhan masyarakat, yakni cek gula darah, asam urat, dan kolesterol.

Kolaborasi Kemanusiaan
Inisiasi ini digerakkan oleh Antonius Sigit Setiawan, pemilik Why One Brilink yang juga merupakan jemaat aktif di gereja tersebut.

Dalam pelaksanaannya, ia menggandeng tenaga medis profesional, dr. Alexander Simon Akhbar, guna menjamin kualitas pelayanan bagi warga.

Meskipun mengambil lokasi di area gereja, kegiatan ini terbuka bagi masyarakat umum tanpa memandang latar belakang.

Pihak gereja berperan aktif dalam memfasilitasi tempat demi kelancaran agenda kemanusiaan tersebut.

“Ini adalah bentuk tanggung jawab sosial kami melalui Why One Brilink.

Kami ingin hadir di tengah masyarakat untuk membantu mereka memantau kondisi kesehatan secara rutin dan gratis,” ujar Antonius di sela-sela kegiatan.

Edukasi Langsung dari Tenaga Ahli
Memimpin langsung jalannya pemeriksaan, dr. Alexander Simon Akhbar tidak hanya memberikan hasil tes, tetapi juga memberikan konsultasi medis singkat.

Menariknya, dokter yang dikenal dekat dengan warga ini juga menyampaikan bahwa dirinya membuka praktik kesehatan setiap hari bagi masyarakat yang berlokasi di Perempatan Pasar Ledeng.

“Pemeriksaan rutin seperti ini penting untuk mencegah komplikasi lebih lanjut.

Kami mengedukasi warga untuk lebih memperhatikan pola makan dan gaya hidup sehat,” jelas dr. Alexander.

Apresiasi Masyarakat
Kegiatan ini disambut hangat oleh warga yang telah mengantre dengan tertib sejak pagi.

Ibu Dilfia, salah seorang jemaat gereja, menyatakan rasa syukurnya atas sinergi yang terjalin. “Kami merasa sangat beruntung.

Kehadiran dr. Alexander dan bantuan dari Why One Brilink membuat kami merasa lebih tenang karena bisa berkonsultasi langsung dengan ahlinya secara cuma-cuma,” tuturnya.

Apresiasi serupa datang dari Ibu Muntriah, warga setempat yang merasa terbantu secara ekonomi.

“Saya sangat bersyukur. Pemeriksaan lengkap seperti ini biasanya berbayar, tapi hari ini gratis dan pelayanannya sangat baik.

Terima kasih kepada Why One Brilink dan dokter yang sudah peduli dengan kesehatan kami,” ungkapnya.

Penutup
Melalui aksi sosial ini, Why One Brilink dan seluruh pihak yang terlibat berharap tingkat kesadaran kesehatan di wilayah Kedungreja terus meningkat.

Sinergi antara pelaku usaha dan tenaga medis profesional ini menjadi bukti nyata bahwa kepedulian terhadap kesehatan merupakan tanggung jawab bersama untuk menciptakan masyarakat yang lebih produktif dan sejahtera.

Redaksi”Tugiman

Jaringan Obat Terlarang Terungkap di Pekalongan, Ditresnarkoba Tangkap Pelaku dan Ribuan Pil

0

Polda Jateng-Kota Semarang|Direktorat Reserse Narkoba berhasil mengungkap kasus tindak pidana peredaran obat-obatan terlarang jenis Yarindo, Hexymer, Trihexyphenidyl, dan Tramadol di wilayah Kota Pekalongan.

Direktur Reserse narkoba Polda Jateng Kombespol.Yos Guntur Y.S mengatakan bahwa Pengungkapan ini dilakukan pada Kamis, 16 April 2026 sekitar pukul 19.30 WIB, setelah tim Ditresnarkoba menerima informasi dari masyarakat terkait maraknya peredaran obat-obatan tersebut di wilayah Kecamatan Pekalongan Barat.

