Beranda blog Halaman 42

Komando Resimen Mahasiswa Indonesia (Komenwa Indonesia) Pewaris Sejati Nilai Juang Bangsa

Oleh : Dr Datep Purwa Saputra.

​Komando Resimen Mahasiswa Indonesia, disingkat Komenwa Indonesia (KI), berdiri teguh sebagai organisasi yang bukan hanya menjaga masa depan, tetapi juga memelihara dan mewarisi nilai-nilai kejuangan yang lahir dari sejarah kemerdekaan bangsa.

Komenwa adalah wadah Mahasiswa dan para senior Menwa dalam rangka “Bela Negara” di mana bertekad untuk melanjutkan semangat juang dari nilai nila jiwa kepahlawanan TRIP/TP/TGP (Tentara Republik Indonesia Pelajar/Tentara Pelajar/Tentara Genie Pelajar) dan CM (Corps Mahasiswa) dalam merebut dan mempertahankan Kemerdekaan Indonesia.

Komenwa Indonesia komitmen akan terus menghidupkan nilai kejuangan para pahlawan bangsa yang dituangkan dalam dokrin WCDS yang tetapkan oleh Jendral Besar A.H Nasution tahun 1959.

​Komenwa Indonesia adalah penerus estafet komitmen kebangsaan, menjadikannya organisasi yang tegak lurus pada Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), Pancasila, dan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 (UUD NRI 1945). Akar historis ini memberikan Komenwa Indonesia memiliki landasan moral dan disiplin yang tak tertandingi, menjadikannya garda terdepan Bela Negara kaum terpelajar dalam pertahanan nirmiliter.

​Dengan fondasi sejarah yang kuat, Komenwa Indonesia memiliki fokus yang jelas dan tidak mudah teralihkan.

Komenwa Indonesia akan terus maju ke depan, melaksanakan Tri Dharma Perguruan Tinggi sambil menanamkan jiwa patriotisme dalam menumbuhkan Korsa sejati WCDS..

*Komenwa Indonesia tetap teguh pada WCDS*

Komenwa Indonesia, berdiri sebagai organisasi kader bangsa yang kuat dan teguh, dengan landasan doktrin utama Widya Castrena Dharma Siddha (WCDS), yang berarti Penyempurnaan Pengabdian Ilmu Pengetahuan melalui Olah Keprajuritan.
​Doktrin ini memastikan bahwa Komenwa tidak hanya menghasilkan akademisi yang cerdas, tetapi juga patriot yang disiplin, memadukan kecerdasan kampus dengan semangat juang dalam pengabdian pada bangsa dan negara. Prinsip ini berakar kuat pada nilai-nilai kejuangan para Pahlawan Kemerdekaan seperti TRIP/TP/TGP dan CM menjadikan Komenwa pewaris sah dari tradisi pengorbanan dan kepemimpinan di kalangan pemuda terpelajar.

​Komenwa Indonesia berkomitmen tegak lurus pada Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), ideologi Pancasila, dan konstitusi Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 (UUD NRI 1945).
​Dengan berpegang pada WCDS, Komenwa memiliki visi yang tinggi dan jelas. Organisasi ini terus maju ke depan, fokus pada pengamalan ilmu (Widya) dan penguatan fisik-mental atau keprajuritan yang di dalamnya terkandung makna kejujuran dan tanpa pamrih (Castrena) untuk mencapai pengabdian sempurna pada Bangsa dan Negara. (Dharma Siddha).

​Komenwa Indonesia menganut filosofi: “Ibarat elang diganggu gagak, elang akan terbang terus ke atas sampai gagak itu jatuh dengan sendirinya karena kehabisan napas.”
​”Elang” adalah representasi Komenwa, yang didorong oleh doktrin WCDS untuk selalu mencapai ketinggian (tingkat kompetensi dan pengabdian) yang maksimal. “Gagak” adalah segala bentuk gangguan, kepentingan sempit, atau polemik yang tidak relevan dengan misi besar penyempurnaan ilmu pengetahuan dan ilmu keprajuritan.

Komenwa tidak akan membuang energi untuk melayani gangguan; ia akan terus naik ke level yang lebih tinggi, mengukuhkan diri sebagai komponen Pendukung pertahanan negara dalam memperkuat Komponen Utama (TNI) yang terpercaya, membiarkan segala intrik yang dangkal sirna karena tidak mampu mengejar komitmen dan fokus Komenwa WCDS yang sejati.

*Komenwa ​Lebih Dari Sekadar organisasi kampus.*
Komenwa Indonesia memposisikan diri sebagai komponen pendukung dalam memenuhi hak dan kewajiban warga negara dalam bela negara, sesuai amanat UUD NRI 1945 Pasal 27 ayat (3). Komenwa berperan strategis dalam melaksanakan pertahanan negara sesuai Pasal 30 ayat (1) sebagai bagian integral dari Sistem Pertahanan dan Keamanan negara dalam rangka Sistim Pertahanan Rakyat Semesta (Sishankamrata).
​Peran ini diperkuat melalui:
Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2002 tentang Pertahanan Negara.
Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2019 tentang Pengelolaan Sumber Daya Nasional (PSDN) untuk Pertahanan Negara dan
​Peraturan Pemerintah Nomor 3 Tahun 2021.

​Komenwa Indonesia terus maju ke depan, fokus pada pengamalan ilmu dan keprajuritan untuk menghasilkan kader yang siap diaktivasi sebagai komponen cadangan atau pendukung, kapan pun negara membutuhkan.

*Catatan Sejarah Pengabdian Komenwa Indonesia Pada Bangsa dan Negara.* Jejak Sejarah Pengabdian Bela Negara
​Peran pertahanan negara oleh Komenwa Indonesia bukanlah sekadar rencana masa depan, melainkan sebuah tradisi sejarah yang telah dilaksanakan secara nyata sejak masa kemerdekaan mempertahankan kemerdekaan dan mengisi kemerdikaan.

