Beranda blog Halaman 14

Tragedi Kemanusiaan di Merangin: Rumah Disabilitas Diratakan demi Koperasi, Hukum Rimba di Balik Aset Daerah?

0

MERANGIN – Praktik penggusuran paksa yang mengabaikan hak asasi manusia kembali terjadi di Kabupaten Merangin, Jambi. Seorang petugas kebersihan penyandang disabilitas, Yurnikawaty, kini harus luntang-lantung setelah rumah dinas yang ditempatinya puluhan tahun dihancurkan secara sepihak dan tanpa prosedur hukum yang jelas.

Korban adalah Yurnikawaty, seorang penyandang disabilitas yang mengabdi sebagai petugas kebersihan di Dinsos PPPA Merangin, beserta suaminya Masril dan anak mereka. Pelaku eksekusi hingga kini masih menjadi “misteri” karena pihak Koperasi Merah Putih membantah, sementara Dinsos PPPA terkesan melempar tanggung jawab.

Penghancuran paksa (eksekusi ilegal) satu unit rumah dinas transmigrasi yang dihuni korban sejak 1990 berdasarkan surat resmi bermeterai. Bangunan tersebut kini rata dengan tanah untuk kepentingan pembangunan Kantor Koperasi Merah Putih.

Kelurahan Pematang Kandis, Kabupaten Merangin, Jambi.

Eksekusi dilakukan secara mendadak pada Senin, 5 Januari 2026.

Diduga demi ambisi perluasan aset atau pembangunan kantor koperasi, yang ironisnya mengorbankan warga kecil dan disabilitas yang seharusnya dilindungi oleh negara (Dinsos).

Penghancuran dilakukan tanpa surat peringatan (SP), tanpa mediasi, dan tanpa pemberitahuan resmi. Korban kehilangan tempat tinggal dalam sekejap dan kini terpaksa menempati Balai Rehabilitasi Napza—sebuah lokasi yang tidak layak bagi keluarga dengan disabilitas fisik.
Poin Kritik Tajam:

Jika rumah tersebut adalah aset daerah, pengosongan wajib melalui tahapan SP 1, 2, dan 3. Tindakan menghancurkan tanpa surat resmi adalah bentuk kesewenang-wenangan (abuse of power) yang mencederai prinsip hukum.

Sangat memilukan bahwa Yurnikawaty adalah pegawai di bawah naungan Dinas Sosial PPPA. Alih-alih melindungi kaum disabilitas sesuai amanat UU No. 8 Tahun 2016, instansi ini justru seolah “buang badan” dan melempar urusan ke BPKAD saat pegawainya sendiri dizalimi.

Bantahan dari Bendahara Koperasi Merah Putih bahwa mereka bukan pelaku eksekusi menimbulkan pertanyaan besar: Siapa yang mendanai dan memerintahkan alat berat? Jika bukan dinas terkait atau koperasi, apakah ada pihak ketiga yang bermain di atas lahan tersebut?

Minimnya Empati Pemerintah Daerah: Menempatkan keluarga disabilitas di Balai Rehabilitasi Napza bukan sebuah solusi, melainkan bentuk pengabaian martabat manusia.
Kesimpulan:

Kasus ini bukan sekadar sengketa lahan, melainkan bukti nyata bobroknya koordinasi antar-instansi di Kabupaten Merangin yang mengorbankan kelompok rentan.

Pemerintah Kabupaten Merangin harus segera bertanggung jawab, memberikan ganti rugi, dan memberikan hunian yang layak bagi Yurnikawaty.

Lembaga Advokasi Masyarakat Merangin
Reporter Gondo Irawan

Red”

Rusak, Nyawa Melayang: PETI di Cigudeg Bogor Kian Tak Tersentuh Hukum

0

 

BOGOR,
Aktivitas Penambangan Emas Tanpa Izin (PETI) kembali mencuat di wilayah Kabupaten Bogor. Sejumlah lokasi di Kecamatan Cigudeg diduga menjadi titik operasi tambang emas ilegal yang melibatkan pekerja dari warga sekitar maupun luar daerah.

Aktivitas tersebut disinyalir telah berlangsung cukup lama tanpa tindakan tegas dari aparat kepolisian maupun Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), serta telah menyebabkan kerusakan serius pada kawasan hutan dan lahan penghijauan.

Berdasarkan informasi yang dihimpun, bahkan telah terjadi peristiwa longsor yang menelan satu korban jiwa. Korban diketahui merupakan pekerja pemahat yang disebut bekerja atas perintah pengelola tambang ilegal. Peristiwa tragis itu terjadi pada 22 Desember 2025.

Selain merusak lingkungan, aktivitas PETI juga memperparah risiko bencana alam. Penggundulan hutan dan penggerusan tanah akibat aktivitas penambangan diduga menjadi pemicu utama terjadinya longsor di kawasan tersebut.
Sejumlah pihak menilai aktivitas ilegal ini berlangsung secara terstruktur dan masif. Dugaan kuat adanya pembiaran membuat praktik PETI seolah berjalan tanpa hambatan.

Sementara itu, para aktivis lingkungan dan aktivis mahasiswa mendesak agar penanganan dilakukan secara serius, tegas, dan berkelanjutan.

“Jika terus dibiarkan, kerusakan ekosistem akan semakin sulit dipulihkan. Ini bukan sekadar pelanggaran hukum, tetapi menyangkut masa depan lingkungan dan keselamatan masyarakat,” tegas Yogi Ariananda Ketua Gerakan Mahasiswa dan Pemuda Republik Indonesia (GMPRI).Kamis (8/1/2026)

Desakan juga datang dari warga sekitar yang berharap pemerintah daerah segera turun tangan sebelum kerusakan alam semakin parah dan korban jiwa kembali bertambah.

Sampai berita ini diturunkan, pihak Kepolisian Polres Bogor maupun Dinas ESDM Kabupaten Bogor belum memberikan tanggapan resmi terkait maraknya aktivitas tambang emas ilegal di wilayah Kecamatan Cigudeg.

Red”Tim

KH. Zaky Mubarok: Ziaroh Keliling Bersama Majelis Dzikir & Ta’lim Nahdhotussyubban Kupas Perjuangan KH. Zainuddin MZ

0

BEKASI,
Suasana khidmat menyelimuti Kelurahan Jatibening Baru pada Kamis malam (8/1/2026). Berbondong-bondong jamaah dari berbagai penjuru Bekasi tampak hadir di Jalan H. Namat untuk mengikuti agenda Mingguan “Ziaroh Keliling” yang digelar oleh Majelis Dzikir & Ta’lim Nahdhotussyubban.

​Acara yang dimulai selepas Isya ini bukan sekadar ritual rutin, melainkan perjalanan spiritual yang membangkitkan kerinduan mendalam terhadap para ulama pejuang di tanah Bekasi.

*​Menelusuri Jejak Cahaya Para Guru*

​Lantunan dzikir yang menggema di sepanjang perjalanan membawa suasana syahdu bagi ratusan jamaah laki-laki dan perempuan. Kehadiran jamaah yang melimpah dari wilayah Pondok Melati, Bantar Gebang, hingga Jatiasih menjadi bukti betapa kuatnya magnet dakwah dibangun oleh Majelis Nahdhotussyubban.

​Ziaroh difokuskan untuk mendoakan tiga tokoh besar yang menjadi pilar keimanan di wilayah tersebut:

1. ​Almaghfurlah Dr. KH. Zainuddin MZ bin KH. Turmudzi: Sang “Da’i Berjuta Umat” sekaligus perintis pendidikan agama di Jakarta Selatan di Gg. Haji Aom.

2. ​KH. Madinah bin H. Namat: Tokoh visioner pendiri pusat peribadatan masyarakat.

3. ​KH. Abdurrahman bin KH. Madinah: Penggerak dakwah generasi muda yang kharismatik.

*​Pesan Menyentuh KH. Zaky Mubarok: “Ziaroh Adalah Jembatan Langit”*

​Puncak acara ditandai dengan tausiyah yang memukau dari KH. Zaky Mubarok, Pengasuh Pondok Pesantren Al-Hidayah sekaligus Ketua Majelis Nahdhotussyubban. Dengan nada suara yang bergetar penuh emosi, beliau menegaskan bahwa ziarah adalah media pengingat akan fana-nya dunia dan kekalnya nilai perjuangan.

​”Kegiatan ini adalah jembatan yang menghubungkan kita dengan Sang Pencipta, sekaligus pengingat akan warisan luhur para leluhur. Kita tidak hanya menghormati mereka, tapi memikul amanah untuk meneruskan nilai kejujuran dan cinta sesama yang mereka tanamkan,” ujar KH. Zaky Mubarok di hadapan jamaah yang tertunduk khusyuk.

​Banyak jamaah tak kuasa membendung air mata saat KH. Zaky Mubarok menjelaskan bagaimana pengajian dan kedekatan dengan ulama dapat menjadi pondasi utama dalam membangun keluarga yang harmonis dan penuh berkah.

​Meski malam semakin larut, antusiasme jamaah tidak surut. Sebelum keberangkatan menuju Maqbaroh, dilakukan doa perjalanan bersama sebagai simbol keselamatan dan keberkahan niat.

Kegiatan ini ditutup dengan suasana kekeluargaan yang kental, di mana para jamaah saling berbagi pengalaman spiritual yang mereka rasakan selama mengikuti majelis.

​Bagi masyarakat yang ingin ikut barisan kebaikan ini, Majelis Nahdhotussyubban membuka pintu selebar-lebarnya melalui informasi di kanal resmi:

​Facebook: Nahdhotussyubban
​YouTube: Nahdhotussyubban Channel (Live Streaming)
​Instagram: @mt_ns_official.

(Redaksi/Tim)

Ketua DPRD Humbang Hasundutan Hadiri Peresmian Koperasi PROGIB di Desa Lumban Purba

0

Humbang Hasundutan | Ketua DPRD Kabupaten Humbang Hasundutan, Parulian Simamora, menghadiri perayaan Natal SPPG Yayasan Karya Indonesia Emas yang dirangkaikan dengan peresmian Koperasi PROGIB (Koperasi Pemasaran Garda Kesehatan PROGIB Indonesia) di Desa Lumban Purba, Kecamatan Dolok Sanggul, Kabupaten Humbang Hasundutan, Sabtu, (3/12026).

Kegiatan tersebut turut dihadiri oleh perwakilan Bupati Humbang Hasundutan, Bapak M. Panjaitan selaku Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Humbang Hasundutan, yang secara resmi meresmikan Koperasi PROGIB. Kehadiran Ketua DPRD Parulian Simamora menjadi bentuk dukungan legislatif terhadap penguatan ekonomi kerakyatan dan program pemberdayaan masyarakat berbasis kesehatan dan pendidikan.

Dalam suasana penuh kebersamaan Natal, Parulian Simamora menyampaikan apresiasi atas inisiatif Yayasan Karya Indonesia Emas dan PROGIB yang dinilai mampu menghadirkan program nyata di tengah masyarakat. Menurutnya, keberadaan Koperasi PROGIB di Desa Lumban Purba diharapkan dapat menjadi motor penggerak ekonomi lokal sekaligus mendukung pemenuhan gizi dan peningkatan kualitas sumber daya manusia, khususnya bagi anak-anak usia sekolah.

Perayaan Natal dipimpin oleh Pdt. Yudhi Simangunsong, M.Th, yang dalam siraman rohaninya menekankan bahwa kehadiran program MBG di Desa Lumban Purba merupakan berkat bagi masyarakat karena mampu merangkul potensi desa, menggerakkan ekonomi kerakyatan, serta memberikan manfaat langsung bagi anak-anak mulai dari PAUD, TK, SD, SMP, Madrasah hingga SMA.

Turut hadir dalam kegiatan tersebut Dewan Penasihat DPP PROGIB Abednego Panjaitan, SH, Dewan Pembina PROGIB Kombes Pol (Purn) Dr. Tuankus Harianja, MH, Ketua Yayasan Karya Indonesia Emas Dimpos Simamora, S.E., S.H, Kepala Desa Lumban Purba Marlon Silaban, Korwil BGN Humbang Hasundutan, Kepala SPPG, relawan Yayasan Karya Indonesia Emas, ahli gizi dan akuntan, Ketua Koperasi PROGIB, serta perwakilan Danramil Kecamatan Onan Ganjang dan Kecamatan Dolok Sanggul.

Kehadiran Ketua DPRD Kabupaten Humbang Hasundutan dalam acara ini menegaskan komitmen DPRD untuk terus mendukung program-program pemberdayaan masyarakat yang berdampak langsung pada kesejahteraan rakyat, sejalan dengan semangat kebersamaan dan pembangunan berkelanjutan di Kabupaten Humbang Hasundutan.

Red”

Fosil Pertama dari Periode Evolusi Manusia Ditemukan di Maroko

0

Casablanca – Fosil pertama dari periode evolusi manusia yang selama ini masih belum terpahami yang ditemukan di Maroko dipandang dapat membantu para ilmuwan memecahkan misteri yang telah lama ada: Siapa yang hidup sebelum kita?

Tiga tulang rahang, termasuk satu dari seorang anak, gigi, tulang belakang, dan tulang paha ditemukan dari sebuah gua yang dikenal sebagai Grotte à Hominidés di Thomas Quarry di Casablanca, Maroko, baru-baru ini. Fosil purba tersebut diketahui berasal dari 773.000 tahun yang lalu. Fosil-fosil ini menarik bagi para ilmuwan karena merupakan fosil hominin pertama dari periode ini yang ditemukan di Afrika.

“Ada banyak fosil hominin di Afrika hingga sekitar satu juta tahun yang lalu, tetapi setelah itu ada lompatan ke sekitar 500.000 tahun yang lalu, dan dalam celah ini kita hampir tidak memiliki informasi apa pun,” kata Jean-Jacques Hublin, penulis studi yang diterbitkan pada hari Rabu di jurnal ilmiah Nature.

“Sangat menggembirakan menemukan fosil tepat di tengah celah ini,” tambah Hublin, seorang paleoantropolog di Collège de France dan Institut Max Planck untuk Antropologi Evolusi di Leipzig, Jerman.

Pemindaian CT dan analisis fitur fosil mengungkapkan nenek moyang yang memiliki “mozaik” fitur primitif dan yang lebih berevolusi. Misalnya, ia tidak memiliki dagu yang jelas, tidak seperti Homo sapiens, tetapi gigi dan fitur gigi lainnya cukup mirip dengan spesies kita sendiri dan Neanderthal.

Sebagian besar fosil digali pada tahun 2008 dan 2009, tetapi penanggalannya dipastikan jauh lebih baru, kata Hublin, menggunakan teknik yang dikenal sebagai paleomagnetisme, yang mendeteksi tanda geologis dari pembalikan medan magnet Bumi pada mineral tertentu dengan sifat magnetik.

Kekuatan medan magnet Bumi berfluktuasi, dan, kadang-kadang, kutub utara dan selatan magnet telah berbalik. Tim peneliti menemukan bahwa lapisan tempat fosil ditemukan bertepatan dengan transisi Matuyama-Brunhes, penanda kronologis terkenal yang berasal dari 773.000 tahun yang lalu dan merupakan pembalikan kutub utama terakhir.

Jean-Paul Raynal dan Jean-Jacques Hublin di depan rahang bawah ThI-GH-10717 saat bergelut pada Mei 2008 (Foto A. Mohib, Program Prasejarah Casablanca)

Penulis bersama studi, Serena Perini, seorang ahli geologi dan paleomagnetis di Universitas Milan, Italia, mengatakan dalam sebuah pernyataan bahwa teknik tersebut memungkinkan tim untuk “menetapkan keberadaan hominin ini dalam kerangka kronologis yang sangat tepat.”

Sisa-sisa Homo sapiens tertua yang diketahui di dunia juga telah ditemukan di Maroko di situs yang dikenal sebagai Jebel Irhoud, dan berasal dari 400.000 tahun yang lalu. Namun, Hublin mengatakan bahwa akan keliru jika menganggap wilayah ini sebagai tempat persis munculnya spesies kita. Kemungkinan besar, itu adalah hasil dari kondisi geologis di wilayah tersebut yang memungkinkan fosil terawetkan dengan sangat baik.

Hublin mencatat bahwa gua tempat tinggal individu-individu ini pasti merupakan tempat yang berbahaya. Tulang kaki tersebut dipenuhi bekas gigitan predator, kemungkinan besar hyena, dan ada banyak bukti bahwa karnivora mendiami gua tersebut.

Fosil-fosil yang baru dideskripsikan ini penting karena memberikan pencerahan tentang spesies leluhur dari tiga jenis manusia yang hidup paling baru: Neanderthal, Denisovan, dan tentu saja, Homo sapiens, satu-satunya spesies manusia yang masih hidup.

Neanderthal dan Denisovan diperkirakan punah sekitar 40.000 tahun yang lalu, meskipun waktu kepunahan Denisovan, populasi misterius yang pertama kali diidentifikasi pada tahun 2010, kurang jelas.

Nenek moyang terakhir dari ketiga kelompok manusia tersebut, terkadang disebut nenek moyang x, adalah “sosok yang sulit dipahami,” menurut Antonio Rosas, seorang peneliti di departemen paleobiologi di Museum Nasional Ilmu Pengetahuan Alam di Madrid.

“Perdebatan tentang fosil mana yang mungkin mewakili titik evolusi penting ini masih berlanjut, dan mengidentifikasi nenek moyang ini dengan benar sangat penting untuk memahami arah perubahan evolusi selanjutnya,” tulis Rosas, yang tidak terlibat dalam penelitian ini, dalam sebuah komentar yang diterbitkan bersamaan dengan penelitian baru tersebut.

Bukti genetik menunjukkan bahwa nenek moyang ini hidup sekitar 550.000 hingga 765.000 tahun yang lalu sebelum terpecah menjadi tiga spesies saudara yang terpisah, catat penelitian tersebut, tetapi tidak jelas spesies leluhur apa itu atau di mana ia hidup.

Kandidatnya termasuk Homo antecessor, sekelompok fosil yang ditemukan di sebuah gua di Atapuerca, Spanyol, yang berasal dari waktu yang hampir sama dengan fosil Maroko, dan spesies yang dikenal sebagai Homo heidelbergensis, yang fosilnya telah ditemukan di Afrika dan Eurasia.

Meskipun para peneliti belum memberikan nama ilmiah formal pada fosil Maroko tersebut, Hublin mengatakan bahwa sisa-sisa tersebut menyerupai spesies lain yang disebut Homo erectus tetapi juga tampak sebagai nenek moyang dekat manusia modern.

“Pertanyaannya kemudian adalah apakah populasi Homo erectus secara langsung melahirkan semuanya, termasuk manusia, Neanderthal, dan Denisovan, atau apakah ada garis keturunan yang dapat ditelusuri dengan perubahan yang dapat diamati di sepanjang jalan,” kata Ryan McRae, seorang paleoantropolog di Smithsonian Institute of Technology. (PERSISMA/Red)

Tingkatkan Akselerasi Pelayanan, Pemdes Cinyawang Resmi Lantik Sekdes dan Kadus Magersari

0

PATIMUAN, CILACAP – Pemerintah Desa Cinyawang resmi memperkuat struktur organisasinya melalui Upacara Pengambilan Sumpah/Janji dan Pelantikan Perangkat Desa baru.

Acara ini dipimpin langsung oleh Kepala Desa Cinyawang, Bapak Wasikun Budianto, bertempat di Aula Pertemuan Desa Cinyawang dalam suasana yang khidmat dan penuh rasa kekeluargaan.

Dua posisi strategis kini telah resmi terisi oleh pejabat baru hasil seleksi penyaringan, yaitu:
Aprisetyo Pambudi sebagai Sekretaris Desa (Sekdes) Cinyawang.