” Menindaklanjuti informasi tersebut, petugas kami melakukan penyelidikan dan berhasil mengamankan seorang tersangka berinisial AF (27), warga Aceh Utara, di sebuah ruko tambal ban yang berlokasi di Jalan Wilis, Kelurahan Podosugih, Kecamatan Pekalongan Barat kata Dir Narkoba di Mapolda Jateng pada Sabtu (18/4)

Lebih lanjut di jelaskan bahwa, dari hasil penggeledahan di lokasi pertama, petugas menemukan satu tas ransel berisi ribuan butir obat-obatan, yakni 1.231 butir Yarindo, 1.561 butir Hexymer, 66 butir Trihexyphenidyl, dan 429 butir Tramadol, serta sejumlah barang bukti lainnya berupa uang tunai, handphone, dan plastik klip.

Pengembangan kemudian dilakukan di lokasi kedua, yakni di kontrakan tersangka di Kelurahan Kauman, Kecamatan Pekalongan Barat. Di lokasi tersebut kembali ditemukan 1.017 butir Yarindo, 1.025 butir Hexymer, 224 butir Trihexyphenidyl, dan 105 butir Tramadol, serta alat pendukung peredaran berupa plastik klip dan buku catatan.

” Dari hasil interogasi, tersangka mengaku memperoleh barang tersebut dari seorang berinisial R yang saat ini masuk dalam daftar pencarian orang (DPO). Tersangka diketahui telah menjalankan aktivitas peredaran ini selama kurang lebih 9 bulan dengan imbalan Rp.3.000.000 per bulan serta uang makan harian ” tambah Dir Narkoba.

Selanjutnya, tersangka beserta seluruh barang bukti diamankan ke Mapolda Jawa Tengah guna proses penyidikan dan pengembangan lebih lanjut terhadap jaringan peredaran obat terlarang tersebut.

Dalam kesempatan tersebut Direktur Reserse Narkoba Polda Jateng, Yos Guntur Y.S Susanto, menegaskan bahwa pihaknya akan terus melakukan penindakan tegas terhadap peredaran obat-obatan berbahaya yang merusak generasi muda.

“Pengungkapan ini merupakan bentuk komitmen kami dalam memberantas peredaran obat-obatan terlarang di wilayah Jawa Tengah. Kami tidak akan memberikan ruang bagi para pelaku yang mencoba merusak generasi muda dengan penyalahgunaan obat-obatan,” tegasnya

Lebih lanjut, ia juga mengimbau masyarakat untuk aktif berperan dalam memberikan informasi apabila mengetahui adanya aktivitas mencurigakan terkait peredaran narkoba maupun obat-obatan terlarang.

“Kami mengajak seluruh masyarakat untuk bersama-sama menjaga lingkungan dari bahaya narkoba dan obat terlarang. Sinergi antara kepolisian dan masyarakat sangat penting dalam menciptakan situasi kamtibmas yang aman dan kondusif,” pungkas nya

Terhadap tersangka di jerat dengan Primair Pasal 435, Subsidair Pasal 436 ayat (2) Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 17 Tahun 2023 tentang Kesehatan Jo. Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2026 tentang Penyesuaian Pidana dengan ancaman hukuman 5 tahun penjara.

Red”

Kinerja Dipertanyakan, Laporan Dana Reses Mandek di Kejari Tanjung Perak, AMI Lapor ke Kejagung

0

Jakarta – Aliansi Madura Indonesia (AMI) meluapkan kekecewaan keras atas mandeknya penanganan laporan dugaan penyimpangan dana reses yang menyeret oknum anggota DPR dari Fraksi PKS.

Laporan yang sebelumnya telah dilayangkan ke Kejaksaan Negeri Tanjung Perak kini resmi dibawa ke Kejaksaan Agung Republik Indonesia.

Laporan tersebut tercatat dengan nomor 199/Dumas/II/2026/DPP-AMI sejak 27 Februari 2026. Namun hingga kini, AMI menilai tidak ada perkembangan signifikan, bahkan terkesan jalan di tempat.

Ketua Umum AMI, Baihaki Akbar, secara terbuka mempertanyakan keseriusan aparat penegak hukum dalam menangani laporan tersebut.

“Ini bukan laporan abal-abal. Ada nomor registrasi resmi, ada dugaan kuat. Tapi kenapa seperti tidak bergerak, Ada apa di balik ini?” tegas Baihaki (17/4) dengan nada tinggi.

AMI menilai kondisi ini berpotensi menciptakan persepsi publik bahwa penanganan hukum bisa dipetieskan ketika menyangkut oknum tertentu.

“Kalau laporan masyarakat bisa mandek tanpa kejelasan, ini berbahaya. Jangan sampai muncul dugaan ada yang dilindungi atau sengaja diperlambat,” lanjutnya.

Lebih jauh, AMI menegaskan bahwa dugaan penyimpangan dana reses bukan sekadar pelanggaran administratif, melainkan berpotensi masuk kategori tindak pidana korupsi karena menyangkut penggunaan uang negara.

“Ini uang rakyat. Kalau diselewengkan, itu korupsi. Tidak ada alasan untuk menunda-nunda. Harus diusut tuntas,” tandas Baihaki.

Atas dasar itu, AMI mendesak Kejaksaan Agung Republik Indonesia untuk turun tangan secara langsung, melakukan supervisi ketat, bahkan mengambil alih penanganan jika diperlukan.

“Kami minta Kejagung jangan hanya diam. Turun tangan, awasi, dan jika perlu ambil alih. Dorong Kejaksaan Negeri Tanjung Perak agar segera bergerak,” ujarnya.

AMI juga memperingatkan bahwa jika tidak ada langkah konkret dalam waktu dekat, pihaknya siap menggelar aksi besar-besaran sebagai bentuk tekanan terhadap aparat penegak hukum.

“Kami tidak akan diam melihat hukum seperti ini. Jika dibiarkan, kepercayaan publik bisa runtuh. AMI siap turun dengan kekuatan penuh,” pungkas Baihaki.

Hingga berita ini diturunkan, pihak Kejaksaan Negeri Tanjung Perak maupun Kejaksaan Agung Republik Indonesia belum memberikan pernyataan resmi terkait mandeknya laporan tersebut.

Red”

Sengketa Panas Rawa Bokor: Antara Klaim Aset Daerah dan Hak Rakyat Kecil yang Terabaikan”

0

TANGERANG – Nafas lega warga di sekitar Jalan Husen Sastranegara, Benda, seketika sesak. Sebuah surat peringatan berkode **318790/000.2.3.2 / IV/2026** mendarat di tangan H. Murdani bin Boin pada Jumat (17/4/26), memerintahkannya angkat kaki dalam waktu singkat dari lahan yang telah ia tempati selama hampir seperempat abad. Kasus ini menjadi potret terbaru benturan antara klaim aset negara dan hak penguasaan fisik tanah oleh warga sipil.

Deadline 3 hari, urgensi atau Intimidasi? Pemerintah Kota (Pemkot) Tangerang memberikan tenggat waktu yang sangat ketat 3×24 jam. Dalam suratnya, Sekretaris Daerah selaku Pengelola Barang Milik Daerah mendesak pengosongan dan pembongkaran mandiri atas lahan Eks SDN Rawa Bokor tersebut.

Langkah agresif ini memicu pertanyaan kritis: mengapa Pemkot begitu terburu-buru melakukan eksekusi tanpa melalui ruang mediasi yang memadai? Durasi tiga hari dinilai tidak manusiawi bagi warga yang telah menetap di sana selama puluhan tahun untuk mencari perlindungan hukum atau sekadar memindahkan harta benda.

H. Murdani, seorang buruh harian lepas, tidak tinggal diam. Pada Sabtu (18/4), ia resmi melayangkan surat keberatan kepada Sekda Kota Tangerang Senjatanya adalah Girik Leter C No. 436, sebuah dokumen hukum yang ia klaim sebagai bukti sah kepemilikan tanah tersebut.

