Di tengah hiruk-pikuk kehidupan modern yang sering kali mengukur nilai seseorang dari popularitas dan materi, sosok Dr. H. Muhamad Zarkasih yg lahir di tanah Betawi, hadir sebagai pengecualian yang langka. Ia bukan hanya seorang pecinta bela diri dan seni budaya, tetapi juga penjaga nilai, pelatih generasi, dan pengabdi yang bekerja dalam diam.
Sejak usia remaja, tepatnya saat duduk di bangku SMP di kawasan Kebon Kacang, Tanah Abang, kecintaannya pada dunia bela diri mulai tumbuh. Di Gang 6 yang sederhana itu, ia menapaki jalan panjang pencak silat di bawah bimbingan almarhum Babe Makruf, seorang guru silat Betawi aliran Rahmat yang dikenal tegas namun penuh hikmah. Dari sana, ia tidak hanya belajar teknik, tetapi juga nilai: kesabaran, kehormatan, dan pengendalian diri.
Tak berhenti pada silat, ia juga menekuni karate melalui Lemkari ( saat ini INKANAS) hingga mencapai sabuk hitam Dan 2—sebuah bukti konsistensi dan dedikasi yang tidak main-main. Ini menegaskan bahwa dirinya bukan sekadar “penggemar”, tetapi praktisi sejati yang menempuh proses panjang dan disiplin tinggi.
Memasuki masa SMA kelas 3, bersama para senior seperti almarhum Bang Syaukat, Bang Pipit, dan Bang Soleh, ia ikut mendirikan Perguruan Silat Al-Azhar (yang kini dikenal sebagai ASBD). Tak lama kemudian, ia turut merintis cabang di Masjid Al-Ikhlas, Benhil, Jakarta Pusat. Di sana, ia bukan hanya pendiri, tetapi juga pelatih—mengabdi tanpa pamrih, membentuk karakter generasi muda.
Namun, perjalanan hidup membawanya pada panggilan negara. Tahun 1983, ia harus meninggalkan aktivitas bela diri untuk mengikuti pendidikan di institusi Polri. Sebuah keputusan yang tidak mudah, tetapi menunjukkan prioritas: pengabdian kepada bangsa.
Memasuki awal 1990-an, semangatnya tak padam. Ia kembali aktif melatih dan mengembangkan pencak silat dan budaya Betawi termasuk di berbagai instansi pemerintah sebagai pelatih bela diri Polri—baik silat maupun karate. Pengabdiannya bahkan melampaui batas negara. Saat bertugas sebagai Atase Kepolisian di Yordania (2017–2020), ia mendirikan cabang ASBD dengan biaya pribadi. Ia melatih WNI dan masyarakat lokal di lingkungan KBRI dan kampus-kampus tempat mahasiswa Indonesia berada. Sebuah langkah nyata diplomasi budaya melalui bela diri.
Tak hanya itu, ia juga pernah menjabat sebagai Ketua Umum PS Mustika Kwitang selama dua periode, dan kini kembali dipercaya memimpin. Di Lembaga Kebudayaan Betawi (LKB) aktif slm 2 periode, dia juga aktif di PPS Putra Betawi serta menjadi pengurus PB IPSI sejak 2002, dibawa oleh tokoh besar Betawi almarhum Mayjen TNI (P) Dr. (C) Eddy Nalapraja. Hampir lima periode ia mengabdi di organisasi tersebut—bukti konsistensi yang tak terbantahkan.
Namun, perjalanan panjang tidak selalu mulus. Upayanya memperjuangkan ASBD menjadi perguruan besar di PB IPSI harus tertunda akibat konflik internal. Meski demikian, ia tidak mundur. Ia tetap memperjuangkan eksistensi dan kehormatan perguruan-perguruan historis seperti PPS Putra Betawi.
Sebagai atlet, ia juga pernah bertanding membawa nama ASBD hingga tingkat Propinsi Jkt bersama almarhum Bang Syaukat, yang bahkan sempat menjadi atlet nasional. Pernah jd atlet Karate Lemkari di era 90an , saat di LKB pernah bertugas sbg Juri Abang None (Abnon) 2013-2014 Ini menunjukkan bahwa ia bukan sekadar pelatih atau organisator, tetapi juga pernah berada di garis depan sebagai petarung.
Kini, di tengah kesibukannya sebagai mantan perwira Polri, dan saat ini sbg lawyer dan Karo Bankum LVRI, serta Wakil Ketua Kwarda DKI Jakarta, ia tetap meluangkan waktu untuk dunia sosial budaya sbg anggota Dewan Adat Kaum Betawi ( Bamus 1982), pencak silat dan Pramuka / Ketua Sako Nas Alwasliyah. Semua dilakukan dengan ikhlas, tanpa mengharap imbalan.
Namun, di balik semua pengabdian itu, ada ujian yang lebih berat dari sekadar latihan fisik: fitnah dan niat buruk manusia.
Ada pihak-pihak yang mencoba merusak reputasinya, menebar kabar yang tidak benar, bahkan berupaya menjatuhkan kehormatan yang telah dibangun puluhan tahun. Tapi di sinilah letak perbedaan antara seorang pendekar sejati dan manusia biasa.
Seorang pendekar tidak membalas dengan kebencian. Ia membalas dengan keteguhan.
Seorang pengabdi tidak terpancing oleh fitnah. Ia menjawab dengan karya dan keikhlasan.
Dan seorang yang beriman, tidak gentar oleh tipu daya manusia. Ia percaya bahwa keadilan Tuhan tidak pernah tertidur.
Tulisan ini bukan sekadar kisah, tetapi juga cermin.
Bagi siapa pun yang memiliki niat buruk, ingatlah:
Reputasi tidak dibangun dalam sehari, dan tidak bisa dihancurkan hanya dengan kata-kata.
Kebenaran mungkin tertunda, tetapi tidak akan pernah kalah.
Dan setiap perbuatan—sekecil apa pun—akan kembali kepada pelakunya.
Dr. H. Muhamad Zarkasih telah membuktikan bahwa pengabdian sejati tidak membutuhkan panggung, dan keikhlasan tidak memerlukan pengakuan. Justru dalam diamnya, ia menjadi kuat. Dalam kesabarannya, ia menjadi tinggi.
Karena pada akhirnya, sejarah tidak ditulis oleh mereka yang berisik menjatuhkan orang lain—tetapi oleh mereka yang diam-diam membangun dan memberi arti. (Dr.HMZ)🙏🏼🙏🏼
© Newspaper WordPress Theme by TagDiv
