Oleh: Dr. Datep Purwa Saputra
Ketua Umum Praktisi Maritim Indonesia (Pramarin)
Konflik terbuka antara Iran dan Israel/Amerika yang kian memanas di Timur Tengah bukan sekadar gejolak politik regional. Bagi Indonesia, ini adalah alarm bahaya yang menelanjangi titik lemah kedaulatan kita:
*Ketahanan Energi yang Rapuh:* Sebagai bangsa kepulauan yang urat nadi ekonominya bergantung pada logistik laut, gangguan pada pasokan energi global adalah ancaman langsung terhadap stabilitas nasional.
1. Jebakan Ketergantungan pada Kilang Tetangga
Sudah saatnya Dewan Energi Nasional (DEN) melakukan evaluasi radikal terhadap strategi pemenuhan BBM nasional. Selama ini, Indonesia terjebak dalam ketergantungan semu pada kilang-kilang di Singapura dan Malaysia. Ini adalah paradoks keamanan yang nyata. Kita harus sadar bahwa negara-negara tetangga tersebut bukanlah produsen minyak, melainkan hanya pengolah (processor).
Ironisnya, bahan baku minyak mentah mereka juga diimpor dari negara-negara Arab yang melewati Selat Hormuz. Jika jalur tersebut lumpuh akibat perang, Singapura dan Malaysia akan menghadapi risiko pasokan yang sama dan pasti akan memprioritaskan kebutuhan domestik mereka sendiri sebelum mengekspor ke Indonesia. Bergantung pada mereka berarti kita menggantungkan nasib kedaulatan energi kita pada “tangan kedua”.
2. Urgensi Memperkuat Kilang Domestik
Kekuatan energi kita lemah karena kita kurang memiliki daya tawar dalam pengolahan. Memperkuat dan membangun kilang mandiri di dalam negeri seperti percepatan proyek Refinery Development Master Plan (RDMP) dan pembangunan kilang baru (Grass Root Refinery) bukan lagi sekadar proyek ekonomi, melainkan Strategi Pertahanan Nasional.
Dengan memperkuat kilang sendiri, kita memiliki kendali penuh atas stok nasional tanpa harus didikte oleh kebijakan ekspor negara tetangga. Selain itu, kilang yang tersebar di lokasi strategis wilayah Indonesia akan menciptakan efisiensi logistik maritim, memastikan armada niaga dan pangkalan militer tetap bergerak meski jalur internasional bergejolak.
3. Dampak Domino bagi Sektor Maritim
Jika Selat Hormuz tertutup, lonjakan harga minyak dunia akan langsung mengerek biaya bahan bakar (bunker cost). Mengingat komponen ini menyerap hingga 60% biaya operasional kapal, tarif angkut (freight rate) otomatis akan naik drastis. Hal ini akan memicu inflasi harga barang pokok di seluruh pelosok nusantara, yang pada akhirnya mengganggu ketahanan pangan dan stabilitas sosial.
*Kenyataan Kekuatan Energi yang Lemah :*
Kita harus jujur pada diri sendiri: kekuatan energi Indonesia saat ini masih lemah dan sangat bergantung pada pasar global. Penurunan produksi (lifting) minyak domestik membuat kita kehilangan “bantalan” saat krisis terjadi. Di sisi lain, cadangan operasional BBM kita yang hanya berkisar 21 hari sangat riskan jika terjadi hambatan pada jalur pasokan internasional. Tanpa cadangan penyangga energi (Strategic Petroleum Reserve) yang memadai, kedaulatan maritim kita berada di ujung tanduk.
*Rekomendasi Strategis Untuk Kedaulatan Bangsa:*
Untuk keluar dari jebakan ini, Pramarin mendesak langkah-langkah strategis berikut:
1.Kemandirian Kilang:
DEN harus mendorong percepatan kemandirian kilang domestik agar kita mampu mengolah minyak mentah sendiri secara maksimal.
2Pembangunan Strategic Petroleum Reserve (SPR): Pemerintah perlu membangun cadangan penyangga strategis berbasis maritim, baik dalam tangki darat maupun unit penyimpanan terapung (Floating Storage) di titik-titik aman ALKI.
3.Kedaulatan Armada (TKDN): Memastikan distribusi energi di perairan Indonesia wajib menggunakan kapal-kapal berbendera Indonesia demi menjamin keberlangsungan distribusi saat krisis.
4.Transisi Bahan Bakar Kapal: Mempercepat riset bahan bakar alternatif (seperti Bio-LNG atau Green Ammonia) agar armada niaga kita tidak sepenuhnya didikte oleh harga fosil global.
*Penutup:*
Krisis energi adalah isu kedaulatan bangsa. Sebagai praktisi maritim, saya melihat bahwa tanpa kemandirian pengolahan energi di dalam negeri, cita-cita kita sebagai Poros Maritim Dunia menuju Indonesia Emas 2045 akan selalu rapuh di hadapan dinamika geopolitik global.
Saatnya kita berhenti bergantung pada pihak luar dan mulai membangun kekuatan energi dari rumah sendiri.
#KetahananEnergiNasional
#IndonesiaMaju
#PorosMaritimDunia