Komenwa adalah pewaris langsung pengabdian patriotik yang dilakukan oleh para pendahulu:
​TRIP/TP/TGP dan CM: Pelajar dan mahasiswa ini membentuk tulang punggung perjuangan fisik kemerdekaan, membuktikan bahwa kaum terpelajar adalah komponen tempur yang vital.

*​Operasi Militer:* Anggota Komenwa (yang saat itu dikenal dengan nama Wajib Latih/Wala) turut serta aktif dalam pengabdian bela negara, termasuk keterlibatan dalam Tri Komando Rakyat (Trikora) untuk pembebasan Irian Barat dan Dwi Komando Rakyat (Dwikora).

*​Penumpasan Ancaman:* Komenwa juga terlibat dalam operasi penumpasan pemberontakan, seperti melawan DI/TII dan berperan penting dalam menghancurkan gerakan pengkhianatan G30S/PKI.

*​Misi Perdamaian Internasional dan Domestik:* Pengabdian dilanjutkan dengan keterlibatan dalam operasi di Timor Timur dan bahkan misi pengabdian hingga ke Timur Tengah, menunjukkan kesediaan Komenwa untuk berkorban demi kepentingan negara, di dalam maupun luar negeri.

​Komenwa Indonesia adalah perwujudan nyata dari sinergi antara intelektualitas dan keprajuritan untuk NKRI dan untuk Perdamaian Dunia.

*Catatan :*
Penulis adalah mantan Direksi BUMN (Gol IV E) sekarang sebagai Dosen (Lektor Kepala) dan mantan Kasmenwa Jayakarta th 1984-1987, Danmenwa Jayakarta th 2005-2007,
Waketum IARMI 2010-2015, Ketua IARMI DKI th 2017-2021 dan 2021 sd sekarang sebagai Dankomenwa Indonesia.

Penahanan Tersangka DS Dugaan Tipikor Pemberian KUR Mikro Dan Pengelolaan Aset Kas Besar(KHASANAH) Pada Salah Satu BANK Plat Merah Kantor Cabang Pembantu Semendo Kabupaten Muara Enim.

Assalamualaikum, Om Swastiastu, Nammo Buddhaya
Rekan rekan media yang saya hormati,
Melanjutkan Pres Rilis tanggal 21 November 2025, terkait Dugaan Tindak Pidana Korupsi dalam pemberian Kredit Usaha Rakyat (KUR) Mikro dan Pengelolaan Aset Kas Besar (Khasanah) pada salah satu bank plat merah Kantor Cabang Pembantu Semendo Kabupaten Muara Enim tahun 2022 s.d. 2023, bahwa Tim Penyidik Kejati Sumsel telah menetapkan 7 (tujuh) orang sebagai Tersangka.

Untuk keempat tersangka lainnya (EH, MAP, PPD dan JT) sudah dilakukan tindakan penahanan selama 20 hari dari tanggal 21 November 2025 sampai dengan 10 Desember 2025 di Rumah Tahanan Negara Kelas 1 Pakjo Palembang, sedangkan untuk tersangka WAF ditahan dalam perkara lain (terpidana perkara lain), dan untuk tersangka DS serta IH pada tanggal 21 November 2025 tidak hadir untuk memenuhi surat panggilan dari tim Penyidik Kejati Sumsel).

Kemudian pada hari ini Kamis, tanggal 27 November 2025, Tersangka DS hadir di Kejati Sumsel memenuhi surat panggilan Tim Penyidik Kejati Sumsel untuk dilakukan pemeriksaan sebagai Tersangka, namun untuk tersangka IH tidak hadir memenuhi surat panggilan Tim Penyidik Kejati Sumsel. Selanjutnya Tersangka DS dilakukan pemeriksaan oleh Tim Penyidik Kejati Sumsel dan dilakukan tindakan penahanan berdasarkan Surat Perintah Penahanan Kepala Kejaksaan Tinggi Sumatera Selatan tanggal 27 November 2025, selama 20 hari terhitung tanggal 27 November 2025 sampai dengan 16 Desember 2025 di Rumah Tahanan Negara Klas 1 Pakjo Palembang.

Adapun Peran dari Tersangka DS yaitu:
Bersama sama dengan tersangka WAF dan IH selaku perantara Kredit Usaha Rakyat (KUR) Mikro mengajukan pengajuan KUR Mikro pada Bank Plat Merah kantor cabang pembantu Semendo Kabupaten Muara Enim tahun 2022 s.d tahun 2023 melalui Tersangka EH selaku Kepala Cabang. Bahwa persyaratan pengajuan KUR Mikro tidak sesuai dengan aturan yang berlaku dan data nasabah juga dipergunakan tanpa sepengetahuan dari pada nasabah. Dan dalam penyidikan diketahui ada aliran dana yang masih dilakukan pendalaman oleh Tim Penyidik Kejati Sumsel.

Demikian kami sampaikan kepada teman-teman media, untuk dimaklumi.

Palembang, 27 November 2025

Aksi Dramatis Polres Pekalongan Lumpuhkan Perlawanan Bersenjata Pengedar Narkoba

Polda Jateng, Semarang | Kepolisian Daerah Jawa Tengah (Polda Jateng) mengkonfirmasi adanya insiden perlawanan bersenjata saat Tim Satuan Reserse Narkoba (Satresnarkoba) Polres Pekalongan melakukan penangkapan terhadap pelaku kasus peredaran psikotropika jenis Alprazolam di wilayah Pekalongan pada Selasa, (25/11/2025) malam. Dalam penangkapan tersebut, pelaku berikut barang bukti puluhan butir obat terlarang berhasil diamankan tanpa ada korban dari petugas.

​Hal ini disampaikan oleh Kabid Humas Polda Jateng, Kombes Pol Artanto, pada hari Rabu (26/11/2025) di Semarang. Berdasarkan laporan yang ia terima dari Kapolres Pekalongan, kasus ini bermula saat Tim Opsnal Satresnarkoba Polres Pekalongan pada Selasa (24/11) pukul 20.00 WIB berhasil mengamankan seorang pria berinisial K.A. (24), di Jalan Raya Tangkil Tengah, Kedungwuni, Kabupaten Pekalongan.

“Dari penangkapan ini, petugas menyita 20 butir obat jenis Alprazolam,” ungkapnya.

Setelah diinterogasi, saudara K.A. mengaku mendapatkan barang tersebut dari seorang berinisial A. Berdasarkan keterangan ini, tim segera melakukan pengembangan ke rumah terduga pelaku A di Pekalongan. Namun, saat petugas hendak memasuki rumah A, mereka mendapatkan perlawanan.

“Saat anggota kami tiba, tiba-tiba keluar beberapa orang dari rumah tersebut, dan salah satunya membawa senjata api. Terjadi penembakan ke arah petugas,” jelas Kombes Artanto.

Tembakan tersebut diarahkan pelaku pada petugas yang berlindung dari balik mobil, mengakibatkan mobil anggota Sat Resnarkoba Pekalongan mengalamk pecah kaca depan bagian kiri. Beruntung, seluruh petugas dengan sigap menghindar sehingga tidak ada yang terluka.

*”Menyikapi situasi ini, tim opsnal kemudian meminta bantuan kekuatan dari Sat resnarkoba dan Resmob Polres Pekalongan kota serta mendatangkan petugas Sat Brimob Subden B Pelopor Pekalongan,” lanjutnya.*

​Tim gabungan yang dipimpin Kabag Ops Kompol Farid Amirullah tersebut kemudian melakukan penggerebekan lanjutan terhadap rumah terduga pelaku A pada Rabu (26/11/2025) dini hari, sekitar pukul 00.30 WIB.

​”Dengan upaya paksa yang terukur, tim gabungan berhasil mengamankan tersangka utama, A.B.A. (44) yang berprofesi sebagai wiraswasta, di Kelurahan Pringrejo, Pekalongan Barat, Kota Pekalongan,” tegas Kombes Artanto.

Dari tangan pelaku, petugas berhasil mengamankan sejumlah barang bukti, antara lain :
• ​Satu pucuk senjata air softgun berwarna chrome beserta amunisinya, yang diduga digunakan untuk menembak mobil petugas.
• ​Dua bilah senjata tajam (sajam).
• ​28 butir Psikotropika jenis Alprazolam.

Diketahui, tersangka A.B.A. merupakan residivis kasus narkoba.

​”Alhamdulillah mendapatkan perlawanan yang cukup keras dari pelaku, tidak ada petugas yang menjadi korban,” tandas Kabid Humas.

​Untuk penanganan kasus peredaran psikotropika yang melibatkan K.A. dan A.B.A. ditangani oleh Polres Pekalongan. Sementara itu, insiden perlawanan terhadap petugas dengan menggunakan air softgun dan senjata tajam akan disidik lebih lanjut oleh *Satuan Reskrim Polres Pekalongan Kota.*

Red”

Dugaan Penganiayaan WNA Villa88: Bukti Lengkap, Tapi Tersangka Tak Kunjung Ditetapkan

Probolinggo — Penanganan laporan dugaan penganiayaan yang melibatkan seorang Warga Negara Asing (WNA) berinisial Mr. C, pemilik Villa88 di Desa Sapikerep, Sukapura, memasuki babak yang semakin memunculkan tanda tanya besar. Hampir sembilan bulan sejak laporan dilayangkan oleh korban Suarni, tak satu pun tersangka ditetapkan. Pertanyaan publik pun menguat: Mengapa kasus yang sarat bukti ini tidak kunjung naik? Siapa yang dilindungi?

Kasus ini sejatinya bukan kasus tanpa arah. Justru sebaliknya, laporan disertai sederet barang bukti keras yang seharusnya membuat penyidik tidak perlu menunda proses penetapan tersangka. Foto lebam di wajah dan tubuh korban, hasil visum dari pihak medis, baju korban berlumuran darah, serta benda-benda yang diduga digunakan untuk memukul—asbak keramik dan vas bunga keramik—telah berada di tangan penyidik sejak awal.

Saksi-saksi pun sudah memberikan keterangan sejak bulan pertama, di antaranya Yeyen, serta istri ketua BPD setempat Sri M dan anaknya Yoga, yang mengetahui kondisi korban segera setelah kejadian. Namun, meski bukti visual, medis, dan saksi telah terkumpul, kasus justru berjalan seperti merangkak.

Konfrontir Ulang yang Dipertanyakan: Tahapan Hukum atau “Delay Strategis”?

Senin (24/11/2025), Polres Probolinggo kembali memanggil korban, saksi Yeyen, dan kuasa hukum M. Ilyas, S.H. untuk menjalani konfrontir ulang dengan terlapor Mr. C. Proses itu turut dikawal oleh sejumlah LSM dari Aliansi Aktivis Probolinggo serta jurnalis media online.

Namun, alih-alih memberikan titik terang, konfrontir tersebut justru memperkuat kecurigaan publik bahwa ada sesuatu yang tidak beres. Mr. C kembali menyangkal telah melakukan penganiayaan, dan penyidik tampak memberi ruang besar bagi bantahan tersebut—padahal hukum tak pernah mensyaratkan “pengakuan” sebagai penentu tunggal penetapan tersangka.

“Ini sudah bukan konfrontir sekali dua kali, tapi berkali-kali. Sampai kapan proses ini mau dibolak-balik?” tegas Sholehudin aktivis yang mendampingi.

Pakar hukum pidana, jika melihat pola ini, bisa menyebutnya sebagai “delay strategis”—pengulangan proses bukan untuk menemukan kebenaran, melainkan untuk memperlambat momentum pembuktian.

Kuasa Hukum: “Bukti Permulaan Sudah Lebih dari Cukup. Kenapa Tersangka Tidak Ditentukan?”

Kuasa hukum korban, M. Ilyas, S.H., mengungkapkan kegusarannya atas berlarutnya kasus ini.

“Bukti permulaan sudah memenuhi syarat. KUHAP tidak pernah mengajarkan bahwa penyidik harus menunggu pengakuan. Kalau bukti ada, saksi ada, visum ada, baju berdarah ada, alat yang digunakan ada—apa lagi yang ditunggu? Kami menduga ada ketidaknormalan dalam penanganan,” tegasnya.

Ilyas menegaskan, KUHAP Pasal 1 angka 14 menyebut bahwa seseorang dapat ditetapkan sebagai tersangka apabila ada minimal dua alat bukti yang sah. Dalam kasus Suarni, alat bukti yang ada bukan hanya dua—melainkan lima:

Visum
Foto luka
Benda keramik sebagai benda pemukul
Keterangan saksi
Petunjuk dari kondisi pascakejadian

Namun, Polres Probolinggo belum juga bergerak ke tahap penetapan tersangka.

LSM Soroti Dugaan Perlakuan Istimewa Terhadap WNA

Beberapa aktivis yang hadir mengaku melihat pola penanganan yang janggal, terutama karena terlapor adalah WNA yang memiliki usaha pariwisata bernilai besar di wilayah itu.

“Ini bukan tuduhan, tapi fakta lapangan menunjukkan ada sikap over hati-hati setiap kali pelaku adalah WNA atau orang berkepentingan ekonomi besar. Padahal UUD 1945 Pasal 27 jelas: semua orang sama di mata hukum,” ujar Kang Suli Koordinator Aliansi Aktivis Probolinggo.

Mereka khawatir Polres Probolinggo terjebak pada fenomena “legal hesitation” terhadap pelaku asing—seperti kasus-kasus sebelumnya di beberapa daerah di Indonesia di mana pelaku WNA cenderung mendapatkan ruang lebih longgar dibanding warga lokal.

Pertanyaan Publik yang Belum Terjawab

Investigasi lapangan mengungkap sejumlah pertanyaan yang hingga kini belum mendapatkan jawaban tegas dari penyidik Polres Probolinggo:

Mengapa kasus dengan bukti fisik lengkap memerlukan konfrontir ulang setelah 9 bulan?
Mengapa pengakuan terlapor tampak lebih dipertimbangkan dibanding visum dan saksi?
Adakah kendala internal atau tekanan eksternal yang membuat penanganan kasus melambat?
Apakah status WNA terlapor membuat penyidik lebih berhati-hati?
Mengapa SP2HP (Surat Pemberitahuan Perkembangan Hasil Penyidikan) terkesan normatif tanpa progres signifikan?

Hingga kini, belum ada jawaban pasti dari Polres Probolinggo.

Landasan Hukum yang Seharusnya Menggerakkan Polres untuk Segera Menetapkan Tersangka
1. Pasal 351 KUHP (Penganiayaan)

Barang bukti yang digunakan—keramik, vas bunga—termasuk alat yang dapat melukai.

2. KUHAP Pasal 184

Alat bukti sah meliputi:

Keterangan saksi
Keterangan ahli (visum)
Petunjuk
Barang bukti
(Pengakuan bukan syarat penentu!)
3. KUHAP Pasal 1 angka 14

Penetapan tersangka cukup dengan bukti permulaan yang cukup, bukan bukti sempurna.

4. Perkap 6/2019 tentang Manajemen Penyidikan

Penyidik wajib cepat, tepat, dan tidak diskriminatif.

5. Asas Equality Before The Law

Tidak boleh ada pembedaan antara WNA dan WNI.

Publik Mendesak Ketegasan Kapolres Probolinggo

Kuasa hukum dan aliansi aktivis mendesak Kapolres Probolinggo untuk:

Segera menetapkan Mr. C sebagai tersangka, karena bukti permulaan sudah lebih dari cukup.
Menghentikan konfrontir berulang yang tidak memiliki dasar urgensi.
Melakukan gelar perkara terbuka untuk menunjukkan transparansi.
Memberikan kepastian hukum kepada korban, bukan membiarkan trauma korban berlarut.

“Jika kasus ini terus berlarut, masyarakat bisa menilai ada kegagalan penegakan hukum. Dan itu preseden buruk,” tegas para aktivis. (Edi D/Tim/Red/**)

Sumber: Praktisi hukum,Aliansi Aktifis Probolinggo

Diduga Ada Oknum Mafia BBM Bermain. Tiba-Tiba ​Barcode Konsumen”Error” di SPBU 44,532,03 Majenang,

​MAJENANG, CILACAP – Hari Rabu, 26 November 2025, menjadi hari yang penuh kejanggalan bagi Buyung Mulyadi Tanjung, seorang jurnalis senior dari media online. Sekitar pukul 11.00 WIB, dalam perjalanan melintasi jalur nasional Majenang, Buyung terpaksa mampir ke SPBU Majenang (tepat di depan Mapolsek Majenang) karena mobilnya kehabisan BBM jenis Pertalite.

​Namun, niat untuk mengisi bahan bakar justru berujung pada drama digital yang membingungkan.
​Drama Pagi: Barcode Dinyatakan “Berpenyakit”
​Ketika petugas SPBU melakukan scanning pada kartu barcode mobil Buyung, transaksi mendadak ditolak. Petugas segera menyatakan bahwa barcode milik Buyung bermasalah.

​”Barcode ini sudah berbulan-bulan saya pakai, tidak pernah ada masalah!” protes Buyung kepada petugas, merasa ada keanehan.
​Situasi memanas ketika Buyung diarahkan ke kantor SPBU. Di sana, seorang manajer mengambil alih penanganan, memeriksa, memfoto, dan kemudian menjatuhkan “vonis” yang mencengangkan: Barcode tersebut harus dihapus dari sistem!
​”Saya tidak terima barcode saya dihapus! Baru kali ini saya belanja BBM bermasalah,” tegas Buyung.

​Dalam rekaman video yang ia buat, Buyung bahkan melontarkan tudingan serius: “Saya menduga ini ulah oknum mafia yang bermain di balik sistem barcode, yang tujuannya hanya membingungkan masyarakat! Saya ini masyarakat, jangan kalian bingungkan!”
​Buyung lantas meninggalkan lokasi dengan penuh kekecewaan dan keheranan, mengadukan insiden aneh tersebut kepada rekan-rekan jurnalisnya di grup WhatsApp.