“Kami sudah menguasai lahan ini secara fisik selama 24 tahun. Klaim sepihak Pemkot yang menyatakan tanah ini masuk dalam daftar neraca aset harus dibuktikan secara transparan di hadapan hukum, bukan sekadar lewat surat perintah pengosongan,” ungkapnya dengan nada sedih saat ditemui Wartawan dikediamannya.

Sengketa ini berlokasi di Jl. Husen Sastranegara No. 37, Kelurahan Benda, Kecamatan Benda, Kota Tangerang, adalah lahan eks sekolah dasar ini kini menjadi medan laga antara legalitas administratif pemerintah dan sejarah penguasaan tanah oleh rakyat.

Jika pembongkaran paksa tetap dilaksanakan, hal ini berpotensi memicu konflik horizontal dan preseden buruk bagi kepastian hukum pertanahan di Kota Tangerang. Dalam upaya mempertahankan haknya, Murdani menuntut dua hal krusial kepada pemerintah.

1. Menangguhkan segala tindakan penertiban hingga ada ruang audiensi yang adil.

2. Verifikasi BPN: Melibatkan Badan Pertanahan Nasional (BPN) untuk meninjau ulang status tanah secara objektif agar tidak ada pihak yang dirugikan oleh kesalahan pencatatan aset di masa lalu.

Surat keberatan ini juga ditembuskan langsung kepada Wali Kota Tangerang hingga Satpol PP sebagai pengingat bahwa ada prosedur administratif yang sedang berjalan.

Kasus Rawa Bokor mencerminkan lemahnya sinkronisasi data antara catatan aset daerah dengan fakta penguasaan fisik di lapangan. Secara hukum, penguasaan fisik tanah selama lebih dari 20 tahun dengan itikad baik (seperti yang diklaim Murdani) memiliki bobot hukum kuat dalam UUPA.

Kini, bola panas ada di tangan Pemkot Tangerang: apakah mereka akan memilih jalan dialogis yang humanis, atau memaksakan kehendak dengan risiko mencederai rasa keadilan masyarakat kecil?

Di tengah himpitan tenggat waktu yang mencekam, H. Murdani dan keluarga besarnya selaku ahli waris merasa tidak punya pilihan lain selain mengetuk pintu kekuasaan tertinggi di republik ini. Dengan suara bergetar, mereka menyampaikan permohonan perlindungan kepada Presiden RI, Prabowo Subianto.

“Bapak Presiden Prabowo, kami ini rakyat kecil, wong cilik yang tidak mengerti birokrasi rumit. Kami hanya punya surat Girik ini dan sejarah hidup kami di tanah ini selama puluhan tahun. Kami mohon pertolongan Bapak, jangan biarkan kami digusur secara sewenang-wenang tanpa keadilan,” ujar Murdani.

Ahli waris berharap komitmen Presiden Prabowo dalam membela hak-hak rakyat kecil dan menata kedaulatan tanah nasional dapat menjadi tumpuan harapan terakhir mereka. Mereka meminta Presiden memerintahkan jajaran terkait untuk turun tangan mengevaluasi tindakan Pemkot Tangerang yang dianggap arogan.

Sebuah dokumen bertajuk Surat Kesepakatan Bersama tertanggal 6 Desember 2023 mengungkap tabir gelap pengelolaan aset lahan di wilayah Kelurahan Benda, Kota Tangerang. Surat tersebut, yang melibatkan pemindahtanganan lahan pendidikan, kini memicu sorotan tajam terkait dugaan penyalahgunaan wewenang dan upaya melawan hukum yang sistematis.

Bagi Hasil 70-30: Kesepakatan atau Perampokan Hak? Poin paling krusial sekaligus mencurigakan dalam perjanjian ini adalah Pasal 2, yang menetapkan pembagian hasil penjualan lahan seluas \pm 1000 M^2. Dalam dokumen tersebut, Pihak Pertama (Ahli Waris) hanya mendapatkan 30%, sementara Pihak Kedua (Ketua Yayasan/Pribadi) meraup 70% dari hasil jual bersih.