Untung Purwanto sebagai Kepala Dusun (Kadus) Magersari.

1. Arahan Kades Wasikun Budianto: Integritas dan Inovasi
Dalam sambutan pertamanya, Kepala Desa Wasikun Budianto menekankan bahwa pelantikan ini adalah langkah strategis untuk mempercepat akselerasi pelayanan publik di Desa Cinyawang.

“Jabatan adalah amanah yang harus dijalankan dengan penuh tanggung jawab. Saya berharap Saudara Aprisetyo dan Saudara Untung segera membaur dengan tim yang ada.

Dengan kolaborasi yang solid, saya yakin kita mampu membawa Desa Cinyawang menjadi desa yang lebih maju, transparan, dan inovatif,” ujar Wasikun.

2. Pesan Camat Patimuan: Loyalitas dan Pamong Masyarakat
Camat Patimuan, Bapak Asep Kuncoro, memberikan penguatan dari sisi kedisiplinan birokrasi.

Beliau mengingatkan bahwa perangkat desa adalah “pamong” yang menjadi ujung tombak pelayanan di tingkat bawah.

“Perangkat desa harus memiliki loyalitas tinggi dan kedisiplinan.

Sekdes harus menjadi motor penggerak administrasi yang tertib, sementara Kadus harus peka terhadap dinamika warga di lapangan.

Jadilah pelayan masyarakat yang responsif dan selalu bersinergi dengan Forkopimcam demi menjaga kondusivitas wilayah,” tegas Camat Asep.

3. Arahan Dispermades Cilacap: Tata Kelola Digital dan Regulasi
Menutup rangkaian sambutan, Bapak Cahyo Wismoyo, Kabid Bidang 1 Dispermades Kabupaten Cilacap, memberikan pembekalan teknis mengenai standar tata kelola pemerintahan di tingkat kabupaten.

“Kami menekankan pentingnya penguasaan regulasi dan adaptasi terhadap sistem birokrasi digital.

Transparansi dalam pengelolaan keuangan desa adalah hal utama.

Saya berharap perangkat yang baru dilantik mampu menjaga akuntabilitas kerja sehingga Desa Cinyawang dapat menjadi contoh tertib administrasi di Kabupaten Cilacap,” jelas Cahyo Wismoyo.

Sinergi Lintas Sektoral
Acara ini turut dihadiri oleh jajaran Forkopimcam Patimuan, Korwil Pendidikan, Korwil Kesehatan (Puskesmas), Paguyuban Kades dan Sekdes se-Kecamatan Patimuan, BPD Cinyawang, serta Tokoh Masyarakat dan Tokoh Agama.

Kehadiran berbagai unsur ini menegaskan komitmen Desa Cinyawang untuk bersinergi lintas sektoral dalam meningkatkan kualitas SDM dan taraf kesehatan masyarakat.

Kegiatan diakhiri dengan doa bersama yang dipimpin tokoh agama setempat, dilanjutkan dengan pemberian ucapan selamat dan sesi foto bersama sebagai simbol kekompakan seluruh elemen pimpinan di Kecamatan Patimuan.

Redaksi”Tugiman

PPWI dan Dubes Aljazair Gelar Pertemuan Silaturahmi Bahas Kerja Sama Sosial Budaya

0

Jakarta – Dalam suasana hangat dan penuh keakraban, Persatuan Pewarta Warga Indonesia (PPWI) menggelar pertemuan khusus dengan Duta Besar Republik Demokratik Rakyat Aljazair untuk Indonesia, Yang Mulia Dr. Abdelouahab Osmane. Pertemuan berlangsung pada Rabu malam, 7 Januari 2026, pukul 19.00 WIB, di Jakarta, dengan format makan malam bersama yang berlangsung selama dua jam.

Hadir mewakili PPWI, Ketua Umum Wilson Lalengke dan Wakil Ketua III Dewan Pengurus Nasional PPWI, Abdul Rahman Dabbousi. Kedua tokoh ini menyampaikan apresiasi atas sambutan hangat dari pihak Kedutaan Besar Aljazair dan menegaskan komitmen PPWI untuk memperkuat hubungan antarbangsa melalui jalur pemberitaan, pendidikan, dan kegiatan sosial budaya.

Pertemuan tersebut bertujuan membangun silaturahmi dan membuka ruang diskusi mengenai berbagai program kerja sama yang dapat dijalankan antara PPWI dan Kedutaan Besar Aljazair. Beberapa agenda yang dibahas meliputi kolaborasi dalam bidang pemberitaan, pertukaran informasi dan liputan lintas negara, kegiatan sosial budaya yang memperkenalkan kekayaan tradisi masing-masing bangsa, serta program pendidikan dan pelatihan bagi warga kedua negara.

Salah satu gagasan yang mendapat perhatian khusus adalah rencana kunjungan muhibah atau program home-stay antar masyarakat Indonesia dan Aljazair. Program ini diharapkan dapat mempererat hubungan antarwarga, memperluas pemahaman lintas budaya, dan membuka peluang kerja sama di tingkat akar rumput.

