Dampak Konflik Pakistan vs Afghanistan terhadap Indonesia

0
5

Oleh : Dede Farhan Aulawi

Konflik antara Pakistan dan Afghanistan bukan sekadar persoalan bilateral, tetapi memiliki dimensi keamanan regional, ideologi, ekonomi, dan geopolitik yang berpotensi berdampak tidak langsung terhadap negara-negara lain. Meskipun Indonesia tidak berada dalam lingkar konflik langsung, efek rambatan (spillover effect) tetap perlu dicermati secara kritis.

Konflik di perbatasan Pakistan–Afghanistan sering berkaitan dengan kelompok militan lintas batas. Instabilitas ini berpotensi :

– Menjadi narasi propaganda bagi jaringan ekstremis global.
– Menghidupkan kembali romantisme “jihad Afghanistan” yang secara historis pernah berdampak pada Asia Tenggara.
– Meningkatkan risiko koneksi ideologis dengan sel-sel radikal di Indonesia.

Secara historis, konflik Afghanistan pada era 1980–1990-an menjadi salah satu sumber inspirasi bagi sebagian jaringan ekstremis di Asia Tenggara. Jika konflik meningkat dan menghasilkan kekosongan kontrol keamanan, Indonesia perlu meningkatkan kewaspadaan terhadap arus ideologi, bukan hanya arus manusia.

Ancaman terhadap Indonesia lebih bersifat ideologis dan digital dibandingkan militer langsung. Tantangannya adalah penguatan kontra-narasi dan deradikalisasi, bukan respons keamanan konvensional.

Sebagai negara dengan populasi Muslim terbesar di dunia, Indonesia sering dipandang sebagai “moderate Muslim power”. Ketegangan Pakistan–Afghanistan dapat :

– Memecah solidaritas politik di antara negara-negara Organisasi Kerja Sama Islam.
– Memaksa negara-negara Muslim mengambil posisi diplomatik tertentu.

Indonesia selama ini cenderung mengambil posisi netral dan mendorong dialog damai. Dalam konteks ini, Indonesia berpeluang memperkuat diplomasi kemanusiaan dan soft power, tetapi harus berhati-hati agar tidak terseret dalam rivalitas blok regional.

Konflik ini dapat menjadi ujian konsistensi politik luar negeri bebas-aktif Indonesia. Terlalu pasif dapat dianggap tidak relevan, terlalu aktif berisiko over-commitment diplomatik.

Secara langsung, hubungan dagang Indonesia dengan Afghanistan relatif kecil. Namun dampak tidak langsung bisa muncul melalui :

– Ketidakstabilan jalur perdagangan Asia Selatan.
– Fluktuasi harga komoditas energi global jika konflik meluas dan melibatkan kekuatan besar.

– Gangguan proyek konektivitas kawasan (misalnya jalur darat Asia Tengah–Asia Selatan).

Indonesia mungkin tidak terdampak besar secara makroekonomi, tetapi volatilitas global tetap mempengaruhi nilai tukar, pasar saham, dan harga energi domestik.

Dampak ekonomi terhadap Indonesia lebih bersifat sistemik-global daripada bilateral. Risiko terbesar muncul jika konflik berkembang menjadi konflik proksi yang melibatkan kekuatan besar seperti Tiongkok atau Amerika Serikat.

Jika konflik memburuk :
– Potensi peningkatan pengungsi regional.
– Jalur migrasi ilegal bisa bertambah kompleks.

Indonesia bukan tujuan utama pengungsi Afghanistan, tetapi sering menjadi negara transit. Tekanan sosial dan kebijakan keimigrasian bisa meningkat, terutama jika terjadi gelombang baru pengungsi.

Masalah pengungsi berpotensi menimbulkan dilema kebijakan antara komitmen kemanusiaan dan stabilitas domestik.

Konflik Pakistan–Afghanistan dapat menjadi ancaman, jika :
– Memicu jaringan radikal transnasional.
– Mengganggu stabilitas ekonomi global.
– Meningkatkan polarisasi politik berbasis agama.

Bisa juga menjadi peluang, jika :
– Indonesia memperkuat peran sebagai mediator damai.
– Diplomasi kemanusiaan Indonesia diperluas.
– Kapasitas kontra-terorisme dan intelijen semakin diperkuat.

Jadi, konflik antara Pakistan dan Afghanistan tidak berdampak langsung terhadap keamanan teritorial Indonesia. Namun, dampak tidak langsung melalui jalur ideologis, geopolitik, ekonomi global, dan migrasi tetap signifikan.
Secara kritis dapat disimpulkan bahwa :

– Dampak terbesar bagi Indonesia berada pada ranah keamanan non-tradisional.
– Respons yang dibutuhkan bukan militeristik, melainkan diplomatik, preventif, dan berbasis ketahanan sosial.
– Konsistensi politik luar negeri bebas-aktif harus diimbangi dengan kewaspadaan terhadap implikasi ideologis dan ekonomi global.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini