Penulis: lembagainvestigasinegarari

  • Seret Terduga Pelaku Penggelapan Uang UKW PWI ke Ranah Hukum

    Seret Terduga Pelaku Penggelapan Uang UKW PWI ke Ranah Hukum

    Jakarta – Sampai saat ini Pers masih sebagai kekuatan (pilar) keempat (fourth estate) dalam negara demokrasi, selain lembaga eksekutif, legislative dan yudikatif. Dalam era digital ini muncul pula kekuatan kelima dalam negara demokrasi yani media sosial.

    Pilar utama Pers dalam eksistensinya adalah wartawan (journalist). Karena itulah, siapa pun yang menjadi wartawan harus memenuhi kualifikasi yang bagus, seperti latar belakang pendidikan minimal S1, jujur dan berani. Sebuah perusahaan Pers yang berkualitas pasti diisi para wartawan yang berkualitas dan berintegritas.

    Wartawan dalam menjalankan kegiatan jurnalismenya penuh dengan tantangan dan rintangan. Salah satu cara untuk mencegah dan mengatasi masalah yang dihadapi adalah para wartawan dari berbagai media Pers membentuk organisasi. Organisasi yang dimaksud sebagai wadah untuk menyelesaikan masalah bersama termasuk sebagai wadah untuk advokasi setiap masalah yang terjadi atau dialami wartawan dalam konteks kerjanya sebagai journalist.

    Salah satu organisasi wartawan tertua di Indonesia adalah Persatuan Wartawan Indonesia (PWI). PWI saat ini, sedang disoroti setelah ramainya pemberitaan terkait dugaan penyelewengan dana Uji Kompetensi Wartawan (UKW) yang diduga dilakukan beberapa oknum pengurus PWI Pusat dari dana bantuan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) sebagai hibah dan/atau disalurkan melalui PWI.

    Membersihkan PWI dari masalah korupsi yang diduga dilakukan pengurus terasnya adalah tugas yang tidak mudah, tetapi harus dilakukan. Sejumlah langkah yang perlu diambil untuk itu adalah, pertama, pembentukan komite independen, perlu disusun dengan cermat. Komite ini harus terdiri dari individu-individu yang terpecaya dan independen, yang memiliki integritas tinggi dalam menghadapi kasus korupsi.

    Selain itu, komite ini perlu diberikan kebebasan penuh dalam melakukan penyelidikan, tanpa ada campur tangan dari pihak-pihak yang mungkin terlibat atau memiliki kepentingan tertentu.

    Transparansi juga harus dijunjung tinggi, dengan semua proses penyelidikan dan hasilnya dibuka untuk publik.

    Langkah kedua, mendesak pengurus teras PMI yang diduga terlibat untuk mengundurkan diri. Pengunduran diri para pengurus teras penting agar langkah hukum untuk mengusut dugaan penyelewenangan dana lebih mudah.

    Mengambil tindakan hukum atas dugaan penyelewengan uang organisasi, tidak hanya memberikan sinyal kuat tentang komitmen terhadap integritas organisasi, tetapi juga sebagai bentuk akuntabilitas terhadap tindakan korupsi.

    Kerja sama dengan otoritas hukum, sebagai langkah ketiga, juga sangat penting. PWI harus bekerja sama dengan pihak berwenang untuk memastikan bahwa proses hukum terhadap pelaku korupsi dilakukan dengan adil dan sesuai dengan hukum yang berlaku.

    Selain itu, kerja sama ini juga dapat membantu memperkuat citra PWI sebagai lembaga yang serius dalam menangani masalah korupsi dan berkomitmen untuk tidak mentolerirnya.

    Komite Independen harus segera melaporkan dugaan penyelewengan dana yang dimaksud ke polisi atau ke Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Kenapa harus ke KPK, karena uang tersebut berasal dari dana CSR BUMN.

    Terduga pelaku jelas dijerat dengan pasal penggelapan (predicate crime/pidana pokok) dan bisa di-juncto-kan ke Pasal Pencucian Uang (UU Tindak Pidana Pencucian Uang).

    Selanjutnya, dalam memulihkan citra dan kepercayaan publik terhadap PWI, organisasi ini perlu melakukan langkah-langkah komunikasi yang efektif.

    Menyampaikan informasi secara terbuka kepada publik tentang tindakan yang diambil untuk menangani kasus korupsi ini, serta komitmen jangka panjang untuk mencegahnya di masa depan, dapat membantu memperbaiki citra organisasi.

    Langkah terakhir namun tidak kalah penting adalah memperkuat tata kelola organisasi. PWI perlu melakukan evaluasi mendalam terhadap sistem dan prosedur internalnya, termasuk pengawasan dan kontrol keuangan, untuk mencegah terulangnya kasus korupsi di masa mendatang.

    Dengan melakukan perubahan yang diperlukan dalam tata kelola organisasi, PWI dapat memastikan bahwa integritas dan transparansi tetap menjadi nilai inti dalam menjalankan misinya.

    Dengan mengambil langkah-langkah ini secara serius dan berkomitmen untuk melakukan perubahan yang diperlukan, diharapkan PWI dapat pulih dari dampak korupsi dan kembali menjadi lembaga yang kuat dan dipercaya dalam mendukung profesi jurnalistik di Indonesia. (*)

    _Penulis adalah Advokat dan mantan redaktur Harian Umum Suara Pembaruan_

  • Memantau Situasi Guna Ciptakan Kondusifitas, Satgas Pamtas Yonif 726/Tml Laksanakan Patroli Keamanan Di Wilayah Perbatasan RI-PNG

    Memantau Situasi Guna Ciptakan Kondusifitas, Satgas Pamtas Yonif 726/Tml Laksanakan Patroli Keamanan Di Wilayah Perbatasan RI-PNG

    Merauke,- Aktifitas terjadwal yang dilakukan oleh Satgas Pamtas Yonif 726/Tml untuk memastikan kondusifitas wilayah guna memantau situasi di perbatasan RI-PNG dengan melaksanakan patroli keamanan wilayah, Minggu (14/04/2024).

    Dansatgas Letnan Kolonel Inf Anta Sihotang, S.Sos., M.Han. mengatakan, patroli keamanan ini dilakukan untuk meyakinkan sektor sepanjang wilayah perbatasan dalam kondisi aman, tidak terpengaruh perkembangan yang akhir-akhir ini terjadi di wilayah Papua serta sekaligus memantau situasi dan melaksanakan pembinaan teritorial guna meyakinkan masyarakat tidak ada yang terpengaruh atau terprovokasi dari isu-isu yang disebarkan oleh kelompok tertentu yang tidak bertanggung jawab.

    “Patroli keamanan tetap kita laksanakan walaupun saat ini masih dalam suasana libur lebaran, kita harus selalu siap dan sigap dalam menjaga dan mengamankan wilayah perbatasan agar tetap kondusif dan aman, sehingga masyarakat di melakukan aktifitasnya dengan lancar, ujar Serda Sukardi sebagai Dantim Patroli.

    Hingga saat ini, kondisi di wilayah Perbatasan RI-PNG sektor Kab. Merauke Prov. Papua Selatan masih sangat kondusif dan aman. Walaupun demikian Satgas Pamtas Yonif 726/Tml tetap akan terus meningkatkan kegiatan pengamanan serta Binter dalam rangka mendukung tugas pokok menjaga kedaulatan dan keutuhan wilayah NKRI di perbatasan RI-PNG.

    Authentifikasi : Penerangan Satgas Yonif 726/Tml

  • Dewan Kehormatan yang Nir Kehormatan

    Dewan Kehormatan yang Nir Kehormatan

    Pekanbaru – Dugaan korupsi dana hibah BUMN oleh pengurus Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) merebak cepat dan sontak menghebohkan jagad nusantara. Pemicu terkuaknya isu korupsi yang menerpa Hendri Ch Bangun dan kawan-kawannya itu adalah pemanggilan mereka oleh Dewan Kehormatan PWI untuk dimintai keterangan dan klarifikasi terkait kasus tersebut.

    Sejumlah wartawan serta-merta menghubungi saya meminta pernyataan sikap dan atau sekadar komentar atas kejadian tidak sedap bagi kalangan pers tanah air ini. Mungkin kawan-kawan media menilai saya cukup layak memberikan pandangan atas fenomena memalukan di dunia jurnalisme itu.

    Sebenarnya saya tidak ingin memberi statemen dan atau komentar apapun atas kasus tersebut. Saya tidak ingin dinilai aji mumpung oleh publik, bahwa saya ambil kesempatan menari di atas aroma busuk yang menimpa PWI, yang notabene acap kali menyepelehkan organisasi yang saya pimpin, Persatuan Pewarta Warga Indonesia a.k.a. PPWI.

    Namun ada hal menarik yang saya kira perlu dicermati, tidak hanya dalam kaitannya dengan kasus teranyar PWI korupsi dana hibah BUMN, tapi juga rentetan kasus-kasus lainnya yang melibatkan pengurus PWI selama ini. Eksistensi dan kiprah Dewan Kehormatan PWI semestinya wajib dipertanyakan oleh publik, oleh kita semua. Dalam konteks sebagai seorang warga masyarakat inilah saya hendak menuliskan pandangan pribadi terhadap Dewan Kehormatan PWI.

    Sebagaimana tercermin pada judul tulisan ini, saya menilai Dewan Kehormatan PWI nir kehormatan alias tidak mempunyai kehormatan sehingga tidak layak disebut sebagai Dewan Kehormatan. Mengapa? Secara singkat, jawabannya adalah karena begitu banyak perilaku orang-orang PWI, baik secara organisasi maupun individu, yang seharusnya diproses oleh Dewan Kehormatan PWI tapi terabaikan begitu saja.

    Pertanyaan sederhana dapat kita ajukan kepada Dewan Kehormatan PWI, Sasongko Tedjo dan kawan-kawannya: Apakah Anda tidak tahu bahwa begitu banyak pengurus dan anggota PWI yang sering nongkrong di depan pintu kantor-kantor dinas menunggu proyek di dinas tersebut? Apakah Dewan Kehormatan PWI menganggap perilaku anggota PWI semacam itu sebagai sesuatu yang terhormat bagi seorang wartawan? Jika pun tidak dapat proyek, mereka pada akhirnya berfungsi sebagai backing bagi pelaksana proyek dan orang dinas.

    Jika sudah demikian lelakunya, masih layakkah anggota dan pengurus PWI menjalankan tugas pokok dan fungsinya sebagai wartawan, sebagai watch dog terhadap pemerintahan dan kehidupan sosial kemasyarakatan? Bagaimana mungkin seorang wartawan bisa berpikir, bersikap, dan berjurnalis secara independen jika ia berada di linkaran proyek pemerintah?

    Ketika sebuah Dewan Kehormatan tidak paham dan atau tidak peduli, apalagi memproses, perilaku yang bertentangan dengan prinsip yang semestinya dipegang teguh namun dilanggar oleh anggota yang diawasinya, maka sesungguhnya dewan itu tidak memiliki kehormatan sama sekali. Kehormatan hakekatnya harus dibangun melalui upaya menegakkan perilaku terhormat orang-orang yang ada di dalam komunitas yang dibawahinya.

    Kasus korupsi yang menerpa pengurus PWI sesungguhnya bukan barang baru di PWI. Perilaku koruptif sudah berjalan berpuluh tahun dengan berbagai modus dan bentuk serta variannya. Korupsi bahkan hampir pasti menjadi budaya yang sudah mengakar di tubuh organisasi yang sering memberi cap ‘abal-abal’ kepada wartawan non anggota PWI. Korupsi dilakukan pengurus dan anggota PWI hampir merata dari tingkat pusat hingga di daerah-daerah.

    Beberapa pentolan PWI yang cukup idealis pernah mendirikan PWI Reformasi sebagai reaksi atas budaya korup yang mewabah di tubuh PWI. Tapi organisasi PWI Reformasi yang digawangi Narliswandi Piliang dan Kaka Suminta ini tidak bertahan lama karena sebagian besar pengurusnya hanya berganti casing, mental tetap wajah lama.

    Jika kita cermati dengan baik, dalam kasus dugaan korupsi 2,9 miliar dana hibah BUMN oleh pengurus PWI, sebenarnya Dewan Kehormatan PWI sudah harus mencegahnya sejak pertemuan Hendri Ch Bangun dan konco-konconya dengan Presiden Joko Widodo pada November 2023 lalu. Dalam pertemuan tersebut PWI tanpa malu mengemis bantuan dana kepada Presiden berkedok UKW illegal besutan Dewan Pers yang tuna UU Pers. Dengan lugunya, Joko Widodo memenuhi permintaan itu melalui bantuan hibah BUMN kepada organisasi pers pecundang ini.

    Joko Widodo tentu saja tak bisa disalahkan sepenuhnya karena pasti dia tidak paham UU Pers. Jika pun akan dimintai pertanggungjawaban, maka yang harus bertanggung jawab adalah para stafnya, seperti Menkominfo, Mensesneg, dan Menteri BUMN.

    Wartawan sesungguhnya merupakan kalangan yang rentan terhadap perilaku korupsi. Artinya, wartawan sangat mudah untuk diajak bekerja sama mengambil uang rakyat untuk kepentingan pribadi dan kelompoknya.

    Sebagai sosok yang setiap saat menyajikan berita, wartawan hampir pasti berangan-angan menikmati hidup hedon ala artis, politisi, pengusaha, pejabat, dan penjahat kakap yang diberitakannya. Jika seorang wartawan tidak memiliki kehormatan yang dibangun di atas moralitas yang baik, maka dia pasti mudah terjerembab menjadi koruptor.

    Untuk menjaga agar perilaku wartawan tetap pada jalur moralitas yang baik, maka dirumuskan dan ditetapkanlah aturan berperilaku dalam bentuk kode etik wartawan, kode etik jurnalis, kode etik pewarta dan semacamnya. Dewan Kehormatan dibentuk untuk mengawasi pelaksanaan kode etik tadi.

    Kembali ke kasus dugaan korupsi dana hibah BUMN oleh pengurus PWI yang diendus dan dibocorkan oleh Dewan Kehormatan PWI, saran saya adalah agar Dewan itu segera melaporkan dugaan korupsi dimaksud kepada Presiden. Dalam laporan tersebut sertakan permohonan maaf kepada Presiden Joko Widodo bahwa kebijakannya memberikan uang kepada wartawan adalah sebuah kesalahan besar di akhir masa jabatannya. Presiden telah melakukan sesuatu yang terkategorikan sebagai suap dan atau gratifikasi kepada wartawan PWI.

    Hanya dengan melakukan pelaporan kepada Presiden atas penyalahgunaan uang rakyat oleh sekelompok pengurus PWI hedon, disertai nasehat kepada Presiden Joko Widodo atas kesalahannya, Dewan Kehormatan PWI dapat kembali membangun kehormatannya. Jika tidak, sebaiknya Anda membubarkan diri segera, sebab si kata ‘Kehormatan’ tidak sudi digunakan oleh mereka yang tidak memiliki kehormatan. Sekian, semoga tidak ada wartawan yang berlebaran tahun ini dengan uang hasil korupsi. (*)

    Pekanbaru, 8 April 2024

    _Penulis adalah lulusan pasca sarjana bidang Applied Ethics Universitas Utrecht, Belanda, dan Universitas Linkoping, Swedia._

  • Patroli Sar Buser Kab.Semarang sisir kawasan Rawa Pening.

    Patroli Sar Buser Kab.Semarang sisir kawasan Rawa Pening.

    Tuntang, 14 April 2024, giat rutin gabungan dalam rangka antisiapsi dan pelayanan kerawanan masyarakat selama libur lebaran, Relawan Sar Buser dan BPBD Kabupaten semarang melaksanakan patroli di lokasi wisata seputaran danau  rawa pening.

    Kegiatan sosial yang melibatkan sekitar 40an anggota relawan Sar Buser serta BPBD kab.semarang tersebut difokuskan untuk mengantisipasi kerawanan tempat wisata serta jalur mudik yang melewati wilayah kab, semarang.
    Dari pantauan awak media diseputaran  wisata Kuliner warung apung dan jembatan biru,semurup,kecamatan bawen didapati pengunjung sangat ramai bahkan parkiran kendaraan tidak tertampung.

    Wisata kuliner apung maupun perahu wisata bahkan para pejalan kaki yang berada disepanjang jalur rel kereta api yang berada di bantaran danau rawa pening tersebut tentu sangat rawan,sehingga  beberapa relawan Sar Buser di standby kan dilokasi tersebut sebagai bentuk antisipasi.

    Dilain tempat bagaimana di ketahui wilayah kabupaten semarang adalah merupakan arus pertemuan dari tiga ruas jalan utama dari arah magelang maupun dari arah solo yaitu pertigaan bawen sehingga mengakibatkan kendaraan padat merayap.

    Dalam rangka antisipasi sebagaimana di tuturkan oleh koordinator Sar Buser, relawan dan BPBD siap sedia memberikan pelayan demi kelancaran arus balik maupun pengunjung wisata di wilayah, Danau rawa pening maupun kabupaten semarang.

    Tim Biro Semarang
    Jarod Lin.ri

  • Paguyuban Waroeng Lengkong Sambung Silaturahmi dengan Halal Bi Halal Lebaran Idul Fitri 2024

    Paguyuban Waroeng Lengkong Sambung Silaturahmi dengan Halal Bi Halal Lebaran Idul Fitri 2024

    Tangerang Selatan, – Memasuki hari ke 4 Idul Fitri 1445 Hijriah, Hj. Lista Hurustiati SH.,MH selaku Owner Gerai & Waroeng Lengkong sekaligus Penasehat Forum Wartawan Jaya Indonesia (FWJI) Tangerang Selatan serta Ketua Fasilitasi CSR Kota Tangerang Selatan mengadakan kegiatan Halal Bi Halal di Waroeng Lengkong, Jl. SKKI, Pondok Jagung, Kecamatan Serpong Utara, Minggu (14/04/2024) siang.

    “Mari sama-sama kita panjatkan puji syukur kehadirat Allah Subhanahu Wa Ta’ala, dalam kesempatan ini kita bisa bersama-sama saling bersilaturahmi serta bermaaf-maafan. Taqoballahu minna waminkum taqobbal ya karim, mohon maaf lahir dan bathin” ujar Lista kepada para tamu yang hadir dalam sambutannya.

    Dalam acara halal bi halal ini, Wareong Lengkong yang memiliki tagline “Maju Bersama Gerai Lengkong, Karena Kita Keluarga” telah menyediakan menu khusus lebaran diantaranya ketupat, tupat sayur, opor ayam, sambelan kentang, semur tahu telor, bakso, aneka snack dan puding kelapa.

    Lebih lanjut, salah satu komunitas yang tergabung dalam paguyuban Waroeng Lengkong, yakni Sukirno perwakilan dari Komunitas Salam Indonesia diberikan kesempatan menaiki panggung untuk memberi sambutan, “Kami dari salam sehat indonesia dengan visi menuju bangsa sehat, lansia mandiri dan mandiri. Sangat banyak mendapat informasi yang positif dari sini, semoga waroeng lengkong semakin sukses, maju dan jaya. Kami ucapkan terima kasih, minal aidzin wal faidzin mohon maaf lahir dan bathin” ujarnya di atas panggung (14/04)

    Diketahui, Paguyuban dalam Waroeng Lengkong memiliki sekitar 755 anggota yang tergabung dari Pelaku UMKM, Tokoh Masyarakat, Budayawan dan Berbagai Komunitas.

    Turut hadir dalam acara diantaranya Uten Sutendy (Budayawan), Teddi Meiyadi (Tokoh Masyarakat), Susi Karanawati Pengusaha (CSR), Perwakilan Polres Tangsel dan beberapa komunitas terkait. Selain itu, turut hadir juga Walikota Tangerang Selatan Drs. Benyamin Davnie memberi kata sambutan.

    “Alhamdulillah kita bisa bertemu dan bersilaturahmi dalam keadaan sehat walafiat. Saya relatif mengikuti waroeng lengkong dari nol hingga saat ini berkembang. Saya sangat bergembira waroeng lengkong telah menemukan jari dirinya, yaitu membantu masyarakat tangerang selatan dalam membangun ekonomi kreatif melalui paguyubannya. Teruslah berkembang” ungkapnya.

    Acara halal bi halal yang diselenggarakan di Waroeng Lengkong “Tempat Asik Buat Nongkrong” ini memiliki kesan tersendiri. Dalam pantauan awak media di lokasi, acara yang berlangsung hangat ini diakhiri dengan pembagian door prize, bingkisan kemudian dilanjutkan sesi foto bersama. (Red)

  • ANAK PANAH, Dimundurkan Untuk MELESAT KE DEPAN.

    ANAK PANAH, Dimundurkan Untuk MELESAT KE DEPAN.

    Pernahkah kamu mengalami suatu keadaan yang membuat hidupmu seperti ditarik mundur, jauh dari harapan?
    Pernahkah kamu melihat orang-orang yang dulunya berapi-api tiba-tiba seperti kehilangan semangat bahkan lenyap dari peredaran?
    Pernahkan kamu melihat atau bahkan merasakan bahwa orang-orang yang pernah kau lihat (atau bahkan dirimu sendiri) mengalami kemunduran itu, lalu tiba-tiba melesat cepat ke depan dan meraih banyak hasil?

    Kita seperti anak panah di tangan Allah..! Ada masa-masa anak panah itu melesat cepat terlepas dari busurnya menuju sasaran yang dimaksudkan
    Ada masanya anak-anak panah itu harus istirahat dalam kantong-Nya. Namun di saat yang diperlukan, anak panah itu akan dipasang dalam busur-Nya ditarik kebelakang.. Sejauh mungkin untuk mencapai suatu sasaran
    Semakin jauh tarikannya, semakin jauh pula jarak yang akan ditempuh. Semakin panjang rentang busur menarik ancang-ancang, makin cepat pula anak panah itu melesat

    Jadi…..
    Jika kau seperti dalam keadaan yang mundur, bersabarlah : Mungkin Allah tengah meletakkanmu di busur-Nya. Menarikmu jauh-jauh ke belakang, agar di saat kau dilepaskan, kau memiliki daya dorong yang kuat untuk mencapai sasaran. Dan jika kau melihat seorang teman seperti tengah mengalami kemunduran, jangan buru-buru menghakimi dengan mengatakan “Apinya telah padam” atau.. “Jangan-jangan dia ada dosa..”

    Jadilah teman yang baik, yang mendampingi di saat temanmu sedang “dimundurkan” karena dengan demikian kau ikut menjaganya agar tidak sampai putus asa dan terkulai

    Kamu, aku, dia, mereka, kita… adalah anak-anak panah ditangan Allah..!

    Hidup untuk mencapai suatu sasaran yang sudah ditetapkan

    Tetaplah semangat, tetaplah bersabar, tetaplah tekun dalam kebenaran, dan senantiasa ISTIQOMAH dan tetaplah berdoa memohon kepada Allah, niscaya Allah akan memberi lebih dari yg kita mohonkan… *Tetap Istiqomah,BJ*💐🙏

    Red”

  • Polsek Kota Agung Dibantu Warga Tangkap Pencuri Motor di Masjid Teba

    Polsek Kota Agung Dibantu Warga Tangkap Pencuri Motor di Masjid Teba

    Tanggamus – Dibantu warga, Polsek Kota Agung dan Tekab 308 Presisi Polres Tanggamus Tanggamus berhasil mengungkap kasus dengan menangkap tersangka pencurian sepeda motor di halaman parkir masjid Attobah Pekon Teba Kecamatan Kota Agung Timur, Kamis, 11 April 2024, pukul 13.30 WIB.

    Kapolsek Kota Agung, AKP Amsar, S.Sos mengatakan, tersangka yang berhasil ditangkap adalah NR alias Wan (23), warga Pekon Sanggi Unggak, Kecamatan Bandar Negeri Semuong, Kabupaten Tanggamus.

    “Penangkapan tersangka atas bantuan dan kejasama warga setelah pelaku mencuri sepeda motor Honda Beat warna merah putih dengan nomor polisi B 3989 CMU milik korban, Agus Riansyah (35) warga Pekon Teba,” kata AKP Amsar mewakili Kapolres Tanggamus AKBP Rinaldo Aser, S.H., S.I.K., M.Si., Sabtu 13 April 2024.

    Kapolsek mengungkapkan, penangkapan tersangka setelah pihaknya mendapatkan informasi mengenai kejadian tersebut yang diterima dari Junaidi selaku Kepala Pekon Teba, Kecamatan Kota Agung Timur, Kabupaten Tanggamus.

    Lalu, Unit Reskrim Polsek Kota Agung bersama Tekab 308 Polres Tanggamus dan Pers Pos Pam Kota Agung segera menuju TKP dan sampai di lokasi kejadian, tersangka NR berhasil diamankan di rumah kepala Pekon.

    “Setelah diamankan, pelaku dan barang bukti dibawa ke Polsek Kota Agung untuk proses hukum lebih lanjut,” ungkapnya.

    Kapolsek menjelaskan, kronologi kejadian bermula korban memarkirkan sepeda motornya di halaman Masjid Attobah dan pergi ke seberang jalan untuk membeli pulsa di kios/konter.

    Saat korban berada di kios, ia melihat tersangka bersama dua orang temannya, berhenti di halaman masjid dengan mengendarai sepeda motor Yamaha Nmax warna hitam dan salah satu dari pelaku langsung mengambil sepeda motor korban dengan menggunakan kunci leter T.

    Korban mencoba menghalangi pelaku, namun salah satu pelaku turun dari sepeda motor Yamaha Nmax dan mencoba melawan dengan mengeluarkan/mencabut senjata tajam jenis pisau garpu yang diselipkan di pinggangnya.

    “Warga sekitar yang melihat kejadian tersebut langsung mengamankan salah satu pelaku beserta sepeda motor korban di dekat jalan raya, kemudian melaporkan kejadian tersebut kepada pihak berwajib,” jelasnya.

    Atas kejadian itu, korban Agus Riansyah, juga telah melaporkan secara resmi ke Polsek Kota Agung sebab ia mengalami kerugian sebesar Rp12 juta kepada Polsek Kota Agung Polres Tanggamus.

    “Barang bukti yang diamankan meliputi sepeda motor Honda Beat warna merah putih dengan nomor polisi B 3989 CMU, STNK, kunci kontak, dan sebilah senjata tajam jenis pisau garpu bergagang kayu bersarung kulit warna kecoklatan,” ujarnya.

    AKP Amsar mengungkapkan, berdasarkan keterangan tersangka NR alias Wan bahwa ia beraksi bersama dua temannya, awalnya datang dari Bandar Negeri Semuong mencari sasaran ke arah Kota Agung.

    Ketika melihat sasaran di Masjid Attobah, Pekon Teba, mereka berpura-pura ke kamar kecil sambil melihat situasi, setelah dipastikan aman satu pelaku inisial A membobol motor korban.

    “Pelaku berperan melihat situasi, satu rekannya sebagai eksekutor dan satu rekannya stanby di motor,” ungkapnya.

    Kesempatan itu, Kapolsek mengucapkan terima kasih atas peran serta masyarakat dalam mendukung Kamtibmas hingga berhasil menangkap pelaku.

    “Terima kasih atas peran serta masyarakat pekon teba sehingga pelaku berhasil ditangkap,” ucapnya.

    Saat ini, tersangka dan barang bukti ditahan di Mapolsek Kota Agung Polres Tanggamus guna proses penyidikan lebih lanjut.

    “Atas perbuatannya, tersangka NR alias Wan dijerat pasal 363 KUHPidana, ancaman maksimal 7 tahun. Terhadap 2 rekannya ditetapkan DPO,” tandasnya.

    Sementara itu, menurut tersangka NR alias Wan bahwa ia telah tiga kali beraksi melakuan pencurian diantaranya 2 di Kecamatan Semaka, namun motor ditebus oleh korban dan ia mendapatkan bagian Rp200 ribu.

    “Udah 3 kali, di Semaka 2 kali. Cuma ditebus orangnya dan saya biasanya dikasih Rp200 ribu,” kata tersangka NR sebelum dijebloskan ke penjara. (*)

    Red”yus

  • One Way Arus Balik Resmi Dimulai, Pengemudi Diminta Jaga Toleransi di Jalan

    One Way Arus Balik Resmi Dimulai, Pengemudi Diminta Jaga Toleransi di Jalan

    Semarang | Kebijakan rekayasa lalu lintas berupa one way atau sistem satu arah di arus balik libur Lebaran 2024 telah dimulai. One way diterapkan dari Km 414 Gerbang Tol Kalikangkung hingga Km 72 Tol Cipali.

    Sejumlah pejabat hadir di Gerbang Tol Kalikangkung saat membuka one way. Para pejabat itu mulai Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi, Menko PMK Muhadjir Effendy, Menteri PUPR Basuki Hadimuljono, hingga Kakorlantas Polri Irjen Aan Suhanan, Kapolda Jateng Irjenpol Ahmad Luthfi serta sejumlah PJU Polda Jateng.

    “Hari ini sesuai dengan rakor yang dilaksanakan di Km 70, kita sepakati bahwa hari ini diberlakukan one way satu jalur,” kata Menteri Koordinator bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK) Muhadjir Effendy saat jumpa pers di GT Kalikangkung, Sabtu (3/4/2024) siang.

    Kakorlantas Polri Irjen Aan Suhanan dan Menhub Budi Karya secara resmi membuka one way tersebut. Dengan pengawalan petugas, kendaraan dari Tol Kalikangkung mulai berjalan mengarah ke arah Jakarta tanpa hambatan.

    Sebagai langkah persiapan, Polisi juga telah melakukan sterilisasi jalur tol dari barat ke timur sebelum one way arus balik dimulai.

    “Sterilisasi kendaraan itu dilakukan sejak pukul 13.00 WIB. One way kita laksanakan pada pukul 15.00 WIB start dari Kalikangkung,” terang Kakorlantas.

    Selain sistem one way, Korlantas juga akan menerapkan sistem contra flow hingga Km 47. Pembatasan kendaraan dengan sistem ganjil genap juga akan diberlakukan.

    Guna mengatur kecepatan kendaraan dalam batas aman saat contra flow, petugas juga akan melaksanakan patroli sepanjang jalur dengan interval 30 menit.

    “Pembatas dan water barier pemisah jalur juga akan diperbanyak untuk menjaga keamanan dan keselamatan kendaraan di jalur contra flow,” tambahnya.

    Dirinya menghimbau masyarakat untuk tidak berhenti di bahu jalan saat beristirahat, namun memanfaatkan rest area dan pos polisi yang tersebar di sepanjang jalur baik tol maupun arteri.

    Faktor kelelahan juga berpotensi meningkatkan potensi pemudik mudah temperamental di jalan. Untuk itu dirinya meminta agar sesama pengguna jalan untuk menjaga toleransi dan saling menghormati pemakai jalan lainnya.

    “Mudah-mudahan perjalanan ke barat bisa lancar, selamat sampai tujuan,” pungkasnya.

    Red”

  • SILENT WARRIOR: SUNYI DI DALAM KERAMAIAN”

    SILENT WARRIOR: SUNYI DI DALAM KERAMAIAN”

    Pernahkah Anda melihat orang-orang yang berjuang di dalam kediamam atau ketenangan dalam konteks kepentingan orang banyak, tanpa Anda tahu mereka itu siapa? Ya, mereka adalah para Silent Warrior. Silent Warrior adalah sebuah istilah yang merupakan gabungan antara kata “silent” (tenang/diam) dan “warrior” (pejuang/pendekar), yang secara bebas bisa diterjemahkan sebagai “pejuang dalam diam” atau orang yang bekerja untuk kepentingan orang banyak namun sosoknya tetap tersembunyi, nyaris tak ada yang mengenalnya.

    Silent Warrior memang unik. Mereka bagaikan bergelap-gelap di dalam terang, bersepi-sepi di dalam keramaian. Mereka berjuang melakukan tugasnya secara total, lalu pihak lain menikmati perjuangannya, tanpa pernah melihat siapa yang berjuang itu. Silent Warrior tak pernah berteriak mengklaim hasil pekerjaannya, mereka sudah cukup bahagia ketika pihak lain menerima dan menikmati apa yang dikerjakannya. Silent Warrior hampir tak pernah dipuji ketika berhasil, tetapi bersiap menerima sanksi atas segala bentuk kegagalan.
    Di sekeliling kita — sadar atau tidak — seringkali kita bertemu dengan para Silent Warrior tersebut. Tukang sapu jalanan, misalnya. Kita marah ketika jalanan dipenuhi oleh sampah, namun kita tak pernah tahu — apalagi memberikan apresiasi — kepada orang yang telah membuat jalanan menjadi bersih. Sebahagian kita menganggap biasa saja para pekerja kebersihan, seraya berucap dalam hati “toh mereka sudah dibayar untuk itu”. Atau contoh lain adalah tentang perjuangan para guru , tenaga medis, anggota TNI/Polri di daerah perbatasan atau terluar Indonesia. Mereka tercerabut dari sistem pergaulan sosial kota untuk hidup di tengah pegunungan atau sisi laut, yang sama sekali tidak menawarkan kemudahan atau hal-hal yang sifatnya modern. Mereka berjuang dengan segala keterbatasan, di mana terkadang nyawa pun harus mereka pertaruhkan. Kita yang sibuk di tengah keriuhan kota besar pastilah tak sempat membayangkan bagaimana perjuangan luar biasa para Silent Warrior itu.

    Silent Warrior ada di berbagai sisi kehidupan kita, pada berbagai profesi dan jenis perjuangan mereka. Mereka bukan hanya sosok yang berjuang lewat eksistensinya secara pribadi, tetapi juga ada yang berjuang dengan membawa nama kelompok, komunitas atau institusi. Penyebutan Silent Warrior pun bisa datang dari masyarakat, bisa pula diciptakan oleh orang-orang yang ada di dalamnya. Penyebutan Silent Warrior oleh masyarakat atau kalangan di luar diri mereka misalnya pernah dilakukan oleh Kapolri Jenderal Polisi Tito Karnavian di tahun 2019 lalu yang menyebut para anggota security atau satuan pengamanan (satpam) sebagai Silent Warrior. Sebuah penyebutan yang membawa rasa bangga di baliknya. Contoh penyebutan yang berasal dari diri mereka sendiri misalnya kita mengenal ada satuan Silent Warrior (SW) di Densus 88. SW Densus 88 yang karena tugasnya memang mengharuskan mereka berdiam-diam di dalam keriuhan, bergelap-gelap di dalam terang, sebab ada pola intelejen yang harus dilaksanakan.

    Lalu apakah seseorang yang sosoknya bisa disebut sebagai Silent Warrior itu akan surut jiwa kejuangannya lantaran merasa kurang diapresiasi eksistensi dirinya, sebab orang lebih melihat hasil perjuangannya? Tentu tidak. Meski secara manusiawi ada dari mereka yang merasa diperlakukan kurang fair oleh orang lain, oleh komunitasnya, atau oleh institusi di mana ia bertugas. Ada sebuah contoh kasus di mana seseorang yang telah berjuang selama puluhan tahun, mengukir prestasi pribadi dan institusinya, namun justru mendapatkan apresiasi yang minim. Apresiasi dimaksud tentu saja bukanlah uang atau materi, tetapi adalah bentuk-bentuk penghargaan lain yang bukan bersifat kebendaan.

    Contoh dimaksud adalah tentang seorang anggota Polri yang telah menorehkan prestasi, baik secara nasional mau pun internasional. Ia pernah bekerja di daerah terpencil di antara lebatnya hutan, lalu ikut membangun dan membesarkan salah satu satuan atau detasemen yang sangat disegani di dunia internasional, lalu juga bertugas di luar negeri dalam banyak jenis ragam penugasan, mulai dari menjadi bagian pasukan penjaga perdamaian PBB hingga bertugas pada kedutaan besar Republik Indonesia di beberapa negara. Ikut membina Pencak Silat Indonesia, juga melatih /membina di Gerakan Pramuka. Jika melihat catatan tersebut di atas, maka laiklah kita menganggap bahwa ia bukanlah pejuang biasa, ia layak disebut sebagai seorang pejuang istimewa secara kapasitas. Lalu hal apa yang ia anggap sebagai kurang fair dalam mengapresiasi perjuangan dan prestasinya?

    Sang polisi tersebut tidak berbicara tentang seberapa besar uang yang ia dapat, namun secara manusiawi yang tengah bicara tentang jenjang karir atau hirarki di dalam institusinya. Seperti diketahui, seorang anggota Polri jika akan menaiki karir atau hirarki yang lebih tinggi haruslah melalui proses pendidikan lanjutan yang pada setiap level kepangkatan atau jabatan berbeda satu sama lain. Nah, proses pendidikan itulah yang luput didapatkan oleh sang anggota Polri yang sedang kita bicarakan ini.

    Pola rekrutmen pengisi jabatan tertentu lewat proses pendidikan sebenarnya sudah baik secara sistem. Bukan hanya di institusi TNI/Polri, tetapi juga di institusi sipil. Namun sistem yang sudah baik itu dalam beberapa kasus kerap dirusak oleh insan-insan yang sarat dengan kepentingan yang sifatnya subyektif. Misalnya kedekatan secara personal atau — yang lebih menyedihkan — menggunakan uang sebagai kendaraan untuk masuk ke pintu pendidikan. Maka tak heran jika ada komentar yang nuansanya menyalahkan, seperti “kamu sih kurang pendekatan sama boss” atau “kenapa tidak berusaha kasih uang untuk melancarkan keinginanmu?” Karena itulah yang terjadi, maka sang anggota Polri itu harus dengan ikhlas merasakan dirinya seperti kurang dihargai, seraya ia menyaksikan orang-orang yang secara kapasitas dan kapabilitas berada di bawahnya sekarang justru memikiki karir di atas dirinya. Sebuah kegetiran yang mau tak mau harus ia kecap dan bawa sepanjang hidup. Pernah sekali ia berpikir untuk ikut ke dalam kecenderungan yang keliru itu, yaitu dengan memberikan upeti agar ia bisa menjalani pendidikan lanjutan, namun hati nuraninya menolak secara keras. Ia tak ingin menodai institusi yang sangat ia cintai dan kagumi.

    Maka hari ini para Silent Warrior tetaplah hadir di sekeliling kita, terlepas dari kita menyadari atau tidak keberadaan mereka. Mereka bekerja dalam senyap, mereka berada di ruang kecil yang sunyi, pada saat keramaian ada di sekitarnya. Mereka berjuang dan mengabdi untuk bangsa dan negara, di mana tidak setiap orang mau melakukan apa yang ia lakukan. Semua orang ingin menjadi pahlawan, ingin menjadi pendekar, tetapi hanya sedikit yang ikhlas namanya tak dikenal. Silent Warrior hanya memiliki satu keikhlasan yaitu berjuang untuk bangsa dan negara RI tercinta. *Muhamad Zarkasih/ Pengamat Sosbudkum*

  • Peduli Dengan Kesehatan Warga Binaan, Babinsa Koramil 1710-05/Jila Bersama Satgas Yonif 116 Laksanakan Pendampingan Pelayanan Kesehatan Puskesmas Jila

    Peduli Dengan Kesehatan Warga Binaan, Babinsa Koramil 1710-05/Jila Bersama Satgas Yonif 116 Laksanakan Pendampingan Pelayanan Kesehatan Puskesmas Jila

    Timika – Para Bintara pembina desa dari jajaran Kodim 1710/Mimika di tingkat Koramil kian intens melakukan komunikasi sosial dengan masyarakat di wilayah tugasnya. Seperti yang dilakukan oleh Babinsa Koramil 1710-05/Jila yang dipimpin oleh Sertu Lambertus secara intensif dan kali ini Babinsa bersama Satgas Yonif 116 mendampingi Puskesmas Jila untuk memberikan pengobatan kepada masyarakat, Sabtu (13/04/2024).

    Kegiatan tersebut dilaksanakan di Balai Kampung Jila, Distrik Jila, Kabupaten Jila dan pendampingan layanan kesehatan ini merupakan bentuk dukungan TNI untuk mewujudkan kesehatan di masyarakat.

    Dalam kesempatan ini, Babinsa tidak hanya mendampingi petugas kesehatan namun juga turut memberikan edukasi kepada masyarakat dengan cara membacakan buku edukasi kesehatan mengingat masih banyak masyarakat setempat yang tidak bisa membaca.

    Warga pun mengaku senang dan menyampaikan terima kasih kepada Babinsa yang senantiasa mendampingi masyarakat. Mereka pun senang karena selain mendapatkan pelayanan kesehatan juga mendapatkan pengetahuan baru melalui edukasi yang diberikan. (Pen Kodim 1710/Mimika)

    Red”