Beranda blog Halaman 47

SKANDAL GANDA BANSOS BREBES:

‘Corong Pemdes’12-10-2025.

 

Sirampog, Brebes,Jawa Tengah”– Penyaluran Bantuan Sosial (Bansos) beras untuk warga Desa Igir Klanceng, Kecamatan Sirampog, Kabupaten Brebes, telah memicu skandal ganda yang merugikan KPM.

Selain dugaan pungli, kasus ini juga menyeret isu pelanggaran etika pers menyusul upaya Pemerintah Desa (Pemdes) merilis bantahan secara tidak proporsional.

Akar Masalah: Dugaan Pungli dan Pengabaian KPM
Pada 7 Agustus 2025, Tim investigasi dari media mengungkap adanya praktik merugikan di Desa Igir Klanceng, berpotensi melanggar hukum dan etika publik:

* Pemotongan Jatah: Warga penerima yang seharusnya menerima 20 kg beras, diklaim hanya menerima 10 kg.

* Pungutan Wajib: KPM diwajibkan membayar Rp10.000 per karung sebagai “tebusan”.

* Pengakuan Oknum: Kadus 03 (MJ) disebut membenarkan pungutan tersebut dengan dalih untuk konsumsi perangkat desa.

* Menghindari Konfirmasi: Pihak Sekretaris Desa (Sekdes) dilaporkan mengabaikan dan menolak upaya konfirmasi dari media yang meliput.

Reaksi Kontroversial: Manuver ‘Klarifikasi Siluman’
Alih-alih merespons secara resmi atau menggunakan Hak Jawab kepada tim investigasi Pemdes Igir Klanceng memilih jalur kontroversial dengan menyampaikan klarifikasi melalui media Suluhnusantara dan media lingkar aktual

Pemdes membantah keras tuduhan tersebut dengan klaim:

* Iuran Sukarela: Uang Rp10.000 disebut bukan pungli, melainkan iuran sukarela untuk PMI yang disepakati oleh warga.

* Penyaluran Bertahap: Pemotongan jatah beras dijelaskan sebagai penyaluran bertahap (jatah dua bulan, disalurkan satu bulan terlebih dahulu).

Manuver ini dinilai sebagai taktik penghindaran tanggung jawab dan upaya mengendalikan narasi di ruang publik.

Pelanggaran Etika dan Tuntutan Keadilan
Keputusan Pemdes dan 2 oknum wartawan dari media yang terlibat menciptakan masalah etika serius:

* Kepala Desa/Pemdes: Tindakan menghindari media sumber berita menunjukkan dugaan keengganan untuk bersikap transparan.

Hal ini secara langsung merusak kredibilitas Pemdes sebagai pelayan publik.

* 2 Oknum Wartawan Suluhnusantara dan lingkar aktual: Diduga melanggar prinsip Keberimbangan Jurnalistik.

Kabiro Suluhnusantara dan Biro lingkar aktual wilaya Berebes, Jawa Tengah, disebut tidak mengkonfirmasi data dari media pembuat berita awal.

Ini menjadikan berita klarifikasi tersebut sebagai ‘corong’ eksklusif Pemdes yang tidak akurat dan tidak berimbang.

Tuntutan Aksi Nyata kepada Lembaga Berwenang
Publik mendesak adanya tindak lanjut yang serius dan tegas:

* Desakan kepada APH: Aparat Penegak Hukum didesak untuk segera mengusut tuntas dugaan pungli dan pemotongan bantuan beras.

Perbedaan keterangan harus diuji secara hukum demi menjamin keadilan bagi KPM.

* Himbauan Keras kepada Dewan Pers: Dewan Pers diimbau untuk memberikan sanksi etik tegas kepada 2 oknum wartawan/media Suluhnusantara, Lingkar Aktual atas pelanggaran prinsip Hak Jawab dan Keberimbangan Berita.

Permintaan tegas kepada pimpinan redaksi media Suluhnusantara dan Pimpinan redaksi Lingkar Aktual, 2 oknum wartawan (Rizal Ismoyo, Heru Mustopa) yang melakukan melanggar norma etika jurnalistik untuk diberikan sangsi dengan tegas.

“saya pimpinan redaksi media lin-ri meminta kepada kepala desa untuk adakan konferensi pesr dibalai desa secara terbuka, supaya terang dan jelas kebenaran nya agar publik bisa menel’a informasi yang akurat “pinta tri

Kasus ini adalah ujian bagi Dewan Pers untuk menjaga independensi dan profesionalisme pers Indonesia.
( Tim Advokasi dan Investigasi Jawa Tengah )

Redaksi”

Tulus Melawan Kerakusan Sifat dan Karakter Sang Pemuja Dunia

Oleh : Dede Farhan Aulawi

Di negeri yang kaya akan sumber daya ini, ironi terasa begitu nyata. Hutan yang hijau, tambang yang melimpah, laut yang luas, dan tanah yang subur, semua anugerah Tuhan yang seharusnya dinikmati oleh seluruh rakyat justru menjadi ladang kekuasaan segelintir orang. Mereka yang duduk di kursi empuk, yang berseragam rapi dan berwajah polos serta ramah di depan kamera, seringkali menyembunyikan kerakusan di balik janji-janji pembangunan.

Kerakusan itu tidak selalu berteriak lantang. Ia bekerja diam-diam dalam tumpukan dokumen, dalam lobi ruang gelap, dalam perizinan yang terlalu mudah diteken. Seiring waktu, tanah rakyat berubah menjadi konsesi. Sungai-sungai mengering bukan karena kemarau, melainkan karena limbah industri. Hutan gundul bukan karena bencana alam, tetapi karena alat berat yang bekerja siang malam tanpa peduli ekosistem.

Kita menyaksikan bagaimana nelayan terusir dari lautnya karena reklamasi. Petani kehilangan lahannya atas nama “proyek strategis” yang lebih berpihak pada investor asing ketimbang anak bangsa. Di tengah semua ini, suara rakyat kerap dianggap gangguan. Aksi protes diberi label pembangkangan, keras kepala, dan segudang justifikasi negatif lainnya. Mereka yang bersuara diintimidasi, dianggap penghambat kemajuan.

Namun sesungguhnya, yang diperjuangkan bukan sekadar tanah, air, atau pohon. Ini tentang keadilan. Tentang hak setiap anak untuk tumbuh dengan udara bersih, tentang ibu yang tidak lagi takut kehilangan sawahnya, tentang bangsa yang tidak dikendalikan oleh kekuatan modal semata.

Melawan kerakusan bukan soal membenci mereka yang berkuasa. Ini adalah soal menagih tanggung jawab. Bahwa kekuasaan adalah amanah, bukan alat untuk memperkaya diri. Bahwa sumber daya negara bukan milik pribadi, melainkan warisan generasi ke generasi.

Tulus melawan bukan berarti lemah. Justru karena cinta pada tanah air, kita memilih jalan yang tidak mudah, bersuara, menulis, mengedukasi, bahkan berdiri di garis depan jika perlu. Kita tahu, perubahan tidak datang dalam semalam. Tapi sejarah selalu berpihak pada mereka yang berjuang dengan hati bersih dan niat yang lurus.
Semoga kita tidak kehilangan harapan, meski nyaris kehilangan segalanya.

Red”

Sujudku di Negeri Ginseng

Oleh : Dede Farhan Aulawi

Negeri Ginseng, begitu dunia mengenal Korea Selatan, sebuah negara maju yang berkilau dengan teknologi, budaya pop, dan kedisiplinannya. Namun, di balik gemerlap lampu kota Seoul, ada kisah batin yang syahdu, kisah tentang pencarian makna, tentang sujud yang menemukan tempatnya di tanah yang asing.

Aku datang ke negeri ini bukan hanya untuk menuntut ilmu, tetapi juga untuk belajar menjaga iman di tengah perbedaan. Saat azan tak terdengar dan masjid terletak jauh di ujung kota, aku belajar bahwa sujud bukan hanya gerakan fisik, melainkan bentuk komunikasi terdalam antara hamba dan Penciptanya.

Di tengah hiruk-pikuk orang berlari mengejar waktu, aku sering menyelinap ke ruang kecil, kadang di taman, atau di balik dinding resto yang menyediakan tempat untuk menunaikan salat. Sujudku terasa lebih hening, lebih panjang, seakan setiap detiknya menjadi pengingat bahwa meski aku jauh dari tanah air, aku tidak pernah jauh dari Tuhan.

Sujud di negeri ginseng mengajarkanku arti keteguhan. Ia menegur kesombongan, memeluk kesepian, dan menumbuhkan rasa syukur.

Di tanah yang dingin oleh musim dingin dan keras oleh persaingan, sujud menjadi pelindung jiwa yang menghangatkan hati dengan cahaya keyakinan.

Kini aku mengerti, bahwa di mana pun aku berada, sajadah hanyalah simbol. Yang sejati adalah keikhlasan hati yang tunduk sepenuhnya. Negeri ginseng boleh berbeda budaya dan bahasa, tapi sujudku tetap sama menuju Tuhan yang satu, yang tak pernah jauh dari hamba yang berserah.

*Sujudku di Negeri Ginseng adalah kisah tentang perjalanan iman di tanah asing, tempat di mana teknologi dan spiritualitas bertemu dalam keheningan sujud.*

Red”

Cara Berpikir dan Nilai Hidup, Fondasi Menjadi Pribadi yang Bijaksana

Oleh : Dede Farhan Aulawi

Dalam kehidupan sehari-hari, manusia dihadapkan pada berbagai pilihan, tantangan, dan konsekuensi. Cara seseorang berpikir dan nilai-nilai hidup yang dianut sangat menentukan bagaimana ia menjalani hidup, mengambil keputusan, dan merespons situasi. Dua hal ini, cara berpikir dan nilai hidup merupakan fondasi penting dalam pembentukan karakter serta arah hidup seseorang.

Cara berpikir mencerminkan bagaimana seseorang memproses informasi, menilai situasi, dan menentukan tindakan. Secara umum, cara berpikir dapat dibagi menjadi dua kategori, yaitu berpikir kritis dan berpikir positif. Berpikir kritis berarti mampu menganalisis informasi secara logis, tidak mudah percaya begitu saja, dan mempertimbangkan berbagai sudut pandang sebelum mengambil kesimpulan. Sedangkan berpikir positif adalah kemampuan untuk melihat sisi baik dari setiap peristiwa, termasuk dalam kesulitan.

Seseorang yang mampu menggabungkan keduanya akan lebih siap menghadapi kehidupan. Ia tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga memiliki ketahanan mental yang kuat. Contohnya, dalam menghadapi kegagalan, ia tidak terjebak dalam keputusasaan, melainkan mencari pelajaran dan solusi dari kegagalan tersebut.

Nilai hidup adalah prinsip-prinsip yang diyakini seseorang sebagai hal yang penting dan benar. Nilai-nilai ini menjadi kompas moral yang membimbing seseorang dalam bertindak. Beberapa contoh nilai hidup yang umum adalah kejujuran, tanggung jawab, kerja keras, empati, dan integritas.

Nilai hidup tidak terbentuk begitu saja, melainkan melalui proses panjang dari lingkungan keluarga, pendidikan, pengalaman, hingga agama atau kepercayaan. Nilai-nilai inilah yang akan menjadi dasar ketika seseorang harus membuat keputusan, terutama dalam situasi yang sulit atau penuh tekanan. Misalnya, seseorang yang menjunjung tinggi nilai kejujuran tidak akan tergoda untuk berbuat curang meskipun ada kesempatan. Ia tahu bahwa integritas lebih penting daripada keuntungan sesaat.

Cara berpikir dan nilai hidup saling mempengaruhi. Cara berpikir yang sehat akan memperkuat nilai-nilai hidup yang baik, dan sebaliknya, nilai hidup yang kuat akan membimbing seseorang untuk berpikir secara lebih jernih dan bertanggung jawab. Keduanya membentuk pribadi yang matang, bijaksana, dan mampu menjalani kehidupan dengan arah yang jelas.

Sebagai contoh, dalam mengambil keputusan penting, seperti memilih pekerjaan atau pasangan hidup. Seseorang yang berpikir kritis dan berlandaskan nilai hidup akan mempertimbangkan aspek logika, moral, dan tujuan jangka panjang, bukan hanya keuntungan sesaat.

Dengan demikian, cara berpikir dan nilai hidup adalah dua pilar penting dalam membentuk karakter dan arah kehidupan seseorang. Keduanya tidak hanya berperan dalam pencapaian kesuksesan, tetapi juga dalam membentuk kedewasaan, kebahagiaan, dan kontribusi positif terhadap lingkungan sekitar. Oleh karena itu, penting bagi setiap individu untuk terus mengasah cara berpikir dan memperkuat nilai hidupnya agar mampu menjalani hidup dengan penuh makna dan tanggung jawab.

Red”

Jembatan Gantung “PANCIMAS MAJU JELITA” Resmi Beroperasi, Hj. Novita Wijayanti senyum bangga

Kampung Laut, 11 Oktober 2025 – Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR RI) Komisi V, Hj. Novita Wijayanti, S.E., M.M., dari Fraksi Partai Gerindra, meresmikan Jembatan Gantung “PANCIMAS MAJU JELITA” di Desa Ujunggagak, Kecamatan Kampung Laut. Proyek aspirasi ini menjadi jawaban atas kebutuhan vital akses warga, khususnya Dusun Cibereum yang selama ini bergantung pada jembatan darurat.

Acara peresmian disambut dengan penuh antusiasme oleh ratusan warga, terutama kaum ibu-ibu Desa Ujunggagak yang hadir dengan gembira.

Mereka menyambut langsung kehadiran Ibu Novita Wijayanti sebagai ungkapan terima kasih karena kini anak-anak mereka dapat pergi ke sekolah dengan aman.

Acara dibuka secara resmi oleh Kepala Desa Ujunggagak, Bapak Juandi, yang menyampaikan rasa syukur mendalam atas terealisasinya pembangunan infrastruktur ini.

Sinergi Tiga Pilar untuk Pemerataan Pembangunan
Kegiatan ini menunjukkan sinergi kuat antara lembaga legislatif pusat, daerah, dan aparatur keamanan.

Turut hadir dan memberikan dukungan langsung:
Bapak David (Anggota DPRD Provinsi Jawa Tengah),
Bapak Suheri (Anggota DPRD Kabupaten Cilacap),
Seluruh jajaran Perangkat Desa Ujunggagak,
Forum Komunikasi Pimpinan Kecamatan (Forkopimcam), diwakili oleh perwakilan dari Koramil Kawunganten, Polsek Kawunganten, Pos Angkatan Laut (Lanal) Kampung Laut,
Beberapa Kepala Dinas dari Lingkungan Pemerintah Kabupaten Cilacap, serta
Babinsa Teladan Desa Ujunggagak, Serda Ronal Langlaku.

Dalam sambutannya, Hj. Novita Wijayanti menegaskan bahwa Jembatan Gantung “PANCIMAS MAJU JELITA” merupakan wujud nyata kerja sama dengan Kementerian PUPR untuk mengatasi isolasi wilayah.

“Jembatan ini adalah urat nadi utama bagi masyarakat Dusun Cibereum. Setelah bertahun-tahun menghadapi risiko dengan jembatan papan, jembatan baru yang kokoh ini kami harapkan dapat melancarkan mobilitas ekonomi, pendidikan, dan kesehatan bagi seluruh warga,” ujar Hj. Novita Wijayanti.

Ajukan Permohonan Lanjutan: Jalan 4 KM Penghubung Vital
Mengakhiri sesi sambutan, Kepala Desa Juandi memanfaatkan momen berharga ini untuk mengajukan aspirasi lanjutan yang sangat mendesak.

“Ibu Novita, kami sangat berterima kasih atas jembatan gantung ini.

Untuk menyempurnakan konektivitas, kami memohon bantuan Ibu untuk memperjuangkan pembangunan jalan darat sepanjang kurang lebih 4 kilometer yang menghubungkan langsung dari Desa Panikel sampai ke Dusun Cibereum,” pinta Bapak Juandi.

Menanggapi permohonan tersebut, Hj. Novita Wijayanti menyatakan komitmennya untuk menindaklanjuti aspirasi tersebut di Komisi V DPR RI, serta berjanji akan segera berkoordinasi dengan DPRD dan Dinas terkait di Cilacap untuk mempercepat realisasi pembangunan jalan tersebut demi kesejahteraan masyarakat.

Refalai”Tugiman

Diundang Kedubes Rusia, Wilson Lalengke Akan Mengikuti Seminar Internasional terkait Konflik Rusia-Ukraina

Jakarta — Ketua Umum Persatuan Pewarta Warga Indonesia (Ketum PPWI), Wilson Lalengke, dijadwalkan akan berpartisipasi dalam seminar online internasional yang diselenggarakan Pemerintah Russia, pada tanggal 23 Oktober 2025 mendatang, yang dipusatkan di Wina, Austria. Pria yang baru saja memberikan pidato di PBB itu diundang Kedutaan Besar Rusia di Jakarta untuk berkenan menghadiri seminar dimaksud.

Tema yang akan dibahas pada seminar online internasional ini adalah “Perjalanan Kemerdekaan Republik Rakyat Luhansk”, yang bertujuan untuk mengeksplorasi jalur penyelesaian konflik Rusia-Ukraina yang sedang berlangsung melalui dialog dan konteks sejarah. Sebagaimana diketahui bahwa deklarasi kemerdekaan rakyat Luhansk dari Ukraina tahun 2014 merupakan pemicu utama terjadinya konflik Russia-Ukraina.

Undangan ini muncul di tengah meningkatnya keterlibatan diplomatik antara Indonesia dan Rusia, yang dengan keterlibatan Wilson Lalengke merupakan penanda pentingnya peran masyarakat sipil dalam upaya perdamaian internasional. Menurut sumber internal Kedutaan Besar Rusia, seminar ini akan menghadirkan beberapa pembicara dan akan dihadiri banyak tokoh politik serta aktivis kemanusiaan, akadenisi, termasuk media, dari berbagai negara, yang menawarkan beragam perspektif tentang ketegangan geopolitik di Eropa Timur.

Wilson Lalengke, yang dikenal karena advokasinya tentang hak asasi manusia dan kebebasan media, menyatakan komitmennya untuk berkontribusi secara konstruktif dalam diskusi ini. “Ini adalah kesempatan untuk memahami kompleksitas konflik dari berbagai sudut pandang dan mencari solusi damai yang berakar pada rasa saling menghormati dan kesadaran sejarah,” ujar alumni PPRA-48 Lemhannas RI tahun 2012 itu kepada jaringan media se-Indonesia, Sabtu, 11 Oktober 2025.

Seminar ini akan membahas evolusi Republik Rakyat Luhansk, sebuah entitas yang memproklamirkan diri di Ukraina timur, dan perannya dalam dinamika regional yang lebih luas. Meskipun topiknya tetap sensitif dan bermuatan politis, penyelenggara menekankan bahwa forum ini dimaksudkan untuk mendorong dialog, alih-alih mempromosikan narasi tertentu.

Kedutaan Besar Rusia di Jakarta sebelumnya telah berkolaborasi dengan PPWI dalam berbagai inisiatif budaya dan media, termasuk pemutaran film dokumenter, advokasi jurnalis di daerah konflik, dan publikasi. Keterlibatan terbaru ini mencerminkan upaya berkelanjutan untuk membangun jembatan melalui jalur intelektual dan diplomatik.

Seminar ini dijadwalkan berlangsung satu hari dan akan disiarkan langsung kepada peserta terdaftar di seluruh dunia. Partisipasi Wilson Lalengke diharapkan dapat membawa perspektif Indonesia ke dalam percakapan global tentang perdamaian dan resolusi konflik. (TIM/Red)

_Foto: Pejabat Kedubes Rusia, Mr. Alexander Tumaykin (kiri) berdiskusi dengan Wilson Lalengke terkait seminar online internasional._

Ketua DPD Topan RI Rohil Desak APH Usut Proyek Rp 3,7 M Labkesda, Soroti Kepemimpinan Kadiskes Afrida

Rokan Hilir – Ketua Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Topan RI Kabupaten Rokan Hilir, Yusaf Hari Purnomo atau disapa Arie black, mendesak Aparat Penegak Hukum (APH) untuk segera mengusut tuntas dugaan penyimpangan pada proyek pembangunan Laboratorium Kesehatan Daerah (Labkesda) Rohil senilai Rp 3,7 miliar yang hingga kini belum juga rampung.

Proyek yang bersumber dari Dana Alokasi Khusus (DAK) fisik tahun 2024 ini dikerjakan oleh CV Mitra Karya Rohil dengan konsultan pengawas CV Nusantara Utama Engineering. Berdasarkan kontrak, proyek dimulai pada 29 Juli 2024 dengan masa pelaksanaan 120 hari kalender. Namun hingga 10 Oktober 2025, bangunan masih belum selesai dan ditemukan banyak kerusakan seperti retakan pada struktur dinding serta dugaan tidak sesuai spesifikasi teknis (spek).

Yusaf Hari Purnomo menilai, kondisi ini mencerminkan buruknya kepemimpinan Kepala Dinas Kesehatan Rokan Hilir, Afrida S.Kep., SKM., M.Kes., yang gagal menuntaskan proyek penting tersebut.

> “Afrida telah gagal menjalankan amanah sebagai Kepala Dinas Kesehatan. Pemerintah pusat sudah memberikan kepercayaan dengan anggaran besar untuk membangun Labkesda demi kemudahan pelayanan kesehatan masyarakat, tapi proyek ini justru mangkrak. Ini memperlihatkan lemahnya pengawasan dan manajemen yang buruk,” tegas Arie black, Jumat (10/10/2025).

Menurutnya, kegagalan ini tidak hanya merugikan masyarakat, tetapi juga dapat berdampak pada kepercayaan pemerintah pusat terhadap Kabupaten Rokan Hilir, terutama dalam penyaluran anggaran di masa mendatang.

> “Kalau seperti ini terus, pusat akan ragu menyalurkan kembali dana pembangunan ke Rohil. Ini bisa memperlambat masuknya anggaran untuk daerah,” tambahnya.

Arie black juga meminta Kejaksaan dan Kepolisian segera memeriksa pihak-pihak terkait, terutama Kepala Dinas Kesehatan Rohil sebagai penanggung jawab kegiatan, untuk mengusut potensi adanya penyimpangan dalam pelaksanaan proyek tersebut.

Hingga berita ini diterbitkan, Afrida S.Kep., SKM., M.Kes. belum memberikan klarifikasi resmi terkait keterlambatan dan kondisi bangunan Labkesda yang dinilai tidak layak.

: Red

Sulitnya Membongkar Struktur dan Jaringan Mafia Migas

Oleh : Dede Farhan Aulawi

Sektor minyak dan gas bumi (migas) merupakan salah satu sektor strategis dalam perekonomian Indonesia. Selain sebagai sumber utama pendapatan negara, sektor ini juga memiliki pengaruh besar terhadap harga energi nasional, stabilitas politik, serta kesejahteraan masyarakat.

Namun, di balik vitalnya peran sektor ini, tersembunyi sebuah permasalahan kronis yang sudah lama mencengkeram, yaitu mafia migas. Istilah ini merujuk pada kelompok-kelompok yang menguasai dan memanipulasi rantai distribusi, pengadaan, dan kebijakan energi untuk kepentingan pribadi atau kelompok tertentu. Upaya membongkar mafia migas telah lama digembar-gemborkan, namun hasilnya masih jauh dari harapan.

Mengapa begitu sulit untuk membongkar mafia migas ?
1. Kompleksitas Struktur dan Rantai Distribusi
Sektor migas memiliki struktur yang sangat kompleks, dari hulu (eksplorasi dan produksi) hingga hilir (pengolahan, distribusi, dan penjualan). Kompleksitas ini membuka banyak celah bagi praktik-praktik penyimpangan. Di setiap mata rantai, ada potensi permainan kuota, pengaturan tender, mark-up harga, hingga manipulasi data impor dan ekspor. Mafia migas menyusup ke dalam celah-celah ini, sering kali dengan kamuflase legal yang sulit dibongkar hanya melalui audit biasa.

2. Keterlibatan Oknum Pejabat dan Pemilik Modal Besar
Mafia migas tidak berdiri sendiri. Mereka biasanya memiliki jejaring kuat dengan oknum pejabat pemerintah, politisi, hingga aparat penegak hukum. Hubungan simbiosis ini menciptakan perlindungan politik dan hukum bagi para pelaku. Akibatnya, ketika ada upaya pemberantasan, prosesnya sering kali terhambat atau bahkan dibungkam. Sering kali, kasus-kasus besar terkait migas berakhir tanpa kejelasan, atau hanya menyasar pelaku-pelaku kecil, sementara aktor utamanya tetap tak tersentuh.

3. Kurangnya Transparansi dan Akuntabilitas
Masih lemahnya sistem transparansi dalam pengelolaan migas menjadi salah satu penyebab utama suburnya praktik mafia. Akses publik terhadap data impor BBM, kontrak kerja sama, hingga realisasi lifting migas sering kali terbatas. Tanpa keterbukaan informasi, masyarakat sipil dan media sulit mengawasi sektor ini. Selain itu, lemahnya pengawasan internal oleh lembaga negara seperti BPK, KPK, atau BPH Migas, membuat pelanggaran mudah disembunyikan atau dimanipulasi.

4. Kepentingan Politik dan Ekonomi dalam Kebijakan Energi
Kebijakan energi nasional sering kali dikendalikan oleh kepentingan jangka pendek dan elit tertentu, bukan berdasarkan kebutuhan rakyat. Mafia migas memanfaatkan kebijakan subsidi, pengaturan harga BBM, dan penunjukan kontraktor migas untuk meraup keuntungan. Setiap perubahan regulasi, seperti liberalisasi impor BBM atau perubahan skema kontrak, bisa menjadi ladang baru bagi para mafia. Bahkan, isu mafia migas kerap digunakan sebagai alat tawar-menawar politik menjelang pemilu atau pergantian kekuasaan.

5. Minimnya Perlindungan bagi Whistleblower dan Penegak Hukum
Salah satu kendala dalam membongkar mafia migas adalah kurangnya perlindungan bagi pihak-pihak yang ingin membongkar kejahatan ini. Banyak whistleblower atau jurnalis investigatif yang justru mendapat tekanan, kriminalisasi, bahkan ancaman fisik. Di sisi lain, aparat penegak hukum yang berani menyentuh kasus migas berisiko menghadapi tekanan politik, mutasi, atau intervensi.

*Harapan yang Belum Padam*
Membongkar mafia migas memang bukan perkara mudah. Diperlukan keberanian politik, reformasi struktural, dan partisipasi publik yang luas. Pemerintah harus menunjukkan komitmen nyata dengan memperkuat lembaga pengawasan, menjamin keterbukaan data, serta melindungi para pelapor pelanggaran. Selain itu, peran masyarakat sipil, media, dan akademisi sangat penting dalam mengawal sektor energi agar tidak terus dikuasai oleh segelintir elite. Meski jalan masih panjang, membongkar mafia migas bukanlah sesuatu yang mustahil selama ada kemauan politik yang kuat dan konsistensi dalam penegakan hukum.

Red”

Modus Mafia Migas di Dunia, Penguasa Bayangan di Balik Energi Global* Oleh : Dede Farhan Aulawi

Minyak dan gas bumi (migas) adalah komoditas strategis yang menjadi tulang punggung perekonomian banyak negara. Namun, di balik kilau kekayaan yang ditawarkan sektor ini, tersembunyi praktik-praktik gelap yang dikenal sebagai modus mafia migas. Istilah “mafia migas” merujuk pada kelompok-kelompok terorganisir, baik dari kalangan oknum pemerintah, pengusaha, maupun aktor internasional, yang mengeksploitasi sistem demi keuntungan pribadi, sering kali dengan mengorbankan kepentingan negara dan rakyat. Modus mereka terjadi secara sistematis dan lintas negara, menjadikan sektor migas sebagai ladang korupsi dan ketimpangan global.

*Modus-modus Mafia Migas yang Umum Terjadi*

– Penggelembungan Harga (Mark-Up) dan Kontrak Gelap. Salah satu modus paling umum adalah penggelembungan harga dalam proyek-proyek pengadaan atau kontrak penjualan migas. Mafia migas bekerja sama dengan pejabat negara untuk menyusun kontrak yang merugikan negara, namun menguntungkan individu tertentu melalui komisi “di bawah meja”. Dalam kasus seperti ini, harga jual minyak bisa jauh di bawah harga pasar karena adanya kesepakatan gelap antara oknum pemerintah dan korporasi asing.

– Manipulasi Data Produksi dan Cadangan. Beberapa perusahaan migas dan pejabat lokal bekerja sama dalam menyembunyikan atau memanipulasi data produksi, sehingga laporan kepada negara jauh lebih kecil daripada realita. Praktik ini memungkinkan mereka menjual migas secara ilegal atau menghindari kewajiban membayar royalti dan pajak sesuai volume yang seharusnya.

– Pencucian Uang dan Transfer Pricing. Perusahaan multinasional sering menggunakan skema transfer pricing, yaitu menjual minyak mentah ke anak perusahaan mereka di negara bebas pajak dengan harga murah, lalu dijual kembali ke pasar global dengan harga pasar. Ini membuat laba tampak rendah di negara penghasil migas, sehingga pajak yang dibayar pun minim. Sementara uang keuntungannya dicuci lewat jaringan perusahaan cangkang.

– Penunjukan Langsung dan Kolusi dalam Tender. Proses tender dalam proyek migas sering dijadikan ajang kolusi. Penunjukan langsung tanpa proses transparan mempermudah mafia migas memasukkan “perusahaan boneka” atau kroni politik ke dalam proyek strategis. Ini sering melibatkan suap dan gratifikasi dalam jumlah besar.

– Ekspor Gelap dan Penyelundupan Minyak. Di negara-negara kaya minyak dengan pengawasan lemah, penyelundupan minyak mentah dan BBM menjadi praktik umum. Mafia bekerja sama dengan oknum militer, aparat, hingga pelaku bisnis ekspor untuk mengalirkan migas keluar negeri tanpa izin, merugikan negara triliunan rupiah setiap tahunnya.

*Studi Kasus Global*
– Nigeria. Negara ini mengalami kebocoran migas yang sangat besar akibat mafia migas. Sebagian besar produksi minyak ilegal diselundupkan melalui jalur laut. Bahkan, laporan menyebutkan bahwa sekitar 100.000 barel minyak dicuri setiap hari oleh kelompok bersenjata dan pejabat korup.

– Venezuela. Krisis ekonomi di Venezuela diperparah oleh korupsi di sektor migas. Mafia migas yang terkait dengan elit politik memperdagangkan minyak secara ilegal dan memanipulasi data ekspor. Negara yang memiliki cadangan minyak terbesar di dunia justru mengalami krisis BBM.

Modus mafia migas berdampak serius terhadap stabilitas ekonomi dan keadilan sosial :
– Pendapatan negara berkurang drastis, mengurangi dana untuk pendidikan, kesehatan, dan infrastruktur.
– Ketimpangan ekonomi meningkat, karena kekayaan negara hanya dinikmati segelintir elit.
– Kerusakan lingkungan akibat eksploitasi liar yang tidak diawasi secara ketat.
– Meningkatnya utang negara, karena kebutuhan fiskal tidak terpenuhi akibat kebocoran penerimaan dari sektor migas.

Beberapa inisiatif global telah muncul untuk melawan mafia migas :

– EITI (Extractive Industries Transparency Initiative) yang mendorong transparansi kontrak dan laporan keuangan di sektor ekstraktif.
– Audit independen dan digitalisasi sistem migas, dengan memanfaatkan teknologi untuk melacak alur produksi dan distribusi.
– Reformasi kelembagaan dengan memisahkan fungsi regulator dan operator agar tidak terjadi konflik kepentingan.
– Penegakan hukum tegas dengan melibatkan lembaga anti-korupsi yang kuat dan independen.

Dengan demikian, Mafia migas adalah ancaman laten terhadap kedaulatan energi, ekonomi, dan keadilan sosial. Mereka adalah penguasa bayangan yang beroperasi di balik layar kekuasaan dan korporasi. Melawan mereka bukan hanya soal menegakkan hukum, tetapi juga mengembalikan kendali sumber daya alam ke tangan rakyat. Negara-negara penghasil migas harus membangun sistem yang transparan, akuntabel, dan berkeadilan agar kekayaan alam benar-benar menjadi berkah, bukan kutukan.

Red”

Basis Pengembangan Teknologi Kapal Selam

Oleh : Dede Farhan Aulawi

Kapal selam merupakan salah satu simbol keunggulan teknologi dan kekuatan strategis suatu negara di bidang pertahanan laut. Keberadaannya tidak hanya mencerminkan kemajuan teknologi industri maritim, tetapi juga kemampuan suatu bangsa dalam menguasai ilmu rekayasa bawah laut, sistem senjata, dan taktik perang modern.

Pengembangan teknologi kapal selam didasarkan pada beberapa pilar utama yang saling berkaitan, yaitu rekayasa desain, sistem propulsi, kemampuan siluman (stealth), sensor dan komunikasi, serta integrasi sistem senjata.

Pertama, rekayasa desain lambung dan struktur kapal selam menjadi fondasi utama. Kapal selam harus mampu bertahan terhadap tekanan air laut yang ekstrem di kedalaman ratusan meter. Oleh karena itu, material yang digunakan biasanya berupa baja bertegangan tinggi atau paduan titanium yang kuat namun ringan. Bentuk lambung dirancang dengan aerodinamika hidrodinamis agar dapat bergerak senyap dan efisien di bawah air, sekaligus mengurangi hambatan (drag) saat menyelam.

Kedua, sistem propulsi merupakan inti daya gerak kapal selam. Dua jenis propulsi utama yang digunakan saat ini adalah sistem diesel-listrik dan tenaga nuklir. Kapal selam diesel-listrik umumnya digunakan oleh negara dengan kebutuhan operasional di kawasan regional karena keterbatasan daya jelajah. Sementara itu, kapal selam bertenaga nuklir mampu beroperasi berbulan-bulan tanpa naik ke permukaan, memberikan keunggulan strategis dalam operasi jarak jauh dan misi rahasia. Pengembangan sistem propulsi modern juga mengarah pada teknologi Air Independent Propulsion (AIP) yang memungkinkan kapal selam non-nuklir bertahan lebih lama di bawah air.

Ketiga, kemampuan siluman (stealth) menjadi faktor krusial dalam pengembangan kapal selam modern. Aspek ini meliputi pengurangan jejak akustik, magnetik, dan termal agar sulit dideteksi oleh musuh. Teknologi seperti lapisan anechoic (peredam suara), desain baling-baling senyap, serta sistem kontrol getaran canggih digunakan untuk menjaga profil akustik serendah mungkin.

Keempat, sistem sensor dan komunikasi bawah laut menjadi komponen vital dalam kemampuan deteksi dan navigasi. Kapal selam dilengkapi sonar aktif dan pasif untuk mendeteksi kapal musuh, ranjau, dan topografi dasar laut. Integrasi dengan sistem komunikasi satelit dan underwater data link juga sangat penting agar kapal selam tetap terhubung dengan komando induk tanpa mengorbankan kerahasiaan posisi.

Terakhir, integrasi sistem senjata dan kendali tempur menjadikan kapal selam sebagai platform ofensif yang mematikan. Kapal selam modern mampu meluncurkan torpedo, ranjau laut, rudal anti-kapal, hingga rudal balistik berkepala nuklir (SLBM). Sistem kendali tempur terkomputerisasi memungkinkan pengendalian senjata secara presisi dalam kondisi taktis yang kompleks.

Dengan demikian, basis pengembangan teknologi kapal selam tidak hanya bergantung pada satu disiplin ilmu, melainkan hasil kolaborasi antara bidang teknik mesin, kelistrikan, hidrodinamika, akustik, material, hingga teknologi informasi. Negara yang mampu mengembangkan kapal selam secara mandiri menunjukkan tingkat kemandirian industri pertahanan yang tinggi sekaligus kemampuan strategis dalam menjaga kedaulatan maritimnya.

Red”