Ketimpangan angka ini memunculkan pertanyaan besar: atas dasar hukum apa seorang pihak pengelola pendidikan bisa menguasai mayoritas nilai aset yang secara sah tercatat sebagai Tanah Milik Adat atas nama Biar Bin Koentoel sejak tahun 1941?
Lurah Benda: Saksi atau Aktor Intelektual?

Indikasi perbuatan melawan hukum semakin menguat dengan adanya pengesahan resmi dari Lurah Benda, Ahmad Surury Mufid, S.AP. Dokumen tersebut teregister di Kantor Kelurahan Benda dengan No. Reg: 593/207-Tapem pada 14 Desember 2023.

Peran Lurah dalam menandatangani kesepakatan pembagian hasil penjualan tanah ini dinilai melampaui kewenangannya sebagai aparat sipil negara. Secara hukum, tugas lurah adalah mengayomi hak warga (ahli waris), bukan melegitimasi transaksi di bawah tangan yang merugikan pemilik asal tanah.

Kejanggalan yang terendus, di dokumen menemukan beberapa poin merah yang diduga sebagai upaya “pengamanan” jalur ilegal:
Eksklusi Pihak Ketiga: Pasal 6 secara tegas melarang pelibatan Pengacara (Lawyer), LSM, maupun Ormas. Ini diduga kuat sebagai upaya menutup akses pendampingan hukum bagi ahli waris agar tidak memahami hak-hak mereka yang sebenarnya.

Ancaman “Disita Negara”: Pasal 7 menyebutkan jika kesepakatan dilanggar, lahan akan diberikan kepada negara. Klausul ini dinilai sebagai intimidasi terhadap ahli waris agar tidak mundur dari perjanjian yang timpang tersebut. Legalitas yang Dipaksakan: Meski dokumen menyebutkan “tanpa paksaan”, struktur pembagian hasil 70/30 menunjukkan adanya tekanan ekonomi atau informasi yang tidak seimbang.

Lahan yang saat ini masih berfungsi sebagai sarana pendidikan (Madrasah) justru dipaksakan untuk dijual melalui kuasa penuh kepada individu tertentu guna “pengurusan surat-surat legal”. Hal ini mengindikasikan adanya upaya konversi status tanah dari milik adat menjadi hak milik yang siap dikomersialkan demi keuntungan segelintir pihak.

Red”

Kegiatan Pembangunanan Irigasi dari Dinas Pertanian di Desa Kubangwungu tidak Tranparan dan di Nilai Tidak Sesuai Ketentuan

0

Brebes //

Salah satu kegiatan Proyek pembangunan Jaringan irigasi pertanian dari dinas pertanian kabupaten brebes, di area pertanian Desa kubangwungu,kecamatan ketanggungan kabupaten brebes jawa tengah, di nilai tidak tranparan dan di duga tidak sesaui dengan ketentuan.

Dari pantauan awak media di lokasi kegiatan rabu (15/04/2026),di area persawahan desa kubangwungu kecamatan ketanggungan ,dalam pelaksana kegiatan pembangunan saluran irigasi pertanian tidak ada papan imformasi yang terpasang di lokasi kegiatan ,selain tidak adanya papan imformasi kegiatan ,pengunaan batu material juga banyak mengunakan batu blonos dengan ukuran kecil kecil.dalam pemasangan pondasi juga di nilai tidak sesaui dengan standar ketentuan .dari pengamatan awak media pemasangan pondasi hanya lebar satu batu kurang dari 30 cm,dan kedalaman juga hanya beberapa cm saja.karena hanya satu batu yang di tanam dalam lumpur tampa galian.

Dengan adanya kegiatan yang tidak jelas dari dinas pertanian kabupaten brebes di desa kubangwungu ini ,awak media mencoba meminta keterangan dari para tenaga kerja yang saat itu sedang melaksanakan kegiatan pembangunan tersebut,namun semua tenaga kerja tidak tau ini kegiatan pelaksana siapa? Bahkan saat di tanya mandornya siapa ,salah satu pekerja mengatakan di sini tidak ada mandor ataupun kepala tukang,semua pekerrja harian semua ,dan kegiatan ini langsung dari dinas pertanian ,untuk gapoktan desa kubangwungu.kecamatan ketanggungan.kabupaten brebes.

Sesuai dengan UU Keterbukaan Informasi Publik (KIP) Nomor 14. Tahun 2008 dan Perpres Nomor 54. Tahun 2010 serta Nomor 70. Tahun 2012. “Dengan demikian pelaksanaan peraturan presiden yang mengatur setiap pekerjaan bangunan fisik yang di biayai Negara wajib memasang papan nama proyek dan di memuat jenis kegiatan, lokasi proyek dan nomor kontrak, waktu pelaksanan proyek, kontraktor pelaksana serta nilai kontrak dan jangka waktu pengerjaannya. Pemasangan papan nama proyek merupakan implementasi azas transparansi, sehingga seluruh lapisan masyarakat dapat ikut serta dalam proses pengawasan bentuk apapun.

Menyikapi banyak kegiatan kegiiatan pembangunan dari dinas pertanian kabupaten brebes yang di nilai kurang tranparan dan di nilai kurang sesuai dengan standar ketentuan .Yayasan Buser Indonesia (YBI) DPC Brebes yang aktip dalam kegiatan Kontrol sosial,dalam menyikapi kegiatan kegiatan pembangunan di wilayah kabupaten brebes , akan terus melakukan monitoring sebagai bentuk control sosial.dalam menjalan tugas fungsi lembaga,akan berencana melalukan cek dan ricek dan untuk mengumpulkan bukti .

Tarsono kepala bidang Team investigasi dari Yayasan Buser Indonesia (YBI) DPC Brebes,mengatakan setelah mendapat bukti dari beberapa titik kegiatan yang di nilai kurang tranparan dan tidak sesaui dengan ketentuan .akan mengkordinasi kepada pihak pihak terkait.dengan harapan kegiatan kegiatan pembangunan di wilayah kabupaten brebes berjalan maksimal dan lebih bermanfaat bagi masyarakat luas ,demi menyukseskan program brebes beres.

” Red

Garuda di Bumi Asing: 35 Tahun Mengabdi untuk Damai

0

Ada jalan pengabdian yang tidak selalu terdengar letupan senjatanya, namun dampaknya menggema hingga ke ruang sidang PBB. Jalan itu ditempuh oleh seorang Perwira Menengah Polri, seorang Veteran Perdamaian, yang menutup 35 tahun kariernya dengan kepala tegak dan dada penuh lencana misi dunia.

*Dari Bhayangkara Muda Hingga Penjaga Damai Dunia*

Ia memulai dari pangkat Bintara, di sebuah Kesatuan kewilayahan. Patroli kampung, mengurai tawuran, menengahi sengketa tanah — semua dilakoni tanpa mengeluh. “Polisi itu pelayan,” begitu prinsip yang ia pegang. Perlahan ia menapaki tangga: Bintara, Perwira Pertama, hingga di ujung pengabdian menyandang pangkat Komisaris Besar Polisi.

Yang membuat kisahnya berbeda adalah panggilan tugas lintas benua. Di era 1990-an hingga 2000-an, saat dunia meminta Indonesia mengirim putra terbaiknya menjaga perdamaian, ia termasuk yang maju dan terpilih.

*Di Bawah Bendera PBB*

1. *Kamboja – UNTAC 1992-1993*
Di tengah sisa konflik Khmer Merah, ia bertugas memastikan pemilu pertama berlangsung aman. Berbulan-bulan tinggal di kamp beratap terpal, mengawal kotak suara melewati ladang yang masih ditanami ranjau. “Kami bukan tentara perang, kami polisi perdamaian. Senjata kami adalah kepercayaan rakyat,” kenangnya.

2. *Bekas Yugoslavia – Kroasia, Bosnia-Herzegovina, Slovenia Timur 1996-1999*
Ia menyaksikan sendiri luka perang etnis. Tugasnya: melatih polisi lokal yang terpecah karena konflik, membangun kembali kantor polisi yang dibakar, dan mendampingi korban kekerasan seksual melapor. Musim dingin Balkan minus 15 derajat dilalui dengan sepatu dinas yang tembus air. Tapi yang lebih dingin adalah tatapan curiga warga yang trauma. Butuh berbulan-bulan hingga mereka percaya bahwa polisi PBB bisa melindungi, bukan menindas.

3. *Atase Kepolisian di Yordania & Timur Tengah*
Setelah dari medan konflik, ia dipercaya menjadi Atase Kepolisian RI di Yordania, dengan wilayah kerja mencakup sebagian Timur Tengah. Di sana ia menjadi jembatan: menangani WNI bermasalah, kerja sama kontra-terorisme, hingga pertukaran informasi intelijen. Kemampuan analisis hukum dan intelijennya terasah — membaca geo-politik, memetakan ancaman, namun tetap humanis.

*Lencana Tanpa Suara*

Medali PBB, Satya Lencana Bhakti Buana, Shanti Dharma, Ops kepolisian, penghargaan dari UNHCR dan otoritas setempat berjejer di dinding rumahnya yang sederhana. Namun ia jarang memamerkannya. “Lencana sejati itu ketika mantan pengungsi di Bosnia mengirim pesan: ‘Terima kasih, kini anak saya jadi polisi karena melihat Anda dulu’.”

*Pensiun, Tapi Tidak Purna*

Kini di usia senja, ia masih aktif sebagai seorang Pengacara, pengamat hukum dan intelijen. Pelatih Pembina Pramuka, Pelatih Utama Pencak Silat Indonesia. Mengisi kuliah di beberapa Universitas dan lembaga kursus lainnya, menulis jurnal tentang _peacekeeping_ dan _community policing_, Hukum, budaya dan sebagainya. Ia juga bersama rekan2 nya mendirikan komunitas “Veteran Perdamaian untuk Negeri”, mengajak purnawirawan Polri-TNI berbagi pengalaman ke sekolah-sekolah. Pesannya ke generasi muda: “Jangan hanya siap perang, tapi siap ciptakan damai.”

*3 Pelajaran dari Sang Veteran Perdamaian*

1. *Integritas adalah paspor*
Di negeri orang, yang membuatmu dihormati bukan pangkat, tapi kejujuran. Sekali kau main mata dengan pelanggaran, nama kontingen Indonesia ikut tercoreng.

2. *Pendidikan tanpa henti*
Dari Bintara hingga Pamen, ia tak pernah berhenti sekolah/ kursus: Hukum,Reserse, Intelijen, bahasa Inggris untuk misi, hukum humaniter internasional, hingga analisis intelijen. “Pangkat boleh berhenti, tapi belajar tidak.” hingga berhasil menyandang gelar 2 ( dua) Doktor dibidang Hukum dan Hubungan Internasional.

3. *Damai dimulai dari empati*
Senjata boleh ditinggal di gudang, tapi telinga harus selalu dibuka. Di Kroasia ia belajar: kadang warga tidak butuh solusi cepat, hanya butuh didengar tanpa dihakimi.

*Penutup: Merah Putih yang Dibawa Keliling Dunia*

Ia membuktikan bahwa pengabdian Polri tidak berhenti di batas kabupaten. Di kamp-kamp pengungsi Kamboja, di desa-desa Bosnia yang hancur, di meja diplomasi Yordania — di sana Merah Putih ikut menjaga dunia.

Tiga puluh lima tahun bukan waktu singkat. Tiga benua bukan perjalanan mudah. Namun ia jalani tanpa gembar-gembor. Karena bagi Veteran Perdamaian sejati, kebanggaan terbesar bukanlah bintang di pundak, melainkan saat dunia berkata: “Terima kasih, Indonesia.”

Dan itu, adalah warisan yang tak akan pensiun. *By : Dr.HMZ / Veteran Perdamaian LVRI.*