​Kejanggalan Sore Hari: Uji Coba Lintas SPBU Ungkap Fakta Kontras
​Rasa penasaran dan amarah Buyung mencapai puncaknya. Pukul 18.00 WIB, dalam perjalanan pulang, ia memutuskan melakukan uji coba kritis di SPBU lain: SPBU Padang Jaya, Kecamatan Majenang (jalur nasional arah Wangon/Karangpucung).

​Hasilnya sungguh kontras dan menguatkan dugaan adanya kejanggalan.

​Di SPBU Padang Jaya, kartu barcode mobil Buyung di-scan tanpa kendala, dan transaksi BBM Pertalite berjalan lancar. Barcode yang beberapa jam sebelumnya divonis “bermasalah” dan harus dihapus di SPBU depan Polsek Majenang, kini berfungsi normal.
​”Saya tercengang dan kaget! Ada apa di SPBU depan Polsek Majenang itu? Ada apa?!” ucap Buyung dengan nada keras.

​Buyung Mulyadi Tanjung menyimpulkan bahwa insiden ini bukan hanya masalah error sistem, melainkan dugaan permainan otoritas atau oknum petugas di tingkat lokal.

​Tuntutan Hukum: Ancaman Sanksi dan Pidana Kecurangan Pelayanan
​”Saya tidak bisa memaafkan kejadian ini ke para oknum petugas itu! Saya tidak terima!” ancamnya. “Saya pastikan, peristiwa tadi akan segera saya adukan ke Pertamina Pusat di Bekasi agar dilakukan audit menyeluruh!”

​Buyung menegaskan bahwa dugaan permainan barcode yang menyebabkan diskriminasi pelayanan ini dapat dijerat dengan sanksi tegas. Dalam konteks pelayanan dan distribusi BBM bersubsidi, oknum SPBU dapat dikenakan sanksi berdasarkan:
​Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen: Terutama Pasal 4 (Hak Konsumen atas pelayanan yang benar dan jujur) dan Pasal 8 (Larangan bagi pelaku usaha untuk tidak menepati janji terkait pelayanan). Pelanggaran dapat dikenakan sanksi administrasi hingga pidana.

​Peraturan Badan Pengatur Hilir Minyak dan Gas Bumi (BPH Migas): Setiap pemegang izin niaga BBM wajib memberikan pelayanan yang tidak diskriminatif.

Kecurangan dalam distribusi, termasuk rekayasa sistem scanning atau pembatasan sepihak, dapat mengakibatkan pencabutan izin operasi SPBU oleh Pertamina/BPH Migas.

​Hukum Pidana (Jika terbukti ada unsur kesengajaan): Jika manipulasi sistem barcode terbukti merupakan bagian dari upaya penyelewengan BBM bersubsidi yang merugikan negara atau masyarakat, pelakunya dapat dijerat dengan Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2001 tentang Minyak dan Gas Bumi, dengan ancaman pidana penjara dan denda yang sangat berat.

​Insiden ini menjadi sorotan tajam, menggarisbawahi pertanyaan besar: Seberapa valid dan steril sistem digitalisasi BBM dari campur tangan oknum, jika validitas sebuah barcode bisa berubah dalam hitungan jam dan tempat? Masyarakat menuntut agar oknum petugas SPBU yang terbukti curang atau diskriminatif segera ditindak tegas sesuai peraturan dan undang-undang yang berlaku.

​tim( red )

Jaksa Agung Muda Tindak Pidana Umum Menyetujui 4 Pengajuan Restorative Justice Tindak Pidana Narkotika

Jaksa Agung RI melalui Jaksa Agung Muda Tindak Pidana Umum (Jampidum) Prof. Dr. Asep Nana Mulyana telah menyetujui pelaksanaan rehabilitasi terhadap 4 (empat) perkara penyalahgunaan narkotika melalui pendekatan keadilan restoratif (Restorative Justice) berdasarkan hasil ekspose yang dilaksanakan secara virtual pada Selasa 25 November 2025.
Adapun berkas perkara yang diselesaikan melalui mekanisme keadilan restoratif, yaitu
Tersangka Yoga Pratama, S.M. bin Anwar dari Kejaksaaan Negeri Lahat, yang disangka melanggar Primair Pasal 112 Ayat (1) Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2009 tentang Narkotika atau Subsidair Pasal 127 Ayat (1) huruf a Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2009 tentang Narkotika.
Tersangka Hengki Hartanto bin Karsidi (Alm) dari Kejaksaan Negeri Lahat, yang disangka melanggar Parimair Pasal 112 Ayat (1) Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2009 tentang Narkotika atau Subsidair Pasal 127 Ayat (1) huruf a Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2009 tentang Narkotika.
Tersangka Dandy Putra Pratama bin Darbain dari Kejaksaan Negeri Lahat, yang disangka melanggar Primair Pasal 112 Ayat (1) Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2009 tentang Narkotika atau Subsidair Pasal 127 Ayat (1) huruf a Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2009 tentang Narkotika.
Tersangka Wilda als Koima binti Ilham dari Kejaksaan Negeri Sambas, yang disangka melanggar Pertama Pasal 112 Ayat (1) Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2009 tentang Narkotika atau Kedua Pasal 127 Ayat (1) huruf a Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2009 tentang Narkotika.
Alasan disetujuinya permohonan rehabilitasi terhadap para Tersangka yaitu:
Berdasarkan hasil pemeriksaan laboratorium forensik, para Tersangka positif menggunakan narkotika;
Berdasarkan hasil penyidikan dengan menggunakan metode know your suspect, para Tersangka tidak terlibat jaringan peredaran gelap narkotika dan merupakan pengguna terakhir (end user);
Para Tersangka tidak pernah dimasukkan dalam Daftar Pencarian Orang (DPO);
Berdasarkan hasil asesmen terpadu, para Tersangka dikualifikasikan sebagai pecandu narkotika, korban penyalahgunaan narkotika, atau penyalah guna narkotika;
Para Tersangka belum pernah menjalani rehabilitasi atau telah menjalani rehabilitasi tidak lebih dari dua kali, yang didukung dengan surat keterangan yang dikeluarkan oleh pejabat atau lembaga yang berwenang;
Para Tersangka tidak berperan sebagai produsen, bandar, pengedar, dan kurir terkait jaringan narkotika.
“Para Kepala Kejaksaan Negeri dimohon untuk menerbitkan Surat Ketetapan Penyelesaian Perkara Berdasarkan Keadilan Restoratif berdasarkan Pedoman Jaksa Agung Nomor 18 Tahun 2021 tentang Penyelesaian Penanganan Perkara Tindak Pidana Penyalahgunaan Narkotika Melalui Rehabilitasi dengan Pendekatan Keadilan Restoratif Sebagai Pelaksanaan Asas Dominus Litis Jaksa,” pungkas Jampidum.

Jakarta, 25 November 2025
KEPALA PUSAT PENERANGAN HUKUM

Miliaran Rupiah Kerugian Keuangan PT Angkasa Pura II dan Indikasi Dua Kegiatan Fiktif Jadi Temuan BPK

 

Medan// Badan Pemeriksa Keuangan Republik Indonesia (BPK RI), menemukan dugaan kerugian keuangan PT Angkasa Pura II (PT AP II) hingga miliaran rupiah pada 24 kegiatan, termasuk dua kegiatan diantaranya terindikasi fiktif.

Dugaan kerugian keuangan perusahaan BUMN yang nilainya cukup signifikan tersebut terjadi pada PT AP II, anak perusahaan dan instansi terkait lainnya di wilayah Banten, Sumatera Utara, Jawa Tengah, dan Kalimantan Barat Tahun Buku 2021 dan 2022.

Kasus dugaan kerugian keuangan PT AP II ini terungkap ke publik setelah BPK RI merilis hasil auditnya pada Laporan Hasil Pemeriksaan (LHP) Nomor: 58/LHP/XX/11/2024 pada tanggal 18 November 2024.

BPK menyebut, penyelesaian piutang PT AP II sebesar Rp207,85 miliar berlarut-larut, dan outstanding atau jatuh tempo piutang Parking Surcharge atau biaya tambahan parkir LAG pada Bandara Kualanamu sebesar Rp57,02 miliar belum jelas penyelesaiannya.

PT AP II kehilangan kesempatan memperoleh pembagian pendapatan konsesi atas kegiatan penanganan Ground Handling untuk maskapai PT LAG pada tiga bandara, dan kerjasama pemanfaatan pasilitas komersial pada PT AP II, PT APA, dan PT APS tidak sesuai ketentuan.

Proses rekonsiliasi data pemungutan JKP2U/CSC belum memadai dan Aplikasi SIGO sebagai pendukung pengelolaan pendapatan jasa usaha kargo pada KC BHS belum dimanfaatkan secara optimal.

Kerjasama bisnis terindikasi fiktif atas pengiriman material proyek PLTU Transformer 2×3 MW Ampana pada PT APK merugikan keuangan perusahaan sebesar Rp8,67 miliar.

Kegiatan jasa penerbangan Charter dengan menggunakan blok waktu atau Blockhour pada PT APK tidak dilaksanakan sesuai dengan perjanjian, dan kerjasama pengiriman kargo pada PT APK tidak dilaksanakan sesuai dengan perjanjian.

PT APK melaksanakan kerjasama bisnis terindikasi fiktif terkait proyek bendungan Sadawarna Indramayu-Subang paket 3 merugikan perusahaan keuangan sebesar Rp1,69 miliar.

Kerjasama antara PT APK dengan PT STNS dalam proyek Handling dan pengiriman Scrap Kapal KM Pagaruyung disinyalir tidak sesuai ketentuan.

Kemitraan strategis PT AP II dan GMR Airport Consortium dalam pengelolaan Bandar Udara Internasional Kualanamu berpotensi menimbulkan permasalahan hukum.

Proses penyelesaian perjanjian konsesi jasa kebandarudaraan (Tahun 2018 s/d saat ini) untuk disepakati antara PT AP II dengan Direktorat Jenderal Perhubungan Udara Kementerian Perhubungan berlarut-larut.

Pembayaran premi atas tunjangan Asuransi Purna Jabatan atau Aspurjab tidak sesuai ketentuan sebesar Rp1,81 miliar, dan pemberian Insentif kerja pada PT AP II dan anak perusahaan tidak mempertimbangkan kondisi kinerja perusahaan.

Penunjukan langsung sewa kendaraan operasional pada Kantor Cabang Utama Bandara Internasional Soekarno – Hatta (KCU BSH) PT AP II tidak sesuai ketentuan.

Penempatan investasi dana pensiun karyawan PT AP II belum memberikan hasil yang optimal dan beban pengelolaan belum digunakan secara efisien, dan pertanggungjawaban anggaran beban pemasaran tidak sesuai keputusan Direksi PT AP II Nomor KEP.05.01/07/2012.

Pelaksanaan perjalanan dinas tidak sesuai peraturan direksi sebesar Rp673,86 juta dan tidak sesuai dengan jangka waktu penugasan sebesar Rp153,66 juta.

PT AP II menanggung pembayaran klaim manfaat Tunjangan Hari Tua atau THT Karyawan yang telah memasuki masa pensiun yang tidak dibayarkan oleh AJB Bumiputera 1992 minimal sebesar Rp134,77 miliar.

Pengelolaan aset/aktiva tetap pada PT AP II belum memadai, dan terdapat kemahalan harga pada pelaksanaan pekerjaan Airport Passanger Processing System (APPS) dari PT AP II yang dilaksanakan oleh Pihak Ketiga sebesar Rp4,96 miliar.

Pengadaan pekerjaan jasa kebersihan (Cleaning Service) dan jasa tenaga Aviation Security (Avsec) tidak sesuai ketentuan.

Pembangunan Hotel Integrated Building berlarut-larut dan berpotensi tidak dapat diselesaikan sesuai perjanjian kerja sama.

Pekerjaan terdampak pandemi Covid-19 berisiko mangkrak dan menimbulkan Dispute dengan Pihak Ketiga serta perencanaan investasi pada PT AP II belum didukung kajian kelayakan/feasibility study.

Kekurangan volume pada tujuh paket pekerjaan sebesar Rp2,66 miliar, pelaksanaan atas empat paket pekerjaan tidak sesuai ketentuan, investasi pada Bandara Jenderal Soedirman Wirasaba belum memberikan kontribusi, dan aset pekerjaan yang diserahterimakan belum dimanfaatkan sebesar Rp14,43 miliar.

Sekadar informasi, PT AP II merupakan salah satu perusahaan BUMN yang bergerak dalam bidang usaha pelayanan jasa kebandarudaraan dan pelayanan jasa terkait bandar udara.

PT APK juga perusahaan BUMN yang merupakan perusahaan kargo dan logistik yang bernaung di bawah PT Angkasa Pura Indonesia atau yang sebelumnya dikenal sebagai InJourney (sebelumnya gabungan dari Angkasa Pura I dan II), yang merupakan Holding BUMN di sektor aviasi dan pariwisata.

PT APA adalah anak perusahaan PT AP II yang didirikan dengan fokus pada pengelolaan kemitraan strategis dan operasional di bandara tertentu, salah satunya adalah Bandara Internasional Kualanamu. Perusahaan ini merupakan bagian dari BUMN dan bergerak di bidang jasa kebandarudaraan dan jasa terkait lainnya.

Hingga berita ini dipublikasikan, Senin (24/11/2025), pihak PT Angkasa Pura II belum terkonfirmasi untuk dimintai keterangannya terkait kasus yang diduga melibatkan sejumlah pihak tersebut. *(Tim)*

Red”

Kadus 2 Desa Purbayasa,Kecamatan Tonjong Klarifikasi Terkait Pemberitaan Sunat Anggaran RTLH

Tonjong,Brebes.LIN-RI.com//Jawa Tengah”25 – 11 – 2025.

Program RTLH (Rumah Tidak Layak Huni) yang diperuntukan untuk warga miskin,dengan anggaran sebesar Rp 10 juta yang diambil dari Dana Desa Purbayasa Tahun 2024 sebesar Rp 31.500.000,- untuk Tiga KPM (Keluarga Penerima Manfaat) yaitu RL,YN warga Rt 06 Rw 02 dan JM warga Rt 04 Rw 01 Desa Purbayasa,Kecamatan Tonjong,Kabupaten Brebes,Jawa Tengah.

Mengatakan dugaan itu tidak benar dengan adanya rumor di masyarakat.dari pemberitaan sebelumnya dengan judul

“Oknum Kadus Desa Purbayasa,Kecamatan Tonjong Di Duga Sunar Anggaran RTLH”

Adanya miskomunikasi antara Wartawan dan Narasumber.

Karno kardus dua desa perbayasa mengatakan” Anggaran yang diambil Dana Desa Tahun 2024 sebenarannya untuk 6 orang KPM (Keluarga Penerima Manfaat) Yaitu RL,YN,SP warga Rt 02 Rw 06 dan JM, SK,dan KS Warga Rt 04 Rw 01.bukan untuk tiga penerima manfaat. ucapnya

Dari para penerima manfaat membenarkan adanya bantuan RTLH berupa material sesuai dengan nilai anggaran yang dikucurkan oleh Desa Purbayasa sebesar Rp 31.500.000,- untuk 6 orang dan Per KPM menerima 5 juta.Lanjutnya

Kami dari tim media meminta maaf apabila di kepemerintahan telah membuat gaduh dan permasalahan ini di karna kan adanya di pemberitaan awal kami dari awak media kesulitan untuk mengklarifikasi keluhan warga penerima manfaat narasumber kami.

Harapan kami dari media dan tim lembaga kedepan bisa bersinergi dan apabila ada keluhan masyarakat bisa memberikan keterangan, demi transparansi publik. untuk Indonesia emas.tim investigasi jateng.

Redaksi

Tragis: Pemuda Cikelapa Tewas Akibat Overdosis Obat Terlarang Jenis Sulam

​CILACAP, -JAWA TENGAH

Warga Desa Cikelapa, Kecamatan Kedungreja, digegerkan dengan kabar meninggalnya seorang pemuda pada Selasa (24/11/2025) setelah diduga kuat mengalami overdosis akibat mengonsumsi obat terlarang jenis ‘Sulam’ atau yang biasa dikenal dengan sebutan ‘Koplo’.

​Korban, berinisial BD (28 tahun), dilaporkan telah mengonsumsi enam butir obat terlarang tersebut. Menurut keterangan yang dihimpun dari orang tua korban, obat-obatan mematikan itu dibeli dari wilayah sekitar Jembatan Dua Pasar Rebuan – Sidareja.

Sempat Ditolak Rumah Sakit

​Kondisi korban yang kritis membuat pihak keluarga segera membawanya ke Rumah Sakit Aqisna. Namun, upaya penyelamatan tersebut menghadapi kendala. Pihak Rumah Sakit Aqisna dilaporkan tidak sanggup menangani pengobatan korban dikarenakan pasien tersebut terindikasi telah mengonsumsi obat terlarang dengan dosis berlebihan.

​”Anak saya sempat kami bawa ke rumah sakit, tapi tidak sanggup ditangani karena sudah terlanjur mengonsumsi obat terlarang itu,” ujar salah satu orang tua korban.

​Setelah mendapatkan penanganan darurat, pasien terpaksa dibawa pulang kembali ke rumah. Tak lama setelah tiba di rumah, nyawa korban tidak dapat diselamatkan lagi. Kejadian tragis ini menjadi sorotan masyarakat dan kembali mengingatkan bahaya peredaran obat terlarang yang sudah lama meresahkan di wilayah Sidareja dan sekitarnya.

Desakan Orang Tua Korban: Berantas Pengedar!

​Meninggalnya sang anak menyisakan duka mendalam sekaligus memicu amarah orang tua korban. Mereka menyampaikan harapan dan desakan keras kepada aparat penegak hukum, khususnya di wilayah Kabupaten Cilacap, untuk segera memberantas tuntas para pengedar obat-obatan terlarang yang merusak generasi muda.

​”Kami masyarakat” mohon, berantas pengedar obat-obat terlarang di wilayah Kabupaten Cilacap. Jangan sampai ada korban berikutnya, apalagi ini menyangkut anak-anak, tunas bangsa,” pintanya dengan nada pilu.

​Peredaran obat terlarang di wilayah Sidareja – Cilacap telah menjadi isu krusial. Tragedi ini diharapkan dapat menjadi momentum bagi pihak kepolisian dan Badan Narkotika Nasional (BNN) untuk melakukan operasi penertiban yang lebih masif guna melindungi masyarakat, terutama generasi muda, dari bahaya penyalahgunaan narkotika dan obat-obatan terlarang.

Redaksi”

Polemik Diskon Solar Industri untuk Adaro: Strategi Bisnis atau Corporate Crime?

​JAKARTA, Detik Nasional – Kejaksaan Agung (Kejagung) terus mendalami dugaan kasus korupsi terkait tata kelola penjualan bahan bakar minyak (BBM) jenis solar industri oleh PT Pertamina Patra Niaga. Kasus ini telah menyeret 18 orang tersangka, termasuk pemeriksaan terhadap Direktur PT Adaro yang bergerak di bidang eksplorasi tambang.

​Pemeriksaan Terhadap PT Adaro

​Kejagung menemukan sejumlah informasi yang mengindikasikan adanya keterkaitan PT Adaro dengan para tersangka dalam kasus ini.

​Kapuspenkum Kejagung, yang saat itu menjabat, menjelaskan bahwa Garibaldi Thohir alias Boy Thohir melalui perusahaannya, PT Trinugaraha Thohir dan PT Adaro Strategic Investment, yang merupakan pemegang saham PT Adaro, adalah pelanggan lama PT Pertamina Patra Niaga dalam pembelian BBM.

​”Untuk keperluan operasional tambang, mereka rutin membeli solar industri,” ujar Kapuspenkum Kejagung, yang kini menjabat sebagai Kajati Sumatera Utara.

​Volume Pembelian: PT Adaro disebut membeli solar industri dengan volume besar, sekitar 500.000 hingga 600.000 kiloliter (KL) per tahun sejak tahun 2018.
​Kontrak: Berdasarkan data Kementerian ESDM, kontrak pembelian solar antara PT Adaro dan Pertamina disepakati pada Mei 2015 dan berlaku selama sepuluh tahun.
​Diskon Jual Beli yang Dinilai Janggal

​Fokus utama dari penyelidikan ini adalah adanya dugaan bahwa PT Adaro menerima diskon harga yang sangat besar dari Pertamina, yang dianggap tidak wajar.

Keterangan Diskon yang Diduga Diterima PT Adaro Diskon Pembeli Volume Besar Lainnya

Persentase Diskon 45-55% 22-32% (untuk pembelian tunai)

Kapuspenkum Kejagung saat itu merinci volume dan harga pembelian solar industri pada tahun 2021:

​Total Volume Pembelian Adaro (2021): 521.540 kiloliter.
​Harga Solar Industri Normal (2021): Kisaran Rp 12.000 per liter.
​Harga Bayar Adaro (2021): Rp 6.000 per liter.

​Nilai pembayaran ini dianggap janggal, terutama bila dibandingkan dengan harga solar subsidi yang saat itu mencapai Rp 9.700 per liter. Kewenangan pemberian diskon besar ini disebut berada di tangan Direktur Utama PT Pertamina Patra Niaga dan bisa disetujui oleh Direktur Utama PT Pertamina (sebagai induk perusahaan) jika pembelian berasal dari stok nasional.

​Penjelasan Mantan Dirut Pertamina Patra Niaga

​Dalam sidang dugaan korupsi PT Pertamina Patra Niaga, mantan Direktur Utama Patra Niaga, Alfian Nasution, memberikan penjelasan terkait harga yang lebih murah untuk PT Adaro.

​”Karena adanya rencana kompetitor yaitu Exxon yang akan masuk sebagai supplier ke Adaro, yang dikhawatirkan akan membuat efek negatif terhadap market PT Pertamina di wilayah Kalimantan,” demikian jaksa membacakan BAP milik Alfian.

​Keterangan ini mengindikasikan bahwa pemberian diskon fantastis tersebut merupakan strategi untuk mempertahankan pasar dan mengantisipasi masuknya pesaing.

​Tuntutan Komunitas Masyarakat Anti Korupsi Indonesia (K MAKI)

​Menanggapi fakta-fakta yang terungkap dalam sidang, Komunitas Masyarakat Anti Korupsi Indonesia (K MAKI) mendesak penegak hukum untuk menindak tegas PT Adaro.

​Deputy K MAKI, Ir. Feri Kurniawan, menyatakan:

​”Sudah seharusnya PT Adaro ditetapkan selaku terpidana Corporate Crime terkait penetapan Eks Direktur Utama PT Pertamina Patra Niaga periode 2023-2025, Riva Siahaan, selaku terdakwa di persidangan.”
​Feri menghitung bahwa selisih harga Rp 3.700 per liter dari harga solar subsidi, atau diskon yang diterima PT Adaro, diduga mencapai Rp 1,8 triliun per tahun sejak 2018.
​Feri lebih lanjut memperkirakan keuntungan yang diperoleh PT Adaro dari kebijakan diskon ini patut diduga mencapai Rp 12 triliun sejak tahun 2018.

​”Harusnya PT Adaro ditetapkan menjadi terduga pelaku corporate crime dalam perkara dugaan korupsi tata kelola penjualan minyak Pertamina,” tutup Feri.

​(Reporter: Hendrik MA)