Yang Mulia Dr. Abdelouahab Osmane menyambut baik pertemuan tersebut dan menyampaikan rasa gembira atas inisiatif PPWI. Ia menilai silaturahmi semacam ini sangat penting untuk membangun jembatan komunikasi yang kuat antara masyarakat sipil kedua negara. “Saya sangat senang bisa bertemu dengan PPWI. Pertemuan ini membuka peluang besar untuk kerja sama yang saling menguntungkan, terutama dalam bidang sosial budaya dan pendidikan, juga ekonomi-perdagangan,” ujar Dr. Osmane.

Dalam suasana penuh kehangatan, kedua pihak saling bertukar kartu nama sebagai simbol komitmen untuk menjaga komunikasi dan memperkuat hubungan kelembagaan. Ketum PPWI juga menyematkan PIN PPWI sebagai tanda persaudaraan ke baju batik hitam yang dikenakan sang Dubes. Ucapan terima kasih pun disampaikan satu sama lain, menandai berakhirnya pertemuan dengan semangat positif dan harapan besar akan kolaborasi yang berkelanjutan.

Ketua Umum PPWI, Wilson Lalengke, menyatakan bahwa pertemuan ini merupakan langkah awal yang strategis dalam membangun diplomasi warga. “Kami percaya bahwa hubungan antarbangsa tidak hanya dibangun oleh pemerintah, tetapi juga oleh masyarakat sipil. PPWI siap menjadi jembatan komunikasi dan kerja sama antara Indonesia dan Aljazair,” tegas Wilson.

Dengan semangat silaturahmi dan kolaborasi, pertemuan ini menjadi tonggak penting dalam memperkuat hubungan bilateral melalui pendekatan budaya, pendidikan, dan pemberitaan yang inklusif dan partisipatif. (TIM/Red)

Digaji Selangit, Putusan Justru Melukai Rasa Keadilan Rakyat

0

Tembilahan — Di tengah gencarnya negara menggelontorkan gaji dan tunjangan fantastis bagi hakim hingga puluhan bahkan ratusan juta rupiah per bulan, kepercayaan publik terhadap wajah keadilan di Indonesia, termasuk di Kabupaten Indragiri Hilir (Inhil), justru terasa gelap. Berdasarkan dokumen resmi Referensi Tunjangan PNS Kementerian Keuangan RI (PP Nomor 42 Tahun 2025), tunjangan hakim berada di level tertinggi dalam struktur penggajian Aparatur Sipil Negara.

Untuk jabatan tertentu, tunjangan hakim tercatat mencapai Rp110,5 juta per bulan, dengan usia pensiun hingga 67 tahun. Angka ini menempatkan hakim sebagai profesi dengan penghargaan finansial paling tinggi di jajaran birokrasi negara.

Namun, besarnya penghargaan itu berbanding terbalik dengan persepsi publik tentang kinerja hakim di negara ini, khususnya di Inhil. Sejumlah putusan dan proses hukum dinilai belum sepenuhnya mencerminkan rasa keadilan masyarakat. Publik mempertanyakan: apakah tunjangan besar benar-benar melahirkan keberanian moral, atau justru memperlebar jarak antara palu hakim dan nurani rakyat?

Tingginya tunjangan hakim sejatinya adalah investasi moral. Negara ingin memastikan hakim berdiri tegak, berani, dan tidak tergoda oleh suap atau tekanan politik. Dengan tunjangan selangit, diharapkan hakim mampu menjaga integritas, menegakkan hukum tanpa pandang bulu, serta melindungi kepentingan rakyat kecil.

Namun di Indragiri Hilir, investasi itu justru memantik pertanyaan publik. Sejumlah perkara yang pernah dipublikasikan media memperlihatkan putusan yang dinilai tidak berpihak pada masyarakat. Memori kolektif warga merekam kasus-kasus konkret yang menimbulkan luka keadilan, antara lain dicatatkan bertikut ini.

1. Korupsi BPR Gemilang Inhil (2022–2024)

Kasus korupsi BPR Gemilang menjadi contoh paling menonjol. Pada 2023, majelis hakim tingkat pertama menjatuhkan putusan bebas terhadap tiga terdakwa, meski perkara tersebut menyangkut kerugian keuangan daerah dan menjadi perhatian luas publik.

Putusan ini memicu kritik tajam dari masyarakat dan media. Keraguan publik akhirnya menemukan pembenaran ketika pada 2024, Mahkamah Agung membatalkan putusan bebas tersebut dan menyatakan terdakwa bersalah. Fakta ini meninggalkan luka kepercayaan: jika MA bisa melihat kesalahan, mengapa pengadilan di bawahnya gagal?

2. Korupsi Dana Desa (2021–2023)

Sejumlah perkara korupsi dana desa di Inhil yang menyeret kepala desa dan perangkat desa juga menuai sorotan. Vonis yang dijatuhkan dinilai ringan dan tidak sebanding dengan dampak sosial yang dirasakan warga.

Media lokal mencatat bagaimana pembangunan desa terhenti, hak masyarakat terampas, namun hukuman yang dijatuhkan tidak memberi efek jera. Publik pun bertanya: di mana keberpihakan hukum ketika korban sesungguhnya adalah warga desa sendiri?

3. Sengketa Lahan Masyarakat vs Korporasi (2019–2024)

Dalam sengketa lahan, masyarakat kecil yang telah mengelola tanah turun-temurun kerap kalah ketika berhadapan dengan perusahaan bermodal besar. Putusan pengadilan dinilai lebih mengutamakan dokumen administratif dibanding fakta penguasaan fisik dan sejarah pengelolaan lahan oleh warga.

Kasus-kasus ini, yang berulang kali diberitakan media, memperkuat persepsi publik bahwa hukum lebih ramah kepada pemilik modal dibanding rakyat kecil.

Ketika hakim menerima tunjangan puluhan juta rupiah per bulan, publik berharap ada keberanian ekstra dalam melindungi yang lemah. Namun rangkaian perkara di atas justru melahirkan kesan sebaliknya: hukum terasa kaku ke atas, tetapi berat ke bawah.

Tokoh HAM internasional, Wilson Lalengke, yang juga adalah Ketua Umum Persatuan Pewarta Warga Indonesia (PPWI), menilai besarnya tunjangan hakim seharusnya sejalan dengan keberanian moral dan keberpihakan terhadap keadilan substantif, bukan sekadar kepatuhan administratif.

“Tunjangan besar yang diberikan negara kepada hakim bukan untuk membeli kepatuhan pada prosedur kaku, tetapi untuk memastikan hakim punya keberanian moral berpihak pada kebenaran dan keadilan rakyat. Jika rakyat kecil terus kalah dan keadilan hanya ramah kepada pemilik modal, maka yang patut dipertanyakan bukan hanya putusannya, tetapi juga integritas sistem peradilan itu sendiri,” tegas alumni PPRA-48 Lemhannas RI tahun 2012 itu.

Menurutnya, ketika Mahkamah Agung mampu membatalkan putusan keliru di tingkat bawah, itu menandakan adanya persoalan serius pada sensitivitas keadilan di daerah. “Hakim di daerah harus sadar, palu yang mereka ketuk bukan hanya memutus perkara, tapi menentukan hidup, masa depan, dan kepercayaan publik terhadap negara. Jika keadilan terus melukai rasa keadilan masyarakat, maka tunjangan setinggi langit pun kehilangan makna etiknya,” tambahnya.

Wilson Lalengke menegaskan bahwa kritik publik terhadap putusan hakim bukan bentuk pelecehan lembaga peradilan, melainkan alarm demokrasi yang sah. “Mengkritik putusan yang melukai rasa keadilan adalah hak warga negara. Justru berbahaya bila hakim anti-kritik, karena di situlah keadilan berubah menjadi kekuasaan yang dingin dan jauh dari nurani rakyat,” pungkasnya.

Publik hari ini tidak sedang menyerang pribadi hakim, melainkan menagih makna dari tunjangan besar yang diberikan negara. Tunjangan itu bukan hadiah, melainkan amanah moral. Hakim dituntut untuk menjadikan keadilan sebagai pedoman, bukan sekadar prosedur.

Jika keadilan terus dirasakan jauh dari rakyat kecil, maka wajar bila publik mempertanyakan: apakah tunjangan tinggi benar-benar melahirkan keberpihakan, atau justru memperlebar jurang antara palu hakim dan rasa keadilan masyarakat? (RML/Red)

Upaya Penanganan Bencana Banjir Bandang Desa Adisana Bumiayu Brebes.

0

Brebes,Bumiayu 7/1/2026 Satgas Kebencanaan desa adisana dan pemerintah desa Adisana mengundang beberapa anggota DPRD Brebes untuk berkonsolidasi membahas terjadi nya bencana banjir yang terjadi di desa Adisana.
Rapat konsolidasi di kantor pemerintah desa Adisana kec. Bumiayu, kab.Brebes Jawa Tengah

Dalam pertemuan nya Anggota dewan dari komisi lll fraksi PAN Ade Apriyanto,S.Si. menawarkan ide dan berinisiatif untuk memecahkan solusi nya agar melibatkan pihak ketiga untuk normalisasi titik utama masuknya banjir yaitu sungai keruh yang kerap kali menimbulkan banjir bandang di setiap musim hujan yang mengalir deras dan meluap ke desa adisana yang menimbulkan banyak dampak kerugian baik dari infrastruktur, pertanian dan sejumlah lintas jalan utama

Tiga anggota dewan fraksi Gerindra H.Nur Endro, fraksi PDIP hj nur bintang, fraksi PAN Ade Apriyanto dan perwakilan dewan provinsi dari fraksi PKS sururul Fuad apipudin berdialog langsung dengan satgas bencana dan pemerintah desa Adisana.

Atas usulan anggota dewan Apriyanto untuk melibatkan pihak ketiga satgas mengundang pengusaha kontraktor dan jasa Alat berat fajar karya Slamet faka dan dedy , mengingat saat ini pemerintah daerah sedang mengefisiensi pengeluaran anggaran,

Inisiatif pemerintah desa dan peran seluruh masyarakat dan juga wakil rakyat perlu di wujudkan

Ketua satgas bencana desa adisana Masrukhan Fauzi memberikan penjelasan nya di depan forum konsolidasi dalam rangkaian terjadi nya bencana banjir yang memperhatikan melalui rekaman layar monitor yang disaksikan langsung oleh seluruh forum tersebut.

Kepala desa Ahmad Yani dan seluruh jajaran perangkat desa mengapresiasi inisiatif dari salah satu dewan dari fraksi PAN Ade Apriyanto yang telah memberikan solusi terhadap langkah yang telah diberikan dalam penanggulangan bencana banjir.

harapkan satgas kebencanaan dan pemerintah desa terhadap anggota dewan agar bisa menjembatani langkah koordinasi dengan pemerintah provinsi seperti Dinas ESDM (Energi dan Sumber Daya Mineral) Provinsi, BWS ( balai wilayah sungai ) dan dinas dinas terkait

Red”Eko

Android Anak Wakil Ketua Umum Salah Satu DPP Organisasi Pers Dicuri, Polisi Diminta Segera Bertindak Tegas

0

KAMPAR, RIAU — Kasus kehilangan satu unit telepon genggam Android merek Infinix G70 yang dialami Aldo Alfredo Saragih kini menjadi perhatian publik. Aldo, anak dari Pajar Saragih—pengurus Perkumpulan Redaksi Indonesia Maju (PRIMA) sekaligus Wakil Ketua Umum DPP Solidaritas Wartawan Indonesia (SWI)—secara resmi melaporkan peristiwa tersebut ke Polsek Tapung Hulu, Rabu, 7 Januari 2026.

Kehilangan diketahui saat korban terbangun dari tidurnya di rumah milik pamannya, Marupa Saragih, yang beralamat di Dusun I Handayani RT/RW 001/003, Desa Sukaramai, Kecamatan Tapung Hulu, Kabupaten Kampar. Ponsel yang disimpan sebelumnya diketahui telah raib, menyebabkan kerugian sekitar Rp1,7 juta, termasuk hilangnya data-data penting pelajaran.

Pajar Saragih menilai peristiwa ini bukan sekadar pencurian biasa. Ia menegaskan, kejadian serupa kerap berulang di wilayah tersebut dan hingga kini belum pernah terungkap secara terang.

“Saya tidak menilai dari besar kecilnya kerugian. Yang saya persoalkan adalah rasa aman warga yang dirampas. Pencurian di lingkungan ini sudah berulang, pelaku seolah bebas, dan masyarakat hidup dalam ketidaknyamanan,” ujar Pajar dengan nada geram.

Ia bahkan menduga kuat bahwa rangkaian pencurian yang terjadi selama ini dilakukan oleh pelaku yang sama, namun belum tersentuh hukum. Menurutnya, dengan teknologi kepolisian saat ini, pelacakan perangkat elektronik semestinya bukan perkara sulit.

“Jangan sampai kasus ini dibiarkan mengendap. Pers dan kepolisian adalah mitra strategis dalam menjaga keadilan dan keterbukaan. Jika hukum kalah oleh maling kecil, maka yang runtuh bukan hanya kepercayaan warga, tetapi juga marwah pers dan kepolisian itu sendiri,” tegasnya.

Menanggapi hal tersebut, Kapolsek Tapung Hulu IPTU Riko Riki Mazri, SH, MH menegaskan bahwa pihaknya berkomitmen penuh mengungkap kasus pencurian tersebut secara profesional dan sesuai aturan hukum.

“Laporan sudah kami terima secara resmi. Kami pastikan setiap laporan masyarakat akan ditindaklanjuti. Saat ini anggota kami tengah melakukan langkah-langkah penyelidikan sesuai prosedur yang berlaku,” tegas IPTU Riko Riki Mazri.

Ia menekankan, Polsek Tapung Hulu tidak memberikan toleransi terhadap pelaku kejahatan yang mengganggu rasa aman masyarakat.

“Tidak ada ruang bagi pelaku pencurian di wilayah hukum kami. Apabila ditemukan unsur pidana, pelaku akan diproses sesuai hukum. Ini adalah komitmen kami dalam menjaga keamanan dan ketertiban masyarakat,” ujarnya.

Kapolsek juga menegaskan pentingnya sinergi antara kepolisian dan insan pers.

“Kami memandang pers sebagai mitra strategis. Kritik dan kontrol sosial adalah bagian dari demokrasi. Polsek Tapung Hulu berkomitmen bekerja secara transparan, profesional, dan berkeadilan demi menjaga kepercayaan publik,” pungkasnya.

Kasus ini kini dalam penanganan Polsek Tapung Hulu, Polres Kampar, dan menjadi ujian nyata keseriusan aparat penegak hukum dalam menjawab keresahan masyarakat. (Tim Redaksi).