Baret Biru di Kepala, Garuda di Hati: Catatan Seorang Veteran Perdamaian”

0
6

_Oleh: *Komisaris Besar Polisi (Purn.) Dr.H.M.Zarkasih*

Dia bukan seorang jenderal. Dia hanya anak bangsa,anak seorang Veteran pejuang kemerdekaan yang sejak muda bersumpah untuk mengabdi pada Negeri. Sumpah itu dia ucapkan di depan Merah Putih dan lambang Garuda, dan dia coba jaga sampai hari ini, meski pundak sudah tidak lagi memikul 3 Melati di seragam miliknya .

Karier dia dimulai sebagai Bhayangkara Muda dengan berbagai tugas di Brimob, Reserse, Intelijen, unit IT sudah dialaminya. Sebagai seorang Kapolsek di daerah pedalaman yang sering mendengar keluh kesah pernasalahan warga sampai dpt membantu mereka, pernah juga sbg Kasat Intel di wilayah tsb, dia yang harus pandai membaca arah angin Ipoleksosbud di negeri ini sebelum badai permasalahan datang menghampiri negeri. Pangkat terakhir nya hanya sebagai Komisaris Besar Polisi. Tapi pangkat itu akan pudar dan selesai pada masanya. Yang dia bawa sampai mati adalah pengalaman hidup, ilmu dan pelajaran.

Empat Kali di Bawah Helm dan Baret Biru

Negara mempercayai dia setidaknya 4 (empat kali) bertugas sebagai Pasukan Pemeliharaan Perdamaian PBB. Orang menyebutnya Pasukan “baret biru”. Bagi nya, itu bukan sekadar baret atau topi. Itu adalah amanah dunia.

Dia pernah berdiri di ditanah Kamboja yg membara, di Slovenia Timur yg dingin membeku, di Kroasia, dan di Bosnia Herzegovina. Negeri-negeri yang baru saja keluar dari perang yg mengerikan. Disana dia lihat anak-anak yang tidak tahu apa itu sekolah karena sekolahnya sudah jadi puing, rumah tinggal yg sudah luluh lantak. Dia lihat ibu-ibu yang mencari suaminya di antara daftar orang hilang, dan kuburan massal.

Di tengah reruntuhan itulah dia belajar arti “damai”. Damai bukan berarti tidak ada senjata. Damai berarti ada keberanian untuk percaya lagi pada sesama manusia. Tugas kami sebagai polisi PBB sederhana: hadir, menengahi, melindungi. Kadang hanya dengan berdiri di tengah dua kelompok yang saling mengacungkan jari dan senjatanya, kami sudah mencegah satu nyawa melayang.

Dia pulang dengan satu keyakinan: bangsa Indonesia, dengan Bhineka Tunggal Ika, adalah guru bagi dunia tentang hidup berdampingan, toleransi dan cinta damai.

Saat Konflik Dekat dengan Rumah

Tugas perdamaian tidak hanya di luar negeri. Di tanah air, dia juga pernah ditugaskan ke daerah konflik: Timor Timur, Poso, Ambon, Aceh, Papua dsb. Api horizontal, bom, kekerasan dan kebencian yang dipelihara bertahun-tahun.

Yang dia bawa bukan hanya keahlian dari pelatihan Intelijen dan counter-terrorism di USA, UK, Italia, dan Australia, Jepang,Korsel dsb. Yang dia bawa adalah keyakinan agama nya: bahwa setiap nyawa yang diciptakan Tuhan tidak boleh dipandang sebelah mata, apapun agama dan sukunya.

Dia Pernah bertugas sebagai Atase Kepolisian di KBRI Amman, Yordania. Wilayah kerja nya mencakup Yordania, Palestina, Suriah, Lebanon, Irak, Iran. Setiap hari laporan masuk: ada bom, ada sandera, ada pengungsi, juga TKI/PMI yg penuh masalah di negeri para nabi itu dia belajar sabar dan penuh keikhlasan. Karena kalau utusan negara saja kehilangan ketenangan dan keberanian, bagaimana rakyat yang kami lindungi?

Mengabdi Setelah Pensiun

Pensiun dari Polri tidak berarti berhenti mengabdi , dia lanjutkan sebagai seorang Pengacara, juga masih tetap menggeluti olah raga beladiri karate dan pencak silat. Dia masih melatih dan menjadi Pelatih pembina Pramuka tingkat nasional. Dia pernah duduk sebagai juri Abang None Jakarta 2013-2014, menjaga budaya Betawi agar tidak tergerus zaman.

Kenapa? Karena menjaga negeri bukan hanya dengan senjata. Menjaga negeri juga dengan melatih anak muda punya disiplin, punya adab, punya cinta budaya dan nasionalisme yg tinggi.

Refleksi Seorang Veteran

Kini dia menyandang dua gelar: Purnawirawan Polri dan Veteran Perdamaian. Dua-duanya bukan untuk dibanggakan di pesta-pesta atau dilingkungan masyarakat, Dua-duanya adalah sebagai sarana pengingat.

Pengingat bahwa dia pernah dipercaya bangsa dan negara untuk menjaga, di dalam dan di luar negeri sebagai seorang Bhayangkara sejati.
Pengingat bahwa setiap langkah dia akan dimintai pertanggungjawaban, bukan hanya oleh atasan / pimpinan, tapi oleh Tuhan Yang Maha Esa/ Allah SWT.

Dia sering ditanya: “Pak, apa yang paling membekas dari semua tugas-tugas itu?”

Jawaban Dia selalu sama: Senyum anak anak dan wanita tua di kamp pengungsi Kamboja/ Bosnia yang diberi sepotong roti,permen dan cokelat oleh pasukan Garuda. Dan doa seorang ibu di Poso dan Aceh yang memeluk dia dan bilang, “Terima kasih, nak, sudah mau datang ke kampung kami.”

Itu lebih berharga dari bintang di pundak.

*Pesannya*
Kepada generasi muda: negeri ini tidak dibangun oleh orang yang pintar bicara saja. Negeri ini berdiri karena ada yang mau kotor-kotoran, ada yang mau pergi ke tempat berbahaya, ada yang mau diam-diam bekerja tanpa pamrih.

Dia sudah menjalankan bagian nya. Sekarang giliran kalian. Jagalah Indonesia dengan ilmu, dengan iman, dan dengan keberanian. Karena selama Garuda masih terbang, selama bendera Merah Putih masih berkibar, pengabdian tidak akan pernah pensiun dan pudar.

_“Bela negeri bukan hanya di medan perang. Bela negeri dimulai saat kita mendidik anak bangsa jadi manusia yang berkarakter mulia dan berguna.”_. *Suci dalam pikiran, perkataan dan perbuatan. Ikhlas bhakti bina bangsa, Ber budi bawa laksana*. (MZ).

Penulis: KBP(P) Dr.H.M.Zarkasih, SH.,MH.,MSi

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini