PEKANBARU — Sekretaris Umum DPP Solidaritas Pers Indonesia (SPI), Sabam Tanjung, menyampaikan apresiasi tinggi terhadap langkah Ketua Umum Badan Kerja Sama Organisasi Wanita (BKOW) Provinsi Riau, Adrias Hariyanto, yang menginisiasi perhelatan Tari Zapin massal dengan busana Kebaya Labuh Kekek melibatkan ribuan penari perempuan. Kegiatan tersebut dinilai bukan sekadar pertunjukan seni, melainkan gerakan kolektif pelestarian jati diri Melayu yang layak dicatat sebagai peristiwa budaya besar.
“Ini bukan hanya soal jumlah penari, tetapi tentang pesan budaya, identitas, dan keteladanan perempuan Melayu. Kegiatan ini patut diapresiasi dan didorong untuk masuk dalam catatan Museum Rekor Indonesia (MURI),” ujar Sabam Tanjung.
Pantauan di lapangan menunjukkan kesiapan teknis terus dimatangkan. Sebuah pentas berukuran sekitar lebar 10 meter dan panjang 5 meter telah berdiri di tengah Jalan Gajah Mada, Pekanbaru. Para pekerja tampak sibuk melakukan dekorasi sejak sehari jelang acara. Untuk mendukung kelancaran kegiatan, sementara waktu Jalan Gajah Mada ditutup, baik dari arah Jalan Diponegoro menuju Jalan Sudirman maupun sebaliknya.
Perhelatan akbar Tari Zapin massal ini akan digelar pada Minggu, 11 Januari 2026, bertepatan dengan agenda Car Free Day, dan melibatkan BKOW Riau bersama **40 organisasi perempuan serta puluhan tokoh wanita dari berbagai latar belakang.
Apresiasi Sabam Tanjung sejalan dengan visi Ketua Umum BKOW Riau, Adrias Hariyanto, yang sebelumnya disampaikan dalam bincang interaktif bertajuk “Bersatu Dalam Gerak Zapin, Lestarikan Budaya Melayu” di RRI Pro1 Pekanbaru, Rabu (7/1/2026). Dalam kesempatan tersebut, Adrias menegaskan bahwa budaya bukan sekadar warisan masa lalu, melainkan napas kehidupan yang harus terus dihidupkan oleh generasi masa kini.
Menurut Adrias, Tari Zapin merupakan ruh budaya Melayu Riau yang sarat nilai religius, kesantunan, dan kebersamaan. Berangkat dari antusiasme kaum perempuan khususnya para ibu yang aktif menarikan zapin, BKOW Riau menggagas satu panggung besar sebagai simbol persatuan gerak dan semangat pelestarian budaya.
“Melihat semangat kaum ibu di Riau dalam menarikan zapin, hati kami tergerak untuk menyatukan langkah ini dalam satu panggung besar,” ungkap Adrias.
Pemilihan Zapin Bismillah sebagai tarian utama disebut mencerminkan karakter masyarakat Riau yang lekat dengan nilai keislaman. Sementara Kebaya Labuh Kekek dipilih sebagai busana utama karena mengandung filosofi mendalam tentang martabat, kesantunan, dan identitas perempuan Melayu.
“Kami ingin budaya Melayu tidak hilang ditelan zaman. Kebaya Labuh Kekek adalah simbol kecantikan yang santun, menutup aurat, tidak membentuk tubuh, dan sejalan dengan syariat Islam. Inilah jati diri perempuan Melayu,” tegas Adrias Hariyanto.
Sementara itu, Ketua Perempuan LAM Riau sekaligus Ketua Panitia, Dinawati, menjelaskan bahwa persiapan kegiatan telah dilakukan sejak Oktober 2025 melalui rapat pleno lintas organisasi. Latihan rutin digelar dua kali seminggu di Halaman Helipad Kediaman Gubernur Riau, melibatkan ratusan hingga ribuan peserta.
“Insyaallah, Minggu ini akan menjadi aksi puncak di sepanjang Jalan Gajah Mada Pekanbaru. Ini adalah ruang publik bagi perempuan Melayu untuk menampilkan budaya dengan penuh kebanggaan,” ujar Dinawati.
Tari Zapin dengan busana Kebaya Labuh Kekek ini memadukan gerak khas seperti Alif, Siku Keluang, dan Anak Ayam dalam harmoni yang indah bukan hanya memanjakan mata, tetapi juga menyampaikan pesan tentang adat, agama, dan kegembiraan kolektif.
Menutup pernyataannya, Sabam Tanjung menegaskan bahwa inisiatif BKOW Riau merupakan contoh nyata peran strategis perempuan dalam menjaga dan menghidupkan budaya lokal.
“Ketika budaya dihidupkan oleh perempuan, nilai-nilai itu akan diwariskan dengan kuat kepada generasi berikutnya. Inilah kekuatan sejati dari gerakan budaya,” pungkasnya.
Red”